
Macchiaioli (pelafalan dalam bahasa Italia:[makkjaˈjɔːli]) adalah kelompok pelukis Italia yang aktif di Toskana pada paruh kedua abad ke-19. Mereka menyimpang dari konvensi kuno yang diajarkan di akademi seni Italia dan banyak melukis di luar ruangan untuk menangkap cahaya alami, bayangan, serta warna. Praktik ini menghubungkan Macchiaioli dengan kelompok Impresionis Prancis yang mulai terkenal beberapa tahun kemudian, meskipun Macchiaioli memiliki tujuan yang agak berbeda.
Seniman paling terkemuka dalam gerakan ini meliputi Giuseppe Abbati, Cristiano Banti, Odoardo Borrani, Vincenzo Cabianca, Adriano Cecioni, Vito D'Ancona, Serafino De Tivoli, Giovanni Fattori, Raffaello Sernesi, Silvestro Lega, dan Telemaco Signorini.
Gerakan
Gerakan Macchiaioli bermula dari sekelompok kecil seniman, yang banyak di antaranya pernah menjadi revolusioner dalam pemberontakan tahun 1848. Pada akhir 1850-an, para seniman tersebut rutin berkumpul di Caffè Michelangiolo, Firenze, untuk membahas seni dan politik.[1] Para pemuda idealistis ini merasa tidak puas dengan seni yang diajarkan di akademi dan memiliki keinginan yang sama untuk menghidupkan kembali seni Italia dengan meniru penggunaan kontras tonal yang berani, sebagaimana terlihat dalam karya para maestro lama seperti Rembrandt, Caravaggio, dan Tintoretto.[2]
Selain itu, mereka memperoleh inspirasi dari lukisan para seniman Prancis sezaman yang tergabung dalam aliran Barbizon. Pengaruh tersebut diperkenalkan oleh Serafino De Tivoli, yang oleh sahabatnya, Telemaco Signorini, disebut sebagai bapak teknik Macchiaioli.[3] Setelah mengunjungi Paris untuk menghadiri Pameran Dunia pada 1855, De Tivoli membawa pengaruh tersebut ke Caffè Michelangiolo.
Kelompok Macchiaioli meyakini bahwa bidang terang dan gelap, atau macchie (secara harfiah berarti bercak atau noda), merupakan unsur utama dalam sebuah karya seni. Teknik mereka menggabungkan bercak-bercak dengan warna berbeda, yang terkadang berukuran cukup besar, untuk menciptakan kontras antara terang dan gelap. Penggambaran cahaya semacam ini menjadi cara utama untuk membentuk objek dalam lukisan, sementara detail-detail halus dianggap tidak penting dan sering kali diabaikan. Pada abad ke-19, kata macchia lazim digunakan oleh seniman dan kritikus Italia untuk menggambarkan kualitas berkilau dalam gambar atau lukisan, baik yang dihasilkan melalui pengerjaan spontan dan menyerupai sketsa maupun melalui keluasan efek keseluruhan yang harmonis.[4]
Pada tahun-tahun awal kemunculannya, gerakan baru ini menjadi bahan ejekan. Sebuah ulasan bernada permusuhan yang diterbitkan pada 3 November 1862 dalam jurnal Gazzetta del Popolo menandai kemunculan pertama istilah Macchiaioli dalam media cetak.[5] Istilah tersebut mengandung beberapa konotasi. Secara mengejek, istilah itu menyiratkan bahwa karya akhir para seniman tersebut tidak lebih dari sekadar sketsa, sekaligus mengingatkan pada ungkapan darsi alla macchia, yang secara idiomatis berarti bersembunyi di antara semak-semak atau belukar. Kenyataannya, para seniman itu memang membuat banyak karya mereka di kawasan alam liar. Makna ini juga mengaitkan mereka dengan para penjahat buronan, mencerminkan pandangan kaum tradisionalis bahwa kelompok seniman baru tersebut berkarya di luar kaidah seni yang berlaku, berdasarkan aturan ketat yang pada masa itu menentukan batas-batas ekspresi artistik.
Kelompok Macchiaioli merupakan kelompok seniman independen pertama yang mengembangkan gaya lukisan yang pada dasarnya bertumpu pada pengkajian dan penggambaran cahaya. Oleh karena itu, mereka sering dibandingkan dengan kaum Impresionis, yang gerakannya muncul di Paris sekitar lima belas tahun setelah Macchiaioli. Namun, Macchiaioli tidak melangkah sejauh rekan-rekan mereka yang lebih muda dari Prancis dalam mengejar efek optis. Erich Steingräber menyatakan bahwa Macchiaioli “menolak membagi palet mereka menjadi komponen-komponen spektrum warna dan tidak melukiskan bayangan berwarna biru. Karena itulah, lukisan mereka tidak memiliki cahaya yang meresap ke seluruh bagian, menenggelamkan warna dan kontur, serta menghasilkan ‘vibrisme’ yang khas dalam lukisan Impresionis. Identitas tersendiri dari setiap figur tetap terjaga”.[6]
Macchiaioli tidak mengikuti kebiasaan kaum Impresionis yang menyelesaikan lukisan berukuran relatif besar sepenuhnya di ruang terbuka (en plein air). Sebaliknya, mereka membuat sketsa-sketsa kecil di luar ruangan, kemudian menggunakannya sebagai dasar untuk karya yang akhirnya diselesaikan di studio.[7] Sketsa yang dilukis pada panel papan berukuran relatif kecil, yang sering kali sesuai dengan ukuran kotak cerutu standar, menjadi semacam ciri khas gerakan Macchiaioli. Teknik macchia paling banyak terlihat dalam karya-karya tersebut.
Anggapan bahwa Macchiaioli merupakan “kaum Impresionis yang gagal” ditentang oleh pandangan alternatif yang menempatkan mereka sebagai kelompok tersendiri, yang muncul sekitar satu dekade sebelum kaum Impresionis di Paris. Menurut penafsiran ini, Macchiaioli merupakan pelopor modernisme yang teori-teori luasnya tentang seni lukis telah menangkap esensi berbagai gerakan seni berikutnya, yang baru muncul satu dekade atau lebih kemudian. Dalam pandangan tersebut, Macchiaioli sangat erat kaitannya dengan lingkungan sosial dan konteks zamannya. Mereka bahkan berjuang bersama Giuseppe Garibaldi untuk mendukung gerakan Risorgimento beserta cita-citanya. Oleh karena itu, karya-karya mereka menyampaikan pandangan mengenai berbagai persoalan sosial-politik, termasuk emansipasi Yahudi, kehidupan di penjara dan rumah sakit, serta kondisi perempuan, seperti penderitaan para janda perang dan kehidupan di garis belakang medan perang.[8]
Banyak seniman Macchiaioli meninggal dalam kemiskinan dan baru memperoleh ketenaran menjelang akhir abad ke-19. Saat ini, karya-karya Macchiaioli jauh lebih dikenal di Italia daripada di negara-negara lain. Sebagian besar karya mereka di Italia tersimpan dalam koleksi pribadi dan tidak tercatat dalam inventaris publik.[9]
Pelukis lain, seperti Luigi dan Flavio Bertelli serta Antonino Sartini, turut dipengaruhi oleh gerakan ini, meskipun mereka tidak sepenuhnya menjadi bagian darinya.[10]
Referensi
- ↑ Broude, p. 1
- ↑ Broude, p. 3
- ↑ Steingräber, E., & Matteucci, G. 1984, p. 112.
- ↑ Broude, p. 4
- ↑ Broude, p. 96
- ↑ Steingräber & Matteucci, p. 17
- ↑ Broude, pp. 5–10
- ↑ see Boime
- ↑ Broude, pp. xxii, 10
- ↑ Azzolini, Marcello (24 Oktober 1956). "Antonio Sartini al Circolo Artistico". L'Unità.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Bibliografi
- Boime, Albert (1993). The Art of the Macchia and the Risorgimento. Chicago and London: The University of Chicago Press. ISBN0-226-06330-5
- Broude, Norma (1987). The Macchiaioli: Italian Painters of the Nineteenth Century. New Haven and London: Yale University Press. ISBN0-300-03547-0
- Steingräber, E., & Matteucci, G. (1984). The Macchiaioli: Tuscan Painters of the Sunlight : March 14-April 20, 1984. New York: Stair Sainty Matthiesen in association with Matthiesen, London. OCLC70337478
- Turner, J. (1996). Grove Dictionary of Art. USA: Oxford University Press. ISBN0-19-517068-7
Bacaan tambahan
- Piero Bargellini, Caffè Michelangiolo, Firenze, Vallecchi Editore, 1944.
- Panconi, T. (1999). Antologia dei Macchiaioli, La trasformazione sociale e artica nella Toscana di metà 800. Pisa (Italy): Pacini Editore.
- Panconi, T. (2009). I Macchiaioli, Il Nuovo dopo la Macchia. Pisa (Italy): Pacini Editore. ISBN978-88-6315-135-0
- Durbe, Dario (1978). I Macchiaioli. Rome: DeLuca Editore.