Senin, 19 Oktober 2026
19:05 WIB
TERKINI
Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Lampung Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, Kegempaan Terus Terjadi Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Lampung Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, Kegempaan Terus Terjadi Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global
Mansur I

Mansur I

amir dinasti Samaniyah (961–976)

Bagikan:
Mansur I
منصور
Amir
Shahanshah
330px-MansurISamanidPaintingHistoryofIran.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Ilustrasi abad ke-14 tentang penobatan Mansur I
Amir Dinasti Samaniyah
Berkuasa24 November 961 – 13 June 976
PendahuluAbdul Malik I
PenerusNuh II
Meninggal13 June 976
AyahNuh I
KeturunanNuh II
WangsaSamaniyah
AgamaSuni

Abu Salih Mansur (bahasa Persia:ابو صالح منصور, translit. Abu Ṣāliḥ Manṣur; meninggal 13 Juni 976), lebih dikenal sebagai Mansur I adalah amir Samaniyah dari tahun 961 hingga 976. Putra dari Nuh I, pemerintahannya ditandai dengan lemahnya pemerintahan dan kesulitan keuangan yang berkepanjangan. Mansur adalah penguasa Samaniyah pertama yang menggunakan gelar Raja Segala Raja (Shahanshah), kemungkinan besar sebagai respons terhadap saingannya, penguasa Buwaihi Adud al-Dawla, yang juga menggunakan gelar tersebut.[1] Ia juga dikenal dengan julukan Amīr-i Sadid ('Emir yang Benar/Adil').[2]

Memperoleh kekuasaan

Sejak masa pemerintahan Nuh I (memerintah 943–954), beberapa kesulitan mulai muncul di wilayah Samaniyah, yaitu kekurangan finansial, ketidakpuasan di kalangan tentara, dan munculnya kerajaan tetangga yang kuat seperti Buwaihi. Perselisihan internal, kurangnya wazir yang cakap, dan meningkatnya otoritas tentara budak Turki (ghulam) juga telah melemahkan wilayah Samaniyah.[3] Kematian saudara laki-laki Mansur, 'Abd al-Malik I pada akhir tahun 961 menyebabkan krisis suksesi. Para ghilman, yang secara efektif mengendalikan pemerintahan, terpecah belah mengenai siapa yang harus menggantikan 'Abdul Malik. Alptigin, pemimpin ghulam dan gubernur Khurasan, mendukung putra 'Abdul Malik, sementara Fa'iq Khassa, yang telah mengenal Mansur sejak kecil, mendesak penobatan Mansur. Mansur dan Fa'iq akhirnya menang; Alptigin melarikan diri ke Ghazni, yang menjadi tempat dinasti Ghaznawi akhirnya terbentuk.[4][5] Kerajaan Samaniyah berada dalam kondisi yang mengerikan setelah kematian 'Abdul Malik, menurut Narshakhi; "Ketika mereka menguburkannya, tentara menjadi gelisah dan memberontak; semua orang memikirkan kerajaan, dan masalah muncul di benak mereka".[5] Terlepas dari itu, sejarawan modern Clifford Edmund Bosworth menyatakan bahwa "Pemerintahan Mansur dapat dianggap sebagai masa terakhir di mana tatanan kekaisaran tetap kokoh, sehingga kemakmurannya mendapat komentar baik dari pihak luar".[6]

Bibliografi

Referensi

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan