Minggu, 27 September 2026
16:00 WIB
TERKINI
Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Edukasi Moreno Sidharta: Otodidak Raih Medali Emas Olimpiade Matematika Internasional Bola Mantan Bintang Spanyol Dorong Haaland ke Barcelona: Cocok Gaya Main Flick Lampung Maulid Arbain Lampung Sembilan Tahun: Penguatan Akhlak dan SDM Jadi Prioritas Humaniora Ribuan Warga Hadiri Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026: Perkuat Akhlak dan Anti Narkoba Cuaca Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung: Way Kanan Paling Banyak Disorot Bandar Lampung BMKG Ungkap Penyebab Kemarau Panjang di Lampung: El Nino Kuat dan Hujan Lokal Bandar Lampung Mantan Gubernur Lampung Disidang Korupsi PI 10 Persen, Begini Respons Uniknya Account Satu Akun, Berbagai Akses: Kemudahan Login Terpadu KG Media ID Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Edukasi Moreno Sidharta: Otodidak Raih Medali Emas Olimpiade Matematika Internasional Bola Mantan Bintang Spanyol Dorong Haaland ke Barcelona: Cocok Gaya Main Flick Lampung Maulid Arbain Lampung Sembilan Tahun: Penguatan Akhlak dan SDM Jadi Prioritas Humaniora Ribuan Warga Hadiri Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026: Perkuat Akhlak dan Anti Narkoba Cuaca Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung: Way Kanan Paling Banyak Disorot Bandar Lampung BMKG Ungkap Penyebab Kemarau Panjang di Lampung: El Nino Kuat dan Hujan Lokal Bandar Lampung Mantan Gubernur Lampung Disidang Korupsi PI 10 Persen, Begini Respons Uniknya Account Satu Akun, Berbagai Akses: Kemudahan Login Terpadu KG Media ID Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda
Mausolos

Mausolos

satrap Karia, Kekaisaran Akhemeniyah

Mausolos
Probable portrait of Mausolus.
Patung Mausolos di Museum Pushkin, Moskow.
Satrap Karia
Menjabat377–353 SM
PendahuluHekatomnos
PenggantiArtemisia II
LahirKaria, Kekaisaran Akhemeniyah
(kini bagian Turki)
Meninggal353 SM
Halikarnasos, Karia, Kekaisaran Akhemeniyah
(kini Bodrum, Muğla, Turki)
Pemakaman
AyahHekatomnos
PermaisuriArtemisia II
WangsaHekatomnides
AgamaPoliteisme Yunani

Mausolos (bahasa Yunani Kuno:Μαύσωλος atau Μαύσσωλλος; diserap dari bahasa Karia:[𐊪𐊠]𐊲𐊸𐊫𐊦, translit. Mauśoλ, har. 'banyak diberkati')[1][2] adalah seorang satrap Karia (377–353 SM) berupa di Kekaisaran Akhemeniyah. Dia menikmati status raja setempat dan pemimpin wangsa berdasarkan jabatan kuat yang diciptakan oleh ayahnya bernama Hekatomnos (bahasa Karia:𐊴𐊭𐊪𐊳𐊫 K̂tmño), yang menggantikan satrap bersuku Persia bernama Tissafernes yang terbunuh di kesatrapan Karia dan mendirikan wangsa keturunan Hekatomnides. Dia terkenal karena kuil besar sekaligus tempat pemakamannya yang namanya kemudian menjadi kata untuk merujuk ke pemakaman yang besar untuk satu orang, disebut "mausoleum".[3]

Kehidupan

330px-SATRAPS_of_CARIA._Maussolos._Circa_377-6-353-2_BC.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Koin Mausolos sebagai satrap Karia yang menjadi bagian dari Kekaisaran Akhemeniyah. Kepala Apollo berhadapan, Zeus Labrandos berdiri, dan tulisan memuat MAYΣΣΩΛΛO ("MAUSSOLLO"). Dicetak sekitar tahun 376–353 SM.[4]

Mausolos merupakan putra sulung dari Hekatomnos, seorang penduduk Karia asli yang menjadi satrap di tempat tersebut ketika Tissafernes wafat, sekitar tahun 395 SM. Mausolos ikut serta dalam Pemberontakan Satrap, baik di pihak Artahsasta II yang berdaulat terbatas dan juga sempat melawannya (hanya sebentar). Pada tahun 366 SM, Mausolos bersama Autofradates dari Lidia, atas permintaan Artahsasta, memimpin pengepungan Adramition melawan Ariobarzanes, salah satu anggota Pemberontakan Satrap, hingga Agesilaos, seorang raja Sparta merundingkan mundurnya para pengepung.[5]

Mausolos menaklukkan sebagian besar Likia pada sekitar tahun 360 SM, mengakhiri garis wangsa yang memerintah di sana. Dia juga menyerang Ionia dan pulau-pulau Yunani di Laut Aegea; serta bekerja sama dengan penduduk Rodos dalam Perang Sosial melawan Kota Athena. Dia memindahkan ibu kotanya dari Milasa, tempat kediaman kuno raja-raja Karia, ke Halikarnasos. Mausolos memeluk budaya Helenistik. Sebuah prasasti yang ditemukan d Milas, merinci hukuman terhadap beberapa komplotan yang telah mencoba membunuh Mausolos saat pesta di sebuah kuil di Labraunda pada tahun 353 SM.[6]

Pengaruh

330px-Mausoleum_of_Halicarnassus_2004.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Reruntuhan dan sisa Mausoleum Mausolos.
Artikel utama: Mausoleum dan Mausoleum Mausolos

Hingga kini, Mausolos terkenal karena kuil sekaligus pemakaman besarnya, yang didirikan dan diberi nama untuknya atas perintah jandanya, yaitu Artemisia. Antipatros dari Sidon mendaftarkan pemakaman besarnya sebagai Tujuh Keajaiban Dunia Kuno. Dua arsitek bernama Satyros and Pytheos, dan pematung Skopas dari Paros, Leokhares, Bryaksis, dan Timotheos, menyelesaikan pekerjaan setelah wafatnya Artemisia, konon beberapa dari mereka bekerja murni untuk kemasyhuran. Situs dan beberapa sisa peninggalan masih dapat dilihat di kota Bodrum, Turki. Berasal dari namanya, istilah "mausoleum" telah digunakan secara umum untuk setiap makam besar yang umumnya hanya untuk satu orang.[7]

Referensi

Catatan kaki

  1. ↑ Lajara, Ignacio-Javier Adiego (2007). The Carian Language (dalam bahasa Inggris). BRILL. hlm. 330. ISBN 978-90-04-15281-6.
  2. ↑ Melchert, H. Craig. "Naming Practices in Second- and First-Millennium Western Anatolia" (PDF).
  3. ↑ "Μαύσσωλλος". www.perseus.tufts.edu. Diakses tanggal 26 November 2022.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. ↑ CNG: SATRAPS of CARIA. Maussolos. Circa 377/6–353/2 BC. AR Tetradrachm (23mm, 15.13 g, 12h). Halikarnassos mint. Struck circa 370–360 BC.
  5. ↑ Gershevitch 1985, p. 378.
  6. ↑ CIG. Philipp August Böckh. hlm. ii 2691 c.
  7. ↑ Sears, Matthew A. (2014). "Alexander and Ada Reconsidered". Classical Philology. 109 (3): 213. doi:10.1086/676285. ISSN 0009-837X. Hecatomnus had several children, all of whom would rule at some point following his death. After his eldest son Mausolus, his other children were Artemisia, Idrieus, Ada, and Pixodarus. The children of Hecatomnus practiced monogamous sibling marriage, with Mausolus marrying Artemisia and Idrieus marrying Ada.

Daftar pustaka

Pranala luar

Wikimedia Commons memiliki media mengenai Mausolus.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan