Rabu, 04 November 2026
01:27 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare
Lilium bulbiferum

Lilium bulbiferum

Bagikan:
Lilium bulbiferum
250px-Lilium_bulbiferum_var._bulbiferum_01.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Plantae
Klad: Tracheophyta
Klad: Angiospermae
Klad: Monokotil
Ordo: Liliales
Famili: Liliaceae
Genus: Lilium
Spesies:
L. bulbiferum
Nama binomial
Lilium bulbiferum
L. 1753 not Thunb. 1794
Sinonim[1]
Sinonim
  • Lilium atrosanguineum H.Vilm.
  • Lilium aurantiacum Weston, 1772
  • Lilium biligulatum Baker
  • Lilium chaixii Maw
  • Lilium croceum Chaix
  • Lilium elatum Salisb.
  • Lilium fulgens E.Morren ex Spae
  • Lilium fulgens W.H.Baxter
  • Lilium haematochroum Lem.
  • Lilium humile Mill., 1768
  • Lilium lateritium Baker
  • Lilium latifolium Link
  • Lilium luteum Gaterau, 1789
  • Lilium pictum Baker
  • Lilium pubescens Bernh. ex Hornem.
  • Lilium sanguineum Lindl.
  • Lilium scabrum Moench, 1794
  • Lilium sibiricum Willd.
  • plus many names at the varietal level

Lilium bulbiferum, yang dikenal dengan nama umum lili jingga,[2] lili api, Jimmy's Bane, lili harimau, dan lili Santo Yohanes, adalah spesies lili herba asal Eropa yang memiliki umbi bawah tanah dan termasuk dalam famili Liliaceae.[1][3]

Deskripsi

Lilium bulbiferum rata-rata mencapai tinggi 20–90 sentimeter, dengan tinggi maksimum hingga 120 sentimeter. Umbinya berbentuk bulat telur, memiliki sisik besar berwarna keputihan dan berujung runcing, serta dapat mencapai diameter sekitar 1,5 sentimeter. Batangnya tegak, sedangkan daunnya berbentuk lanset dengan panjang hingga 10 sentimeter. Perbungaannya terdiri atas satu hingga lima bunga yang memiliki rambut-rambut pendek.

Bunganya bersifat hermafrodit dan tidak beraroma. Bunga tersebut memiliki enam tepal yang tegak, dengan tepal bagian luar sedikit lebih sempit daripada bagian dalam. Bunganya dapat mencapai panjang 4–6 sentimeter dan berwarna kuning-jingga cerah dengan bintik-bintik cokelat kemerahan. Benang sarinya tegak dan panjangnya sekitar setengah dari panjang tepal, dengan kepala sari berwarna merah. Tangkai putiknya berwarna jingga dan memiliki panjang sekitar 35 milimeter. Masa berbunga berlangsung dari Mei hingga Juli.[4]

Terdapat dua varietas, yaitu L. b. var. croceum (Chaix) Baker yang terdapat di bagian barat wilayah persebarannya, serta L. b. var. bulbiferum di bagian timur. Hanya varietas terakhir yang selalu menghasilkan umbi sekunder di atas permukaan tanah (bulbil) pada ketiak daun-daun bagian atas. Bulbil tersebut jatuh ke tanah dan mencapai kematangan setelah dua hingga tiga tahun. Jika dipisahkan secara manual dari batangnya, bulbil tersebut dapat dengan mudah digunakan untuk memperbanyak tanaman.

Tanaman berukuran kecil dari Pegunungan Alpen Maritim, yang sebelumnya dideskripsikan sebagai var. chaixii (Elwes) Stoker, serta tanaman berukuran besar dari wilayah Napoli, yang sebelumnya dideskripsikan sebagai var. giganteum N. Terracc., kini dianggap sebagai variasi lokal dari var. croceum.

Nektarium ekstrabunga pada spesies ini pertama kali dicatat oleh Zimmerman pada tahun 1932, setidaknya pada var. croceum.[5]

Referensi

  1. 1 2 "World Checklist of Selected Plant Families: Royal Botanic Gardens, Kew". Diakses tanggal 17 September 2016.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ NRCS. "Lilium bulbiferum". PLANTS Database. United States Department of Agriculture (USDA). Diakses tanggal 25 Januari 2016.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ Altervista Flora Italiana, Giglio rosso, Orange Lily, Lilium bulbiferum L. includes many photos plus European distribution map
  4. ↑ Pignatti S. - Flora d'Italia - Edagricole – 1982 Vol. III. pa. 362
  5. ↑ Weber, Marjorie G.; Keeler, Kathleen H. (2012-10-18). "The phylogenetic distribution of extrafloral nectaries in plants". Annals of Botany. 111 (6): 1251–1261. doi:10.1093/aob/mcs225. eISSN 1095-8290. PMC 3662505.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan