Jumat, 09 Oktober 2026
02:46 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya

Metode D'Hondt

Bagikan:
Bagian Seri politik
Sistem pemilihan
Ballot box
20px-A_coloured_voting_box.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail PortalPolitik

Metode D'Hondt atau metode Jefferson adalah metode rata-rata tertinggi yang digunakan untuk menentukan pembagian kursi di parlemen. Di Amerika Serikat, metode ini dinamai dari Thomas Jefferson yang memperkenalkan metode ini untuk pembagian kursi di Dewan Perwakilan Amerika Serikat pada tahun 1791. Sementara itu, di Eropa, metode ini digagas oleh matematikawan Belgia Victor D'Hondt pada tahun 1878.

Metode ini dirancang untuk memastikan agar pembagian kursi dapat dilakukan seproporsional mungkin.[1] Bila dibandingkan dengan metode Sainte-Laguë, metode ini cenderung menguntungkan partai-partai besar.[2][3][4][5]

Wilayah-wilayah yang menggunakan sistem ini adalah Albania, Argentina, Armenia, Austria, Belgia, Bulgaria, Kamboja, Cape Verde, Chile, Colombia, Kroasia, Republik Ceko, Denmark, Republik Dominika, Timor Leste, Ekuador, Estonia, Fiji, Finlandia, Guatemala, Hungaria, Islandia, Israel, Jepang, Kosovo, Luksemburg, Makedonia, Moldova, Montenegro, Belanda, Irlandia Utara, Paraguay, Peru, Polandia, Portugal, Rumania, Skotlandia, Serbia, Slovenia, Spanyol, Turki, Uruguay dan Wales.

Pembagian kursi

Setelah semua suara sah telah dihitung, kuotien setiap partai dihitung dengan menggunakan rumus ini:[6][1]

quot = V s + 1 {\displaystyle {\text{quot}}={\frac {V}{s+1}}} {\displaystyle {\text{quot}}={\frac {V}{s+1}}}
  • V adalah jumlah suara yang diperoleh partai, dan
  • s adalah jumlah kursi yang telah diberikan kepada suatu partai, awalnya 0 untuk semua partai

Maka jumlah suara yang diperoleh setiap partai akan dibagi dengan angka satu, kemudian dua, lalu tiga, dan seterusnya hingga mencapai jumlah kursi yang diperebutkan di suatu daerah pilihan. Sebagai contoh, bayangkan terdapat empat partai yang memperebutkan delapan kursi di daerah pilihan Kota Bebek. Berikut adalah metode pembagiannya:

Denominator12345678Kursi yang
dimenangkan (*)
Proporsi sesungguhnya
(sebagai perbandingan)
Partai A100.000*50.000*33.333*25.000*20.00016.66614.28612.500 4 3,4
Partai B80.000*40.000*26.666*20.00016.00013.33311.42810.000 3 2,8
Partai C30.000*15.00010,0007.5006.0005.0004.2863.750 1 1,1
Partai D20.00010.0006.6665.0004.0003.3332.8572.500 0 0,7

Catatan kaki

  1. 1 2 Gallagher, Michael (1991). "Proportionality, disproportionality and electoral systems" (PDF). Electoral Studies. 10 (1). doi:10.1016/0261-3794(91)90004-C. Diarsipkan dari asli (pdf) tanggal November 16, 2013. Diakses tanggal 30 Januari 2016.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ Pukelsheim, Friedrich (2007). "Seat bias formulas in proportional representation systems" (PDF). 4th ECPR General Conference. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 7 Februari 2009.{{cite conference}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ Schuster, Karsten; Pukelsheim, Friedrich; Drton, Mathias; Draper, Norman R. (2003). "Seat biases of apportionment methods for proportional representation" (pdf). Electoral Studies. 22 (4). doi:10.1016/S0261-3794(02)00027-6.
  4. ↑ Benoit, Kenneth (2000). "Which Electoral Formula Is the Most Proportional? A New Look with New Evidence" (pdf). Political Analysis. 8 (4): 381–388. doi:10.1093/oxfordjournals.pan.a029822.
  5. ↑ Lijphart, Arend (1990). "The Political Consequences of Electoral Laws, 1945-85". The American Political Science Review. 84 (2): 481–496. doi:10.2307/1963530.
  6. ↑ Lijphart, Arend (2003), "Degrees of proportionality of proportional representation formulas", dalam Grofman, Bernard; Lijphart, Arend (ed.), Electoral Laws and Their Political Consequences, Agathon series on representation, vol. 1, Algora Publishing, hlm. 170–179, ISBN 9780875862675. See in particular the section "Sainte-Lague", pp. 174–175.

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan