Selasa, 20 Oktober 2026
16:26 WIB
TERKINI
Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari

Metode D'Hondt

Bagikan:
Bagian Seri politik
Sistem pemilihan
Ballot box
icon PortalPolitik

Metode D'Hondt atau metode Jefferson adalah metode rata-rata tertinggi yang digunakan untuk menentukan pembagian kursi di parlemen. Di Amerika Serikat, metode ini dinamai dari Thomas Jefferson yang memperkenalkan metode ini untuk pembagian kursi di Dewan Perwakilan Amerika Serikat pada tahun 1791. Sementara itu, di Eropa, metode ini digagas oleh matematikawan Belgia Victor D'Hondt pada tahun 1878.

Metode ini dirancang untuk memastikan agar pembagian kursi dapat dilakukan seproporsional mungkin.[1] Bila dibandingkan dengan metode Sainte-Laguë, metode ini cenderung menguntungkan partai-partai besar.[2][3][4][5]

Wilayah-wilayah yang menggunakan sistem ini adalah Albania, Argentina, Armenia, Austria, Belgia, Bulgaria, Kamboja, Cape Verde, Chile, Colombia, Kroasia, Republik Ceko, Denmark, Republik Dominika, Timor Leste, Ekuador, Estonia, Fiji, Finlandia, Guatemala, Hungaria, Islandia, Israel, Jepang, Kosovo, Luksemburg, Makedonia, Moldova, Montenegro, Belanda, Irlandia Utara, Paraguay, Peru, Polandia, Portugal, Rumania, Skotlandia, Serbia, Slovenia, Spanyol, Turki, Uruguay dan Wales.

Pembagian kursi

Setelah semua suara sah telah dihitung, kuotien setiap partai dihitung dengan menggunakan rumus ini:[6][1]

quot = V s + 1 {\displaystyle {\text{quot}}={\frac {V}{s+1}}} {\displaystyle {\text{quot}}={\frac {V}{s+1}}}
  • V adalah jumlah suara yang diperoleh partai, dan
  • s adalah jumlah kursi yang telah diberikan kepada suatu partai, awalnya 0 untuk semua partai

Maka jumlah suara yang diperoleh setiap partai akan dibagi dengan angka satu, kemudian dua, lalu tiga, dan seterusnya hingga mencapai jumlah kursi yang diperebutkan di suatu daerah pilihan. Sebagai contoh, bayangkan terdapat empat partai yang memperebutkan delapan kursi di daerah pilihan Kota Bebek. Berikut adalah metode pembagiannya:

Denominator12345678Kursi yang
dimenangkan (*)
Proporsi sesungguhnya
(sebagai perbandingan)
Partai A100.000*50.000*33.333*25.000*20.00016.66614.28612.500 4 3,4
Partai B80.000*40.000*26.666*20.00016.00013.33311.42810.000 3 2,8
Partai C30.000*15.00010,0007.5006.0005.0004.2863.750 1 1,1
Partai D20.00010.0006.6665.0004.0003.3332.8572.500 0 0,7

Catatan kaki

  1. 1 2 Gallagher, Michael (1991). "Proportionality, disproportionality and electoral systems" (PDF). Electoral Studies. 10 (1). doi:10.1016/0261-3794(91)90004-C. Diarsipkan dari asli (pdf) tanggal November 16, 2013. Diakses tanggal 30 Januari 2016.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ Pukelsheim, Friedrich (2007). "Seat bias formulas in proportional representation systems" (PDF). 4th ECPR General Conference. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 7 Februari 2009.{{cite conference}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ Schuster, Karsten; Pukelsheim, Friedrich; Drton, Mathias; Draper, Norman R. (2003). "Seat biases of apportionment methods for proportional representation" (pdf). Electoral Studies. 22 (4). doi:10.1016/S0261-3794(02)00027-6.
  4. ↑ Benoit, Kenneth (2000). "Which Electoral Formula Is the Most Proportional? A New Look with New Evidence" (pdf). Political Analysis. 8 (4): 381–388. doi:10.1093/oxfordjournals.pan.a029822.
  5. ↑ Lijphart, Arend (1990). "The Political Consequences of Electoral Laws, 1945-85". The American Political Science Review. 84 (2): 481–496. doi:10.2307/1963530.
  6. ↑ Lijphart, Arend (2003), "Degrees of proportionality of proportional representation formulas", dalam Grofman, Bernard; Lijphart, Arend (ed.), Electoral Laws and Their Political Consequences, Agathon series on representation, vol. 1, Algora Publishing, hlm. 170–179, ISBN 9780875862675. See in particular the section "Sainte-Lague", pp. 174–175.

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan