Rabu, 28 Oktober 2026
19:15 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Massachusetts v. Environmental Protection Agency

Bagikan:
Massachusetts v. Environmental Protection Agency
120px-Seal_of_the_United_States_Supreme_Court.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Disidangkan pada November 29, 2006
Diputus pada April 2, 2007
Nama lengkap kasusMassachusetts, et al., Petitioners v. Environmental Protection Agency, et al.
Docket nos.05-1120
Kutipan549 U.S. 497 (lanjut)
127 S. Ct. 1438, 167 L. Ed. 2d 248
Versi sebelumnya415 F.3d 50, 367 U.S. App. D.C. 282 (D.C. Cir. 2005); pendengaran kembali ditolak, 433 F.3d 66, 369 U.S. App. D.C. 56 (D.C. Cir. 2005); certiorari diberikan, 549 U.S. 1029, 127 S.Ct. 617, 166 L.Ed.2d 427 (2006)
Versi selanjutnya249 Fed. Appx. 829 (D.C. Cir. 2007)
Amar putusan
Gas rumah kaca adalah polutan udara, dan United States Environmental Protection Agency boleh meregulasi emisinya
Hakim yang memutus
Hakim Ketua
John G. Roberts
Pendapat
MayoritasStevens, bersama Kennedy, Souter, Ginsburg, Breyer
MenolakRoberts, bersama Scalia, Thomas, Alito
MenolakScalia, bersama Roberts, Thomas, Alito
Dasar hukum
Konst. A.S. art. III; Undang-Undang Udara Bersih

Massachusetts v. Environmental Protection Agency, 549 U.S. 497 (2007),[1] adalah sebuah kasus Mahkamah Agung A.S. dengan keputusan 5-4 ketika dua belas negara bagian dan beberapa kota di Amerika Serikat menuntut Environmental Protection Agency (EPA) untuk memaksa lembaga pemerintahan ini meregulasi karbon dioksida dan gas rumah kaca (GRK) lainnya sebagai polutan.

Lihat pula

Bacaan lanjutan

Catatan kaki

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan