Mercusuar Cimiring, ca 1910–1940. | |
| Lokasi | Pulau Nusakambangan, Kelurahan Tambakreja, Kecamatan Cilacap Selatan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Indonesia |
|---|---|
| Dibangun | 1870 |
| Konstruksi | Menara batu melingkar |
| Tinggi | 32 m (105 ft 0 in) |
| Penanda | Menara batu putih melingkar dengan lentera biru dan galeri |
| Pencahayaan | |
| Dinyalakan pertama kali | 1870 |
| Tinggi fokus | Elevasi 175 mdpl |
Mercusuar Cimiring adalah sebuah mercusuar bersejarah yang terletak di bukit karang tepi ujung timur Pulau Nusakambangan, Kecamatan Cilacap Selatan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Indonesia. Menara suar setinggi 32 meter ini didirikan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda pada tahun 1870.[1]
Selain bertindak sebagai pemandu lalu lintas navigasi maritim untuk kapal-kapal yang keluar-masuk Pelabuhan Tanjung Intan di Selat Segara Anakan, objek vital ini juga memegang peranan penting dalam pemetaan geografis nasional karena difungsikan sebagai titik tugu triangulasi primer dengan nomor seri P 364.[2]
Sejarah
Pembangunan Mercusuar Cimiring pada tahun 1870 merupakan bagian dari proyek strategis pemerintah Hindia Belanda untuk mengamankan jalur pelayaran selatan Pulau Jawa, khususnya akses maritim menuju Kota Cilacap yang menjadi salah satu gerbang ekonomi logistik utama.[1] Wilayah sekitar pantai timur Nusakambangan memiliki topografi perairan dengan ombak laut lepas Samudra Hindia yang cukup berbahaya, sehingga keberadaan menara suar melingkar berwarna putih dengan kubah lentera biru ini sangat krusial guna menuntun kapal dagang terhindar dari karang terjal.[3]
Pembangunan komplek mercusuar ini dirancang terintegrasi dengan jaringan sistem pertahanan militer pesisir pantai selatan. Di sekeliling bukit karang tempat mercusuar bertumpu, militer Belanda membangun sejumlah benteng pertahanan tepi laut pendukung (seperti Benteng Karangbolong dan Benteng Klingker) lengkap dengan instalasi enam unit meriam besar guna menangkal ancaman armada laut asing yang berniat merangsek masuk ke pedalaman Jawa.[1][3]
Dalam lembar sejarah Revolusi Nasional Indonesia, kawasan sekitar mercusuar ini pernah menjadi medan pertempuran laut sengit pada Juli 1947 ketika pasukan Tentara Republik Indonesia (TRI) melepaskan perlawanan bersenjata guna menghalau gerak maju kapal perang Belanda yang hendak memblokade wilayah perairan Cilacap pada masa Agresi Militer Belanda I.[1]
Aksesibilitas dan pariwisata
Meskipun berada di dalam kawasan konservasi Pulau Nusakambangan yang diawasi ketat oleh Kemenkumham RI, kawasan pariwisata sejarah Mercusuar Cimiring dan pantai sekitarnya dapat dikunjungi oleh wisatawan melalui izin tertentu.[4]
Untuk menuju lokasi, pengunjung harus menyewa perahu nelayan komersial dari Pantai Teluk Penyu menuju Pantai Cimiring.[4] Dari dok pendaratan kapal, rute dilanjutkan dengan melakukan treking berjalan kaki sejauh beberapa kilometer mendaki perbukitan karang di tengah rimbunnya hutan rimba liar alami Nusakambangan yang masih dihuni satwa dilindungi seperti macan tutul jawa.[5] Dari puncak menara suar ini, wisatawan disuguhkan lanskap panorama lanskap Samudra Hindia secara lepas dan area pantai karang putih yang eksotis.[5]
Lihat juga
Referensi
- 1 2 3 4 "Mercusuar Cimiring Cilacap: Sejarah, Daya Tarik, dan Lokasi". Jogjasuper. 2025-06-12. Diakses tanggal 2026-09-11.
- ↑ "Cimiring Lighthouse Details and Features". Google Maps. 2026-02-14. Diakses tanggal 2026-09-11.
- 1 2 Sitam, Nasirullah (2017-05-20). "Benteng Klingker dan Pantai Karang Tengah Nusakambangan". Nasirullah Sitam Blog. Diakses tanggal 2026-09-11.
- 1 2 Sitam, Nasirullah (2019-02-10). "Mercusuar Cimiring dan Pantai Karang Bandung Nusakambangan". Nasirullah Sitam Blog. Diakses tanggal 2026-09-11.
- 1 2 "Jejak Penjaga Laut Bersejarah di Nusakambangan". Instagram (@relasi_sindysyakir). 2026-05-12. Diakses tanggal 2026-09-11.
Daftar pustaka
- Disporapar Cilacap (2026). Dokumen Inventarisasi Destinasi Heritage Pesisir Selatan. Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Cilacap.
- Sutasman, Thomas (2025). Menolak Lupa: Kronik Perang Kemerdekaan di Tjilatjap. Cilacap History Forum.