Senin, 26 Oktober 2026
16:39 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung

Makanan jiwa

Bagikan:

Makanan jiwa (bahasa Inggris: Soul food) adalah makanan etnis Afrika-Amerika yang berkaitan erat dengan makanan Amerika Serikat bagian selatan.[1] Ungkapan soul food berasal dari pertengahan 1960-an ketika soul menjadi kata umum yang digunakan untuk menggambarkan budaya Afrika-Amerika.[2] Makanan jiwa menggunakan teknik memasak dan bahan-bahan dari masakan Afrika Barat, Afrika Tengah, Eropa Barat serta pribumi Amerika.[3]

Makanan jiwa awalnya diremehkan karena kualitasnya yang rendah dan asal-usulnya. Masakan ini dianggap sebagai makanan kelas bawah, dan orang Afrika-Amerika di Utara memandang rendah rekan-rekan mereka yang berkulit hitam di Selatan yang lebih menyukai makanan jiwa.[4] Seiring berjalannya waktu, makanan jiwa yang identik sebagai makanan para budak di Amerika Serikat Selatan kemudian menjadi kebanggaan utama bagi komunitas Afrika-Amerika, termasuk di wilayah utara, seperti di New York City, Chicago, dan Detroit.[5] Bahkan, setiap tahun pada bulan Juni kini diperingati sebagai bulan makanan jiwa nasional.[6]

Menurut sejarawan makanan jiwa, Adrian Miller, perbedaan antara makanan jiwa dan makanan Amerika Serikat Selatan adalah makanan jiwa dibumbui secara intens dan menggunakan beragam daging serta menambahkan beragam saus pedas dan gurih untuk menambah cita rasa yang kuat.[7]

Etimologi

Penggunaan kata "makanan jiwa" paling awal untuk menggambarkan suatu jenis masakan ditemukan dalam memoar seorang mantan budak bernama Thomas L. Johnson yang diterbitkan pada tahun 1909. Dalam memoar tersebut, Johnson menggambarkan tentang sebuah gereja yang menyuguhi jemaatnya makanan. Ia menulis: "Ada beberapa orang, ketika berkhotbah, hanya menyampaikan tiga perempat kebenaran, atau kurang, ketika menyajikan hidangan makanan jiwa untuk memuaskan selera orang-orang yang harus mereka puaskan."[8]

Istilah makanan jiwa menjadi populer selama tahun 1960-an dan 1970-an di tengah gerakan Kekuatan Hitam (Black Power movement). Salah satu penggunaan tertulis paling awal dari istilah ini ditemukan dalam "The Autobiography of Malcolm X", yang diterbitkan pada tahun 1965. LeRoi Jones (yang kemudian dikenal sebagai Amiri Baraka) menerbitkan sebuah artikel berjudul "Makanan Jiwa" yang kemudian menjadi salah satu pendukung utama penetapan makanan tersebut sebagai bagian dari identitas orang Amerika Kulit Hitam.[9]

Referensi

  1. ↑ "Soul Food' in America, a story". African American Registry. Diakses tanggal 15 November 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ Ferguson, Sheila (1993). Soul Food Classic Cuisine from the Deep South. Ferguson, Sheila: Grove Press. hlm. 57–60. ISBN 9781493013418.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ↑ McKendrick, P.J (15 Desember 2017). ". The Diversity of Soul Food - Global Foodways". Archived from the original on 6 December 2019. Retrieved 30 July 2023". Global Foodways. Diakses tanggal 15 November 2025.{{cite web}}: |archive-url= memerlukan |archive-date=Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. ↑ Wallach, Jennifer Jensen (2018). Every Nation Has Its Dish: Black Bodies and Black Food in Twentieth-Century America. UNC Press Books. hlm. 109–111. ISBN 978-1-4696-4522-3.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  5. ↑ "Soul Food - Black New York". eportfolios.macaulay.cuny.edu. Diakses tanggal 2025-11-15.
  6. ↑ Kelly, Leslie. "Celebrating National Soul Food Month With Celebrity Chef Carla Hall". Forbes (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-15.
  7. ↑ "E104: Adrian Miller on the History of Soul Food". World Food Policy Center (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-11-15.
  8. ↑ "Johnson, Thomas Lewis, 1836-1921. Twenty-Eight Years a Slave, or the Story of My Life in Three Continents". docsouth.unc.edu. Diakses tanggal 2025-11-15.
  9. ↑ Witt, Doris (1999). Black Hunger: Food and the Politics of U.S. Identity. Oxford University Press. hlm. 80-81. ISBN 978-0-19-535498-0.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan