Senin, 12 Oktober 2026
08:07 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka

Malili, Luwu Timur

ibu kota Kabupaten Luwu Timur, Indonesia

Bagikan:
Malili
Koordinat: 2°38′15″S 121°05′46″E / 2.63741°S 121.096°E / -2.63741; 121.096
Negara Indonesia
ProvinsiSulawesi Selatan
KabupatenLuwu Timur
Pemerintahan
 • CamatH. Hasimning[1]
Populasi
 • Total50.122 jiwa
 • Kepadatan70/km2 (200/sq mi)
Kode pos
92981
Kode Kemendagri73.24.04 Suntingan nilai di Wikidata
Kode BPS7325050 Suntingan nilai di Wikidata
Luas715,19 km²
Kepadatan70
Desa/kelurahan14 desa
1 kelurahan
Peta interaktif
osm-intl,10,a,a,270x200.png?lang=id&domain=id.wikipedia.org&title=Malili%2C_Luwu_Timur&revid=30006982&groups=_e7a62fb6519ca7a36a761921e93d30b09390150b&parser=parsoid

Malili adalah sebuah kecamatan yang juga merupakan ibu kota dari Kabupaten Luwu Timur, provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Kecamatan Malili terletak sekitar 565 km dari Makassar.[3] Pada tahun 2025, jumlah penduduk kecamatan Malili sebanyak 50.122 jiwa dengan kepadatan 70 jiwa/km².[2][4]

Sejarah

330px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_De_makole_van_Matana_Andi_Haloe_en_het_hoofd_van_Malili_%28Midden-Celebes%29_beide_met_een_Zilveren_Ster_van_Verdienste_TMnr_10001627.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Opu Andi Halu, Mokole Matano (pemangku adat) dan Hoofd Maili (kepala daerah). Foto sekitar 1909-1910.

Menurut sejarahnya, Malili adalah tempat bertemunya suku Padoe, suku asli penduduk Luwu Timur yang disegani oleh Datu Luwu. Populasi suku Padoe di Luwu Timur menyebar dari daerah Kawata, Malili, Mangkutana, Pakatan, Wasuponda, Wawondula, Tabarano, Lioka, Togo, Balambano, Soroako, Landangi, Matompi, Timampu, Karebbe, dan lain-lain.[butuh rujukan]

Suku Padoe telah mendiami daerah pegunungan dan lembah sejak tahun 1400 Masehi. Banyak ksatria yang hidup pada masa itu dikenal dengan sebutan "pongkiari". Kehebatan para Pongkiari ini terdengar oleh Datu Luwu, pemimpin Kerajaan Luwu. Saat Kerajaan Luwu di Palopo menghadapi musuh dari selatan, Datu Luwu meminta para Pongkiari untuk membantu dalam peperangan.[butuh rujukan]

Bantuan para Pongkiari bagi Kerajaan Luwu dalam menghadapi raja-raja dari Selatan membuat Datu Luwu memberikan penghormatan tersendiri kepada para Pongkiari dan seluruh suku Padoe. Karenanya, Suku Padoe tidak diminta memberikan upeti kepada Datu Luwu.[butuh rujukan]

Beberapa cerita rakyat tentang kehebatan Pongkiari ini menceritakan bahwa konon Danau Matano, Danau Mahalona, dan Danau Towuti terbentuk karena pertempuran para Pongkiari. Begitu dahsyatnya pertempuran itu, membuat terciptanya kubangan yang sangat luas dan dalam sehingga membentuk danau hingga saat ini. Namun seiring perkembangan zaman, eksistensi Pongkiari berangsur-angsur hilang.[butuh rujukan]

Pada tanggal 10 Januari 1959, Pasukan DI/TII dan Gerungan menyerang Malili. Pertempuran berakhir pada keesokan harinya dan pasukan gabungan DI/TII-Gerungan menguasai Malili selama tiga hari.[5]

Demografi

Suku Padoe memiliki adat-istiadat, aturan adat, bahasa bahkan pola kepemimpinan yang masih eksis hingga saat ini. Pada era pemberontakan DI/TII Kahar Muzakkar di Sulsel, banyak orang Padoe lari meninggalkan tanah nenek moyang mereka ke arah Sulawesi Tengah seperti Beteleme, Poso, Taliwan, Parigi, juga sulawesi tenggara dan lain-lain. Hal ini menyebabkan sebagian Suku Padoe tersebar dan berdiam di wilayaha Sulawesi Tengah hingga kini.

Sementara dalam agama yang dianut, penduduk Malili beragam kepercayaan. Berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri tahun 2025, pemeluk agama Islam sebanyak 92,80%. Kemudian yang beragama Kristen sebanyak 6,08%, di mana Protestan sebanyak 5,43% dan Katolik sebanyak 0,65% dan sebagian lagi bergama Hindu yakni 1,12%.[2]

Perekenomoian

Saat investor tambang nikel masuk ke wilayah suku Padoe, sebagian besar penduduk asli sudah mengosongkan daerah wilayah mereka. Sekitar 10 tahun kemudian saat kondisi sudah aman, banyak eksodus kembali ke tanah nenek moyang mereka. Namun mereka menghadapi kesulitan baru dalam melanjutkan hidup akibat tanah mereka yang telah berubah fungsi menjadi daerah tambang. Sebagian dari mereka tetap menetap di daerah Padoe .yang sekarang ini bertempat di belakang bumper(bumi perkemahan)soroako.

Kini, setelah daerah Padoe menjadi bagian dari Kabupaten Luwu Timur, beragam kegiatan terus dikembangkan untuk dapat menyejahterakan suku Padoe. Organisasi adat yang berkembang sejak tahun 1970 PASITABE telah beberapa kali menyelenggarakan pesta adat dan rapat dewan adat Padoe. Hingga kini PASITABE tetap aktif dalam rangka konsolidasi dan pendampingan terhadap kasus-kasus yang melibatkan tanah ulayat, tanah nenek moyang suku Padoe.

Referensi

  1. ↑ "Sertijab Camat Malili, Bupati Dorong Pelayanan Lebih Dekat ke Masyarakat". warta.luwutimurkab.go.id. Diakses tanggal 30 September 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. 1 2 3 "Buku Data Kependudukan Semester 2 Tahun 2025". www.disdukcapil.luwutimurkab.go.id. hlm. 1, 81. Diakses tanggal 30 September 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ "Lutim, yang Terus Bersolek", TEMPO, No. 3746 (26 Januari-1 Februari 2009)
  4. ↑ "Visualisasi Data Kependudukan - Kementerian Dalam Negeri 2020" (visual). www.dukcapil.kemendagri.go.id. Diakses tanggal 4 Agustus 2021.
  5. ↑ Harvey, Barbara Sillars (1989). Pemberontakan Kahar Muzakkar : Dari tradisi ke DI/TII. Jakarta: Grafiti Pers. hlm. 312.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan