Selasa, 03 November 2026
03:49 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare
Mauremys mutica

Mauremys mutica

Bagikan:
Mauremys mutica
250px-Mauremys_mutica_kami_Stuffed_specimen.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Spesimen taksidermi Mauremys mutica kami, dipamerkan di Museum Nasional Alam dan Sains, Tokyo, Jepang
CITES Apendiks II (CITES)[2]
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Reptilia
Ordo: Testudines
Subordo: Cryptodira
Superfamili: Testudinoidea
Famili: Geoemydidae
Genus: Mauremys
Spesies:
M. mutica
Nama binomial
Mauremys mutica
(Cantor, 1842)
Sinonim[3]
Mauremys mutica mutica
  • Emys muticus Cantor, 1842
  • Emys mutica Gray, 1844
  • Clemmys mutica Boettger, 1888
  • Damonia mutica Boulenger, 1889
  • Clemmys schmackeri Boettger, 1894
  • Geoclemys mutica Siebenrock, 1909
  • Cathaiemys mutica Lindholm, 1931
  • Annamemys grochovskiae Tien, 1957
  • Annamemys groeliovskiae Battersby, 1960 (ex errore)
  • Mauremys mutica McDowell, 1964
  • Mauremys muica Zhou & Zhou, 1991 (ex errore)
  • Mauremys grochovskiae Iverson & McCord, 1994
  • Mauremys mutica mutica Yasukawa, Ota & Iverson, 1996
  • Cathaiemys mutica mutica Vetter, 2006
Mauremys mutica kami
  • Mauremys mutica kami Yasukawa, Ota & Iverson, 1996
  • Mauremys mutica karni Ferri, 2002 (ex errore)
  • Cathaiemys mutica kami Vetter, 2006

Kura-kura kolam kuning (Mauremys mutica) merupakan kura-kura berukuran sedang (hingga 19,5 cm) yang bersifat semiakuatik dan termasuk dalam famili Geoemydidae. Spesies ini memiliki ciri khas berupa garis kuning lebar yang memanjang dari belakang mata hingga ke leher; karapasnya berwarna cokelat keabu-abuan hingga cokelat, sedangkan plastronnya berwarna kuning atau oranye dengan bercak hitam di sepanjang tepi luarnya. Spesies ini berasal dari Asia Timur, dengan sebaran mulai dari Vietnam tengah dan Laos hingga ke utara melalui provinsi-provinsi pesisir di Tiongkok bagian selatan dan tengah, serta populasi pulau yang diketahui terdapat di Taiwan, Hainan, dan Kepulauan Ryukyu.[1] Meskipun populasi di bagian selatan Ryukyu diduga merupakan populasi asli, populasi di wilayah utara dan tengah Ryukyu, serta di Jepang tengah, diyakini telah diperkenalkan akibat impor dari Taiwan.[4]

Spesies ini mendiami kolam, sungai kecil, rawa, paya, dan berbagai badan air dangkal yang mengalir lambat. Ia bersifat omnivor, memakan serangga, ikan, berudu, serta bahan tumbuhan seperti daun dan biji-bijian. Kura-kura kolam kuning umumnya tetap berada di dalam atau dekat air pada siang hari, tetapi dapat menjadi lebih aktif pada malam hari dan ketika cuaca hujan, di mana ia terkadang keluar ke daratan.[4]

Satu subspesies, M. m. kami, saat ini dikenali di Kepulauan Ryukyu bagian selatan.[4] Kajian menunjukkan adanya keragaman genetik yang tidak terduga pada M. mutica, yang menimbulkan kemungkinan adanya subspesies baru. Bukti adanya hibridisasi luas turut menyulitkan upaya memahami genetika spesies ini dan spesies lain yang berkaitan.[5] Beberapa kura-kura kolam asia hasil hibrida yang pernah digambarkan sebagai spesies baru ternyata merupakan hasil persilangan. Kura-kura kolam fuji (Mauremys iversoni) ialah hibrid yang terutama dihasilkan di penangkaran kura-kura di Tiongkok, biasanya dari persilangan antara induk betina kura-kura kolam kuning dan induk jantan kura-kura syiling emas (Cuora trifasciata). Kura-kura yang disebut sebagai Mauremys pritchardi merupakan hibrid liar dan hasil pembiakan antara spesies ini dengan kura-kura kolam tiongkok (Chinemys reevesi).[6][7]

“Clemmys guangxiensis” merupakan takson gabungan yang dijelaskan berdasarkan spesimen M. mutica dan hibrid alami “Mauremys × iversoni”.[7]

Kura-kura kolam kuning kini terancam punah. Tiongkok merupakan konsumen kura-kura terbesar di dunia, dan perdagangan ini disebut sebagai ancaman terbesar terhadap kura-kura asia, termasuk M. mutica. Sebahagian besar perdagangan kura-kura ditujukan untuk konsumsi manusia, tetapi pengobatan tradisional[8] serta sebagai hewan peliharaan turut mendorong permintaan terhadap kura-kura ini.[9][10][11] Kehilangan habitat dan pencemaran air menjadi ancaman tambahan. IUCN mengkategorikan M. mutica sebagai spesies yang sangat terancam punah, dan spesies ini tercantum dalam Lampiran II CITES.[1]

Referensi

  1. 1 2 3 Fong, J.; Hoang, H.; Li, P.; McCormack, T.; Rao, D.-Q.; Wang, L. (2021). "Mauremys mutica". IUCN Red List of Threatened Species (dalam bahasa Inggris). 2021 e.T39613A2930788. doi:10.2305/IUCN.UK.2021-2.RLTS.T39613A2930788.en. Diakses tanggal 17 November 2021.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ "Appendices | CITES". cites.org. Diakses tanggal 2022-01-14.
  3. ↑ Fritz Uwe; Peter Havaš (2007). "Checklist of Chelonians of the World" (PDF). Vertebrate Zoology. 57 (2): 231–232. doi:10.3897/vz.57.e30895. ISSN 1864-5755. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2011-05-01. Diakses tanggal 29 Mei 2012.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. 1 2 3 Yasukawa, Ota & Iverson (1996).
  5. ↑ Fong et al. (2007).
  6. ↑ Feldman & Parham (2004).
  7. 1 2 Parham et al. (2001).
  8. ↑ Rômulo, Washington & Gindomar (2008).
  9. ↑ Cheung & Dudgeon (2006).
  10. ↑ Gong et al. (2009).
  11. ↑ Shi & Parham (2000).

Bibliografi

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan