Selasa, 27 Oktober 2026
01:46 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung
Tepi benua

Tepi benua

Bagikan:
330px-Continental_shelf.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Diagram yang menunjukkan, tepi, lereng dan landas benua.

Continental margin atau disebut juga dengan tepi benua adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan area di mana daratan bertemu dengan dasar laut dalam, sebagai zona transisi antara kerak benua dan kerak samudra yang berlokasi di bawah perairan pantai[1] Continental Margin merupakan zona di dasar laut sebagai perpanjangan dari benua dan memiliki sifat-sifat tertentu yang membedakannya dari kerak samudra. Secara khusus, material yang membentuk tepi benua cenderung lebih ringan dengan isostatik yang lebih tinggi dibandingkan kerak samudra di sekitarnya.[2] Tiga zona utama dasar laut disusun oleh tepi benua, cekungan samudera dan punggungan tengah samudra.[3]

Karakteristik dari tepi benua dipengaruhi oleh beberapa faktor. antara lain aktivitas tektonik, fluktuasi permukaan laut, Ukuran sungai yang bermuara di tepi benua dan memengaruhi jumlah sedimentasi, serta kekuatan gelombang dan arus laut yang terjadi di sepanjang tepi benua.[2]

Komponen Penyusun

Komponen dasar yang membentuk kontur dan morfologi dari tepi benua antara lain landas benua (Continental shelf), lereng benua (Continental slope) dan sembul benua (Continental rise). [3] Continental shelf adalah tepi benua yang dangkal dan tergenang air. Secara geologis landas kontinen masih merupakan bagian dari kerak benua, tetapi sering kali dilapisi dengan sedimen laut. Rata-rata, landas kontinen membentang sekitar 80 km dari pantai. Kedalaman landas kontinen umumnya di bawah sekitar 150 m, dan lantai landas kontinen cukup datar. Topografi yang datar adalah hasil dari perubahan permukaan laut. Sepanjang sejarah, landas kontinen telah terendam dan terekspos sebagai hasil dari naik dan turunnya permukaan laut. Landas kontinen hanya mencakup sekitar 6% dari luas permukaan laut, tetapi secara biologis merupakan daerah yang memiliki nutrisi paling banyak di lautan; kedalamannya yang dangkal mencegah nutrien tenggelam, dan letaknya yang dekat dengan pantai memberikan masukan nutrien yang signifikan. Landas kontinen berakhir di patahan landas kontinen, yaitu titik di mana sudut dasar laut mulai menjadi lebih curam.[1]

Continental slope. Setelah daerah patahan landas kontinen, dasar laut memiliki sudut yang lebih curam saat turun ke laut dalam. Bagian yang lebih curam ini adalah lereng benua, dan memanjang dari patahan landas kontinen hingga 3000-5000 m. Pada bagian bawah lereng adalah sembul benua atau Continental rise. Area ini merupakan tempat pertemuan kerak benua dengan kerak samudra. Saat lereng mulai mendatar dan menjadi dasar samudra yang dalam. Tanjakan ini terdiri dari lapisan tebal hasil akumulasi sedimen yang berasal dari benua, sehingga sulit untuk mengetahui di mana lereng berakhir dan tanjakan dimulai. Setelah tanjakan muncul dataran abisal, atau dasar samudra dalam, yang terletak di antara 4.500 - 6.000 m. Dataran abisal mencakup sebagian besar dasar samudra, dan merupakan wilayah paling datar di Bumi. Dataran berbentuk mendatar karena akumulasi sedimen selama jutaan tahun di dasar laut, yang mengubur banyak fitur dasar laut.[1]

Referensi

  1. 1 2 3 Earle, Steven; Earle, Steven (2015-09-01). Physical Geology (dalam bahasa Inggris). BCcampus. ISBN 978-1-989623-71-8.
  2. 1 2 "Continental margin | Geology, Oceanography & Plate Tectonics | Britannica". www.britannica.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2024-05-30.
  3. 1 2 Haine, Thomas (2009-03-01). "BOOK REVIEW | Essentials of Oceanography, Fifth Edition". Oceanography. 22 (1): 238–239. doi:10.5670/oceanog.2009.29. ISSN 1042-8275.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan