Jumat, 25 September 2026
23:42 WIB
TERKINI
Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG Account KG Media ID: Satu Akun untuk Kemudahan Akses Seluruh Layanan Digital Ekonomi Dan Bisnis Harga Buyback Emas Antam Anjlok Rp20 Ribu per Gram pada 25 September 2026 Lampung DPRD Lampung Tengah Soroti Perubahan Substansi Perda SOTK Tanpa Pemberitahuan Teknologi Meta Rilis Muse Charm: Gadget Saku Cerdas dengan Asisten AI Revolusioner Berita KAI Siap Gerakkan Rail Clinic ke Pelosok, Perluas Akses Kesehatan Masyarakat Bandar Lampung Inovasi Pendidikan Lampung: Guru Ahli Mengajar Lintas Sekolah Tingkatkan Mutu Nasional Bandar Lampung Tragedi Kelengkeng di Lampung Tengah: Siswa 9 Tahun Meninggal, Program MBG Dievaluasi Account KG Media ID: Satu Akun untuk Seluruh Ekosistem Digital Kompas Gramedia Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG Account KG Media ID: Satu Akun untuk Kemudahan Akses Seluruh Layanan Digital Ekonomi Dan Bisnis Harga Buyback Emas Antam Anjlok Rp20 Ribu per Gram pada 25 September 2026 Lampung DPRD Lampung Tengah Soroti Perubahan Substansi Perda SOTK Tanpa Pemberitahuan Teknologi Meta Rilis Muse Charm: Gadget Saku Cerdas dengan Asisten AI Revolusioner Berita KAI Siap Gerakkan Rail Clinic ke Pelosok, Perluas Akses Kesehatan Masyarakat Bandar Lampung Inovasi Pendidikan Lampung: Guru Ahli Mengajar Lintas Sekolah Tingkatkan Mutu Nasional Bandar Lampung Tragedi Kelengkeng di Lampung Tengah: Siswa 9 Tahun Meninggal, Program MBG Dievaluasi Account KG Media ID: Satu Akun untuk Seluruh Ekosistem Digital Kompas Gramedia

Max Timisela

Ini adalah nama Maluku, Ambon, marganya adalah Timisela
Max Timisela
Tanggal lahir 7 Juni 1944 (umur 82)
Tempat lahir Kota Bandung, Jawa Barat,
Karier senior*
Tahun Tim Tampil (Gol)
1962-1979 Persib Bandung
Tim nasional
1963-1970 Indonesia
* Penampilan dan gol di klub senior hanya dihitung dari liga domestik

Max Timisela (lahir 7 Juni 1944) adalah pemain sepak bola Indonesia dari Persib Bandung yang terkenal pada tahun 1960-an.[1] Ia berposisi sebagai penyerang. Dia pernah mengantarkan Persib ke tangga juara pada era Perserikatan serta pernah memperkuat tim nasional sepak bola Indonesia tahun 1963 sampai 1970.

Profil

Awal karier

Karier bola Maxi diawali di Bandung, tepatnya di Cimahi. Saat duduk di bangku SMP PGRI Cimahi tahun 50-an, ia masuk ke klub UNI mengikuti kakak-kakaknya. Di klub peninggalan Belanda inilah bakat Max tergosok dengan maksimal. Dari sanalah pintu karier di Persib mulai terkuak. Maklum, saat itu nama UNI tengah harum-harumnya.

Akhirnya Maxi berkesempatan membela Persib pada tahun 1962. Namun seperti kebanyakan pemain muda lainnya, ia harus menghangatkan bangku cadangan dulu sebelum dipercaya mengisi posisi 11 pemain inti. Maxi pun melakukannya tanpa banyak protes. Akhirnya, setelah 3 tahun menyaksikan pertandingan dari bangku cadangan, Maxi terpilih menjadi salah satu pemain inti Persib.

Karier di tim nasional sepak bola Indonesia

Bakat dan ketajaman Maxi mencetak gol membuat dirinya terpanggil membela timnas Indonesia-yang kala itu masih bernama PSSI, pada tahun 1963. Era sepak bola Maxi adalah yang terbaik setelah era Ramang. Nama besar Indonesia masih bergaung di seantero jagat sepak bola. Bahkan pada tahun 1965, Maxi bersama tim PSSI berkesempatan menjajal kemampuan di luar negeri dengan melakukan tur keliling Eropa, menyinggahi beberapa negara sepak bola antara lain Belanda, Jerman Barat, Bulgaria dan Yugoslavia.

Maxi menunjukkan kecanggihan olah bola serta naluri mencetak gol yang superior selama tur tersebut. Bahkan dirinya ditaksir untuk bermain di salah satu klub terkuat Eropa kala itu, SV Werder Bremen, yang dilatih pelatih legendaris asal jerman, Uwe Seeler. Bremen yang kala menjadi juara Bundesliga dan beberapa kompetisi tingkat Eropa, hanya berhasil menang tipis 6-5 melawan timnas Indonesia. Maxi mencetak dua gol pada laga tersebut, sedangkan 3 lainnya merupakan hattrick tandemnya, Soetjipto Soentoro.

Uwe Seeler yang terkesan dengan kemampuan Maxi dan Soetjipto, tanpa basa basi mengajak mereka berdua untuk tinggal di Jerman dan bergabung memperkuat klub tersebut. Namun akhirnya ‘transfer’ ini batal. Presiden Indonesia kala itu, Sukarno, mengatakan bahwa kemampuan mereka berdua masih dibutuhkan timnas PSSI. Maxi menerima keputusan tersebut dengan legowo. Apalah artinya pindah dan bermain di klub elite Eropa dibanding harus menanggalkan baju Garuda? Begitu katanya.

Maxi menjadi langganan tim nasional hingga tahun 1966. Ia berturut-turut tampil di kejuaraan Aga Khan Cup, King’s Cup, dan Merdeka Games. Selama bermain, Maxi dikenal sebagai pebola dengan bakat alami. Gaya permainannya bak pemain berdarah latin. Kecil, gesit, lincah, dan alot mengolah bola. Kemampuan liukan tubuhnya menggocek bola bahkan kini dibandingkan oleh beberapa orang dengan Lionel Messi.

Akhir karier

Namun karier Maxi sebagai pebola tidak begitu panjang. Pada tahun 1970, cahayanya mulai pudar. Maxi adalah satu dari segelintir pemain bola Indonesia yang selama kariernya hanya bermain untuk satu klub. Ia memulai karier di Persib pada tahun 1962, dan gantung sepatu dari Persib dan sepak bola pada tahun 1979. Namanya pun kini sejajar dengan legenda Persib lainnya seperti Daman Suryatman, Vence Sumendap dan R.E Soehendar.

Setelah pensiun, Max Timisela pernah menjadi asisten pelatih dalam rentang waktu tahun 1986–1990. Prestasi yang dia dapat ketika menjadi asisten pelatih ialah saat dia menjadi asisten pelatih dari Nandar Iskandar, ketika itu PERSIB berhasil meraih juara di Kompetisi Perserikatan 1986. Diarsipkan 2020-08-09 di Wayback Machine. [1]

Kini Maxi hidup sederhana dan mencari nafkah dengan menjadi tukang dokumentasi Persib Bandung. Dirinya memang tak bisa dilepaskan dari klub berjuluk Pendekar Biru tersebut. Sesaat setelah pensiun, Max juga pernah menjabat sebagai pemandu bakat untuk Persib.

Maxi mengaku hidup untuk sepak bola. Meskipun amat sederhana, tetapi ia mengaku puas dan bangga, karena pernah tampil membela Indonesia di tingkat nasional. Kita harapkan dedikasi tanpa pamrih para legenda seperti Max Timisela dapat menginspirasi generasi garuda muda untuk terus membela bangsa!

Pranala luar

Rujukan

  1. ↑ "2014 FIFA World Cup Brazil: Indonesia". FIFA. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-09-24. Diakses tanggal 31 Desember 2012.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)

Templat:Kuartet Tercepat Asia Dari Indonesia Era 60an

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan