Senin, 02 November 2026
00:19 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Luak (Rejang)

Bagikan:

Luak atau Nuak adalah salah satu konsep teritori-geografi yang dikenal oleh masyarakat Rejang di Provinsi Bengkulu.[1] Konsep ini dapat dipahami sebagai istilah mengenai suatu ketampakan alam atau sebagai wilayah kekuasaan.

Luak sebagai ketampakan alam

Luak adalah sebuah lembah atau hamparan yang luas, di tengahnya mengalir sebuah sungai utama berikut anak-anak sungainya, dan dikelilingi oleh perbukitan atau pegunungan di kedua atau hampir semua sisinya. Dengan kata lain, luak adalah lembah yang berada di dataran tinggi. Apabila definisi pertama ini yang dipakai, maka Tanah Rejang terbagi menjadi dua luak, yaitu Luak Lêbong yang merupakan daerah aliran sungai (DAS) Ketahun dan Luak Ulau Musai (Ulu Musi) yang sesuai namanya, merupakan DAS Musi.[2]

Luak Lêbong dan Luak Ulau Musai masing-masing dikenal pula sebagai Lembah Lebong dan Lembah Rejang-Musi.[3] Keduanya memiliki luas wilayah yang hampir sama, yakni ± 2.000 km². Kedua luak dibatasi oleh punggung pegunungan di daerah Rimbo Pengadang yang memisahkan sungai Ketahun yang mengalir ke barat menuju Samudra Hindia dengan sungai Musi yang mengalir ke timur menuju Selat Bangka.[3]

Pada masa lalu, Lembah Rejang-Musi dideskripsikan sebagai daerah yang produktif sektor pertaniannya dengan akses jalan yang cukup memadai. Sebaliknya, Lembah Lebong terisolasi baik secara geografi maupun ekonomi, dengan jalanan yang terputus dan tidak mengarah ke mana pun kecuali ke Curup di Ulu Musi.[3] Kedua lembah sejak lama terkenal sebagai daerah penghasil emas dan perak. Masyarakat Rejang selaku penduduk asli telah terlibat dalam kegiatan mendulang sejak lama. Khususnya di Lebong, pendulangan emas diyakini bermula pada kedatangan para bikau dari Majapahit.[4] Kejatuhan Lembah Rejang-Musi ke tangan Belanda pada 1860, disusul pula dengan kejatuhan Lembah Lebong telah memungkin kedua luak menjadi lumbung emas bagi pemerintah kolonial.[5]

Luak sebagai wilayah kekuasaan

Sebagai wilayah kekuasaan, luak dimaknai sebagai daerah yang berada di bawah kepemimpinan langsung para bikau,[1] dan merupakan daerah hunian masyarakat Rejang yang paling luas, yang di dalamnya terdapat kutai-kutai (desa mandiri dan berdiri penuh). Sani (1983:12) menyebutkan bahwa sebagai wilayah kekuasaan, alih-alih geografi atau ketampakan alam, di Tanah Rejang terdapat empat luak yang dipimpin oleh para biku, terdiri dari Luak Lêbong, Luak Ulau Musai, dan Luak Lembak Beliti di daerah pegunungan, serta Luak Pesisir.[1]

Lihat pula

Referensi

  1. 1 2 3 Herlambang, Abdi, Harjanto, & Yamani 2012, hlm. 285. sfn error: tanpa target: CITEREFHerlambang,_Abdi,_Harjanto,_&_Yamani2012 (bantuan)
  2. ↑ Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah 1979, hlm. 88.
  3. 1 2 3 Psota 2013, hlm. 121.
  4. ↑ Misic 2013, hlm. 315. sfn error: tanpa target: CITEREFMisic2013 (bantuan)
  5. ↑ Bonatz, Neidel, & Miksic 2009, hlm. 7. sfn error: tanpa target: CITEREFBonatz,_Neidel,_&_Miksic2009 (bantuan)

Daftar pustaka

Buku

Jurnal

Ikon rintisan

Artikel bertopik budaya ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

120px-Flag_map_of_Indonesia.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Artikel bertopik geografi atau tempat Indonesia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan