Minggu, 04 Oktober 2026
19:30 WIB
TERKINI
Lampung Musim Hujan Lampung 2026/2027: BMKG Prediksi Puncak Januari, Awalnya Mundur Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 4 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan Ringan Hukum Pakar Hukum Unila: Objektivitas Fakta Krusial dalam Kasus Diksar Mahepel Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Lampung Musim Hujan Lampung 2026/2027: BMKG Prediksi Puncak Januari, Awalnya Mundur Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 4 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan Ringan Hukum Pakar Hukum Unila: Objektivitas Fakta Krusial dalam Kasus Diksar Mahepel Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya
Megalit Simawang

Megalit Simawang

situs arkeologi di Tanah Datar, Sumatra Barat, Indonesia

Bagikan:
250px-Megalit_Simawang.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Situs Megalit Simawang

Situs Megalit Simawang adalah bangunan zaman megalit yang berada di Nagari Simawang, Kecamatan Rambatan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Situs ini adalah kompleks pemakaman kuno yang diperkirakan muncul pada masa Islam sekitar abad ke XVIII. Wujud fisiknya berupa susunan batu-batu besar berjenis andesit dan berdiri di puncak bukit. Bagian kepala menhir lebih besar dari bagian kaki. Bangunan menhir ini juga tidak menghadap ke gunung atau dataran tinggi seperti menhir umumnya di kawasan Sumatera Barat. Menhir sendiri adalah penanda yang biasanya dikaitkan dengan penguburan, dan merupakan warisan zaman prasejarah.[1]

Ada dua jenis batu nisan menhir pada situs ini:

  1. Tipe Tanah Datar, dengan pahatan agak kasar
  2. Tipe batu tanpa pengerjaan

Pada setiap makam terdapat satu atau dua batu nisan yang tanda arahnya menunjuk ke selatan. Pada tahun 2010 situs ini ditetapkan sebagai situs cagar budaya dalam peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.05/PW.007/MKP/2010 Tahun 2010.[2]

Lihat pula

Rujukan

  1. ↑ bpcbsumbar (2016-09-09). "Situs Cagar Budaya Megalit Simawang". Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2019-03-03.
  2. ↑ "Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.05/PW.007/MKP/2010 – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan" (PDF). Diakses tanggal 2019-03-03.
Ikon rintisan

Artikel bertopik sejarah Indonesia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan