Minggu, 27 September 2026
08:45 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG
Lordosis

Lordosis

Kelengkungan lordotik ke dalam

Lordosis
250px-Illu_vertebral_column.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Diagram menunjukan lekukan tulang belakang yang normal.
SpesialisasiReumatologi, Genetika kedokteran Sunting ini di Wikidata

Lordosis adalah kelengkungan lordotik ke dalam yang normal dari daerah pinggang dan leher rahim pada tulang belakang manusia.[1] Lengkungan keluar yang normal (cembung) di daerah toraks dan sakrum disebut kifosis atau kifotik. Istilah lordosis berasal dari bahasa Yunani lordōsis, dari lordos ("membengkok ke belakang").[2]

Lordosis di tulang belakang manusia membuat manusia lebih mudah untuk membawa beban di atas panggul. Hal ini memungkinkan manusia untuk berjalan jauh lebih efisien dibandingkan dengan primata lainnya, rusuk yang tidak fleksibel menyebabkan mereka untuk menggunakan gaya berjalan yang tidak efisien dan condong ke depan. Dengan demikian, lordosis pada tulang belakang manusia merupakan sebagai salah satu adaptasi fisiologis utama dari kerangka manusia yang memungkinkan manusia memakai energinya dengan efisien seperti sekarang.[3]

Hiperlordosis

250px-Lordosis.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Hiperlordosis

Hiperlordosis adalah penyakit kelainan pada tulang belakang yang menyebabkan punggung penderita terlalu melengkung masuk pada daerah pinggang.[4][5] Lordosis disebabkan oleh sikap tubuh yang buruk, pembentukan tulang punggung yang kurang sempurna sejak lahir, dan beberapa faktor lainnya.[4][6] Penderita lordosis umumnya akan merasakan sakit pada bagian punggung, kaki, serta perubahan di dalam usus dan kantung kemih.[4]

Faktor-faktor penyebab

  • Jenis kelamin
Hiperlordosis lebih sering terjadi pada perempuan, terutama saat dalam masa kehamilan.[5][6] Pada saat hamil, tubuh perempuan akan menghasilkan lebih banyak hormon relaksin untuk meregangkan otot dan sendi daerah pinggul sehingga tulang punggung akan cenderung lebih melengkung ke depan mengikuti beban dari janin.[6]
  • Posisi tubuh
Jika berdiri dalam waktu yang sangat panjang, maka akan terjadi pergeseran pada tulang belakang bagian pinggang.[6] Hiperlordosis akan lebih terlihat pada mereka yang memiliki otot pada bagian pinggang lemah.[6]
  • Alas kaki
Alas kaki dengan hak tinggi akan meningkatkan risiko hiperlordosis .[6] Hak tinggi menyebabkan pusat gravitasi tubuh berpindah ke depan dan peningkatan kelengkungan tulang punggung.[6]

Referensi

  1. ↑ Medical Systems: A Body Systems Approach, 2005
  2. ↑ "Lordosis". Wordnik. Diakses tanggal Desember 15, 2013.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ Lovejoy CO (2005). "The natural history of human gait and posture. Part 1. Spine and pelvis" (PDF). Gait & Posture. 21 (1): 95–112. doi:10.1016/j.gaitpost.2004.01.001. PMID 15536039. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2012-01-21.
  4. 1 2 3 Ali, Iskandar .2010 . Dahsyatnya Bio Quantum Kesehatan . Jakarta: PT AgroMedia Pustaka . ISBN 979-006-311-3
  5. 1 2 Davis, Kim; Campbell, Anthony (editor); Mardiana, Dina (penerjemah) . 2010 . Buku Pintar Nyeri Tulang & Otot . Jakarta: ESENSI . ISBN 978-979-015-634-0
  6. 1 2 3 4 5 6 7 Middleditch, Alison; Oliver, Jean . 2005 . Functional Anatomy of the Spine, Second Edition . Elsevier . ISBN 0-7506-2717-4
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan