Rabu, 28 Oktober 2026
17:43 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Lim Soe Keng Sia

Tokoh masyarakat

Bagikan:

Lim Soe Keng Sia (1819–1883), juga dikenal sebagai Liem Soe King Sia, Soe King Sia, atau Lim Soukeng Sia, dulu adalah seorang pachter, atau pemungut pajak, di Batavia, ibu kota Hindia Belanda, yang paling dikenal berkat persaingannya dengan playboy Betawi, Oey Tamba Sia.[1][2][3] Ia bertindak sebagai administrator dari 'Ngo Ho Tjiang' Kongsi, konsorsium monopoli opium paling berpengaruh di Batavia pada awal hingga pertengahan abad ke-19.[4]

Kehidupan awal

250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_De_Chinese_hoofdstraat_te_Pekalongan_versierd_met_katoenenbanen_in_vlaggenmasten_TMnr_60019868.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Atmosfer pecinan di Pekalongan.

Ia lahir pada tahun 1819 di Tegal, Jawa Tengah.[5][6][1] Ia adalah anak dari Kapitan Lim Ke Tjang (1781–1826), cucu dari Kapitan Lim Soen Boen (1756–1813), dan berasal dari sebuah keluarga aristokrasi 'Cabang Atas'.[6][1] Kakek dan ayahnya adalah Kapitan Cina Tegal mulai tahun 1770 hingga 1813, dan mulai tahun 1813 hingga 1826, yang mana dengan jabatan tersebut, mereka memimpin komunitas Cina di wilayah tersebut atas nama pemerintah Hindia Belanda.[6][7] Kakaknya, Lim Soe Tjong, lalu menggantikan ayahnya sebagai Kapitan Cina Tegal mulai tahun 1826 hingga 1832.[6] Sebagai keturunan dari pejabat Cina, Lim pun menyandang gelar turunan Sia.[1]

Karier

Menurut sejarawan Phoa Kian Sioe, Lim mendapat pendidikan yang baik serta fasih berbicara dalam klasik Tionghoa dan dalam bahasa Belanda.[1][4][3] Phoa mengklaim bahwa keluarga Lim lalu jatuh miskin karena mismanajemen keuangan, sehingga memaksa Lim untuk merantau ke Batavia guna mencari peluang baru.[1][4]

Berkat latar belakang keluarga dan pendidikannya yang layak, Lim kemudian dipilih oleh Tan Eng Goan, Mayor Cina pertama Batavia, sebagai suami dari salah satu putrinya, yakni Tan Bit Nio.[4] Keduanya lalu menikah pada tahun 1836 dengan Mayor Tan Eng Goan bertindak sebagai saksi pernikahan dari pihak perempuan, sementara Kapitan Lim Soe Tjong bertindak sebagai saksi pernikahan dari pihak laki-laki.[5] Menurut Phoa, Mayor Tan Eng Goan kemudian mengupayakan agar Lim dapat ditunjuk sebagai administrator dari 'Ngo Ho Tjiang' Kongsi.[1][4] Sebagai administrator, Lim bertugas mengelola pacht opium, atas nama mitra-mitra konsorsium.[4]

Pada suatu waktu, Lim bertemu dengan orang Tionghoa lain yang baru merantau ke Batavia, yakni Oey Tamba Sia, anak dan pewaris dari pengusaha tembakau kaya asal Pekalongan, Letnan Oey Thai Lo.[1][3] Lim dan Oey awalnya berteman. Kemudian, Lim dituduh melecehkan salah satu teman wanita dari Oey, sehingga sejak saat itu, keduanya bermusuhan.[2][4][3]

Permusuhan mereka memuncak saat Oey Tamba Sia meracun pegawainya, Oey Tjeng Kie, agar dapat menuduh Lim sebagai pembunuhnya, sehingga merusak nama baik Lim.[2][4][3] Namun, Oey Tamba Sia akhirnya terbukti bersalah. Oey dan komplotannya lalu dihukum gantung di halaman Stadhuis Batavia (kini menjadi Museum Sejarah Jakarta).[2][4][3] Sementara Lim dibebaskan dan nama baiknya dipulihkan.[4][3]

Cerita Oey Tamba Sia dan Lim Soe Keng Sia kemudian menjadi dasar dari sejumlah karya sastra Tionghoa-Melayu dan menginspirasi cerita rakyat Betawi.[8]

Lim Soe Keng Sia akhirnya meninggal di Batavia pada tanggal 21 Mei 1883 pada usia 63 tahun.[5]

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 Phoa, Kian Sioe (1956). Sedjarahnja Souw Beng Kong: (tangan-kanannja G.G. Jan Pieterszoon Coen), Phoa Beng Gan (achli pengairan dalam tahun 1648), Oey Tamba Sia (hartawan mati ditiang penggantungan). Jakarta: Reporter.
  2. 1 2 3 4 L'illustration: journal universel (dalam bahasa Prancis). Paris: Dubochet. 1857.
  3. 1 2 3 4 5 6 7 Setiono, Benny G. (2008). Tionghoa Dalam Pusaran Politik. TransMedia. ISBN 9789797990527.
  4. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Benedanto, Marcus A. S. & Pax (2012). Kesastraan Melayu Tionghoa 5. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. ISBN 9789799023759.
  5. 1 2 3 "Kong Koan Papers". Leiden University Libraries. Digital Collections. Leiden University. Diakses tanggal 22 Maret 2022.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. 1 2 3 4 Yayasan Tridharma Tegal. "Susunan Organisasi Masyarakat Tiong Hoa Tertua Tegal". Yayasan Tridharma Tegal. Yayasan Tridharma Tegal. Diakses tanggal 22 Maret 2022.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. ↑ Lohanda, Mona (1996). The Kapitan Cina of Batavia, 1837-1942: A History of Chinese Establishment in Colonial Society. Jakarta: Djambatan. ISBN 9789794282571. Diakses tanggal 22 Maret 2022.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  8. ↑ Lombard, Denys; Champion, Catherine; Chambert-Loir, Henri (1993). Rêver l'Asie: exotisme et littérature coloniale aux Indes, en Indochine et en Insulinde (dalam bahasa Prancis). Éd. de l'École des hautes études en sciences sociales. ISBN 9782713210020.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan