Minggu, 11 Oktober 2026
07:01 WIB
TERKINI
Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Hukum Polemik Dokumen Pencalonan Gibran: KPU Didesak Transparan Pasca Putusan MK Hiburan Syahrini Kembali Guncang Panggung Musik: Rilis Lagu Baru dan Gebrak Pestapora 2026 Regional LPS Periksa Aset Debitur BPR Tripanca Setiadana di Lampung untuk Pemulihan Regional Bandar Lampung Meriahkan Acara Bersholawat, Eratkan Persaudaraan Umat Lampung Pesisir Lampung Waspada Banjir Rob, BMKG Ingatkan Pasang Maksimum 12-15 Oktober Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Hukum Polemik Dokumen Pencalonan Gibran: KPU Didesak Transparan Pasca Putusan MK Hiburan Syahrini Kembali Guncang Panggung Musik: Rilis Lagu Baru dan Gebrak Pestapora 2026 Regional LPS Periksa Aset Debitur BPR Tripanca Setiadana di Lampung untuk Pemulihan Regional Bandar Lampung Meriahkan Acara Bersholawat, Eratkan Persaudaraan Umat Lampung Pesisir Lampung Waspada Banjir Rob, BMKG Ingatkan Pasang Maksimum 12-15 Oktober

Minyak serpih

Bagikan:
{{{nama}}}
[[Berkas:{{{gambar}}}|300px|]]
{{{teksgambar}}}
Mineral utama: {{{Mineral utama}}}
Mineral sekunder: {{{Mineral sekunder}}}
Jenis batuan: {{{Jenis batuan}}}

Minyak serpih, juga disebut Kerogen serpih, adalah batuan sedimen berbutir halus yang mengandung kerogen (campuran dari senyawa-senyawa kimia organik) yang merupakan sumber terbentuknya minyak serpih yang merupakan hidrokarbon cair ini ( berbeda dengan minyak bumi). Minyak serpih adalah pengganti minyak mentah konvensional, meskipun begitu, mengekstraksi minyak serpih lebih mahal dibandingkan dengan produksi minyak bumi konvensional baik dalam hal lingkungan maupun finansial. Endapan minyak serpih ada di seluruh dunia, termasuk endapan-endapan utama di Amerika serikat. Diperkirakan cadangan endapan global berkisar dari 4,8 hingga 5 triliun barel minyak di tempat.[1][2]

Minyak serpih yang memanas hingga memiliki temperatur yang cukup tinggi menyebabkan terjadinya proses kimia Pirolisis yang menghasilkan uap. Seiring mendinginnya uap, minyak serpih yang mendingin - Sebuah minyak nonkonvensional - dipisahkan dari gas nya yang mudah terbakar ( istilah gas serpih juga mengacu kepada gas ini). Minyak serpih juga bisa langsung dibakar di tungku sebagai sumber tingkat rendah untuk pembangkit listrik dan pemanas distrik atau digunakan sebagai material mentah dalam proses kimia dan memproses material-material konstruksi.[3]

Minyak serpih meraih perhatian sebagai potensi sumber minyak yang melimpah kapanpun ketika harga minyak mentah meningkat.[4][5] Di waktu yang sama, penambangan minyak serpih dan pemrosesan meningkatkan kekhawatiran akan dampak lingkungan, seperti pemanfaatan lahan, pengelolaan sampah, manajemen limbah air, emisi gas rumah kaca, dan polusi udara.[6][7] Estonia dan Tiongkok telah memiliki industri minyak serpih yang mapan, sedangkan Brazil, Jerman, dan Rusia juga memanfaatkan minyak mentah.[8]

Komposisi umum minyak serpih yakni matriks anorganik, bitumen, dan kerogen. Minyak serpih berbeda dengan bantalan-minyak serpih, endapan serpih yang mengandung minyak tight oil yang biasa diproduksi dari sumur bor.

Kegunaan

Minyak serpih memiliki berbagai kegunaan yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Misalnya pada zaman dahulu minyak serpih dapat digunakan sebagai batu dekoratif, dan bahkan di Yunani dan Romawi pada zaman dahulu menggunakan minyak serpih dalam mosaik. Ada juga di beberapa negara lain yang memanfaatkan minyak tersebut untuk keperluan medis maupun militer. Seperti misalnya, orang-orang Mongol yang menggunakan minyak serpih pada panah mereka dan kemudian dibakar.[9][10][11]

Referensi

  1. ↑ Dyni (2010), pp. 101–102
  2. ↑ IEA (2010), p. 165
  3. ↑ Dyni, John R. (2006). "Geology and resources of some world oil shale deposits. Scientific Investigations Report 2005–5294" (PDF). United States Department of the Interior, United States Geological Survey. Diakses tanggal 9 Juli 2007.{{cite journal}}: Kutipan journal memerlukan |journal=Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. ↑ Energy Security of Estonia (PDF) (Laporan). Estonian Foreign Policy Institute. September 2006. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 8 Januari 2012. Diakses tanggal 20 Oktober 2007.{{cite report}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. ↑ "Oil Shale and Other Unconventional Fuels Activities". United States Department of Energy. Diakses tanggal 9 Februari 2014.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. ↑
  7. ↑
  8. ↑ Dyni (2010), pp. 103–122
  9. ↑ "Oil Shale and Tar Sands Information Center". web.archive.org. 2008-03-14. Diarsipkan dari versi asli pada 2008-03-14. Diakses tanggal 2020-01-21.
  10. ↑ "National Oil Shale Association". National Oil Shale Association (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2020-01-21.
  11. ↑ "History of oil shale - Enefit.jo". www.enefit.jo. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-10-31. Diakses tanggal 2020-02-24.

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan