Senin, 28 September 2026
10:37 WIB
TERKINI
Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto Hukum Sorotan Tajam: Hunian Mewah di Area Asimilasi Lapas Cibinong Jadi Perdebatan Kolom Mahkamah Konstitusi Kubur Ambang Batas Pilpres, Desakan Tak Menghidupkan Kembali Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Edukasi Moreno Sidharta: Otodidak Raih Medali Emas Olimpiade Matematika Internasional Bola Mantan Bintang Spanyol Dorong Haaland ke Barcelona: Cocok Gaya Main Flick Lampung Maulid Arbain Lampung Sembilan Tahun: Penguatan Akhlak dan SDM Jadi Prioritas Humaniora Ribuan Warga Hadiri Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026: Perkuat Akhlak dan Anti Narkoba Cuaca Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung: Way Kanan Paling Banyak Disorot Bandar Lampung BMKG Ungkap Penyebab Kemarau Panjang di Lampung: El Nino Kuat dan Hujan Lokal Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto Hukum Sorotan Tajam: Hunian Mewah di Area Asimilasi Lapas Cibinong Jadi Perdebatan Kolom Mahkamah Konstitusi Kubur Ambang Batas Pilpres, Desakan Tak Menghidupkan Kembali Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Edukasi Moreno Sidharta: Otodidak Raih Medali Emas Olimpiade Matematika Internasional Bola Mantan Bintang Spanyol Dorong Haaland ke Barcelona: Cocok Gaya Main Flick Lampung Maulid Arbain Lampung Sembilan Tahun: Penguatan Akhlak dan SDM Jadi Prioritas Humaniora Ribuan Warga Hadiri Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026: Perkuat Akhlak dan Anti Narkoba Cuaca Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung: Way Kanan Paling Banyak Disorot Bandar Lampung BMKG Ungkap Penyebab Kemarau Panjang di Lampung: El Nino Kuat dan Hujan Lokal
Suku Marind

Suku Marind

kelompok etnik pribumi di Papua Selatan

Marind
Marind-Anim
330px-Marind-Anim_men_dressed_for_ceremony%2C_south_coast_Dutch_New_Guinea.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pria Marind-Anim mengenakan pakaian untuk upacara, pantai selatan Belanda Nugini. ca 1920-an.
Jumlah populasi
37.558 (2010)[1]
Daerah dengan populasi signifikan
 Indonesia (Papua Selatan)
Bahasa
Keluarga Marind dalam filum Trans-Nugini dari bahasa Papua, bahasa Indonesia
Agama
Kekristenan (sebagian besar), kepercayaan masyarakat adat, dan Islam[2]
Kelompok etnik terkait
Masyarakat adat Papua di Papua dan Papua Nugini, serta masyarakat Melanesia lainnya

Malind Anim (alias Marind-Anim atau Malind Anim) merupakan suatu kelompok etnis atau suku bangsa yang berasal dari wilayah Papua Selatan, Indonesia. Suku bangsa Malind Anim adalah suku bangsa terbesar di Papua bagian selatan. Suku bangsa ini tersebar mulai dari Kondo sampai sungai Digoel.[3]

Wilayah Kondo berbatasan langsung dengan wilayah negara Papua Nugini, yaitu berada di dekat sungai Fly, sedangkan sungai Digoel adalah batas akhir persebaran suku bangsa Malind Anim. Sungai Digoel adalah sungai terbesar di Papua Selatan yang menjadi batas wilayah antara suku bangsa Malind Anim dengan suku-suku lainnya seperti Awyu, Muyu, Mandobo, dan Korowai.[3]

Pengertian Malind Anim

Kata Malind berasal dari kata ALLAH WI yang mana ALLAH WI adalah bapa itu sendiri dalam kepercayaan suku bangsa Malind Anim. Mali (nama asli dari suku bangsa Malind).[butuh rujukan]

Kebiasaan hidup

Kebiasan hidup Suku Bangsa Malind Anim adalah meramu, dengan cara hidup mengumpulkan makanan dari hutan. Suku Bangsa Malind Anim suka berburu hewan hewan endemik seperti Rusa, kangguru/ walabi. Suku bangsa Malind anim Hidup selain beburu mereka juga suka bertani. Suku bangsa Malind Anim memiliki budaya bertani sejak dulu yang disebut dengan istilah Wambad. Wambad yaitu membuat bedeng yang tinggi sehingga pada saat penanaman, tanaman tidak terendam oleh banjir

Geografis

250px-Marind_languages.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sebuah peta yang menunjukkan kelompok bahasa Papua. Daerah berbahasa Marind disorot dalam warna merah.

Suku bangsa Malind-Anim hidup di bawah sungai Digul, barat pulau Yos Sudarso, melewati sungai Malogh di bagian bawahnya, yang termasuk Merauke[4] bagian timur kali Fly dan Torasi.

Hari ini suku bangsa Malind-Anim masuk dalam provinsi Papua selatan, setelah dimekarkan dari Provinsi Papua. Secara geografis suku bangsa Malind Anim persebaranya tidak hanya di dalam wilayah negara Indonesia, tetapi sampai ke negara tetangga yakni Papua Nugini, yaitu sejak kali Fly sampai ke wilayah suku Kiwai.

Budaya

250px-Papua_ceremonial_Dema_drum%2C_Marind-Anim_people.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kandara, alat musik sejenis tifa Suku Marind untuk tradisi Dema. Terbuat dari kayu Kaula (Gempol) dan kulit rusa.
250px-WLANL_-_Pachango_-_Tropenmuseum_-_Dema-vitrine.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tradisi Marind-Anim, tifa dan kostum Dema.

Pada masa lalu, para orang-orang Marind terkenal karena berburu kepala.[5] Hal ini berakar pada sistem kepercayaan mereka dan terkait dengan pemberian nama bayi yang baru lahir.[6] Tengkorak itu diyakini mengandung seperti kekuatan prestise.[7] Berburu kepala tidak termotivasi terutama oleh kanibalisme, tetapi daging orang yang sudah tewas itu dikonsumsi.[8]

Kata seperti leluhur, roh, makhluk adalah dema dalam bahasa Marind. Kesamaan dari kata tersebut yang merujuk ke "setan" adalah bersifat insidental. Setiap keluarga terus menurunkan tradisi ini, itu terutama tugas dari orang-orang besar di keluarga masing-masing. Pengaruh-orang besar tidak berarti melampaui keluarga besar mereka.[9]

Masyarakat Malind-Anim mempunyai kebiasaan membuat minuman tradisional dari tanaman kava, yang dalam bahasa setempat disebut wati.[10]

Sub-suku

Beberapa suku yang termasuk sub-suku Marind-Anim adalah Bian-Marind, Kanum, Yab (Maklew-Yelmek), Marori, dan Yey.[11]

Referensi

Catatan kaki

  1. ↑ Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Indonesia Hasil Sensus Penduduk 2010. Badan Pusat Statistik. 2011. ISBN 9789790644175.
  2. ↑ Alawi, Abdullah (23 Mei 2016). "Inilah Delapan Penyebar Islam di Merauke". www.nu.or.id. NU Online. Diakses tanggal 17 November 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. 1 2 "Hasil Identifikasi Tempat Penting Masyarakat Suku Besar Malind Anim dalam Bio-Visi Ecoregion Trans Fly - PDF Free Download". adoc.pub (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-02-27.
  4. ↑ Nevermann 1957, hlm. 225.
  5. ↑ Nevermann 1957, hlm. 9.
  6. ↑ Nevermann 1957, hlm. 111.
  7. ↑ Nevermann 1957, hlm. 112.
  8. ↑ Nevermann 1957, hlm. 13.
  9. ↑ Nevermann 1957, hlm. 12.
  10. ↑ Suroto, Hari. "Mengenal Wati, Miras Lokal Khas Merauke". detikTravel. Diakses tanggal 2025-02-27.
  11. ↑ "A New Classification for Indonesian Ethnic Groups" (PDF). www.iseas.edu.sg. Diakses tanggal 2 Maret 2023.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)

Bacaan terkait

  • Van Baal, Jan (1966). Dema. Description and Analysis of Marind-Anim Culture (South New Guinea). The Hague: Martinus Nijhoff.
  • Van Baal, Jan (2007). "Marind-anim". World Culture Encyclopedia. Advameg Inc.
  • Corbey, Raymond (2010). Headhunters from the swamps: The Marind Anim of New Guinea as seen by the Missionaries of the Sacred Heart, 1905-1925. Leiden: KITLV Press and Zwartenkot Art Books.
  • Nevermann, Hans (1957), Söhne des tötenden Vaters. Dämonen- und Kopfjägergeschichten aus Neu-Guinea, Das Gesicht der Völker (dalam bahasa (Jerman)), Eisenach • Kassel: Erich Röth-Verlag{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) The title means Sons of the killing father. Stories about demons and headhunting, recorded in New Guinea.
  • Unknown photographer (cca 1920s). "Marind-Anim men dressed for ceremony, south coast Dutch New Guinea". Old photographs (postcard). Oceania Ethnographica. Diarsipkan dari asli tanggal 2016-12-17. Diakses tanggal 2015-07-15.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |year=Pemeliharaan CS1: Tahun (link) A fabulous image of warriors with their drums; the man on the left holds an extremely rare type of carved wooden fish totem.

Pranala luar

Teks

Gambar

  • Unknown photographer (cca 1920s). "Marind-Anim men dressed for ceremony, south coast Dutch New Guinea". Old photographs (postcard). Oceania Ethnographica. Diarsipkan dari asli tanggal 2016-12-17. Diakses tanggal 2015-07-15.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |year=Pemeliharaan CS1: Tahun (link) A fabulous image of warriors with their drums; the man on the left holds an extremely rare type of carved wooden fish totem.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan