Selasa, 22 September 2026
09:42 WIB
TERKINI
Regional Solo Safari Bantah Larang Hijab, Akui Ada Kesalahan Komunikasi Berita Banjir Bandang Landa Kompleks Pemkab Solok, Peralatan Kantor Hanyut dan Warga Mengungsi Berita Mengungkap Jaringan Video Asusila "A Day in My Life": Dua Pelaku Raup Jutaan Rupiah Berita Nusron Wahid Mundur dari Golkar, Serahkan Detail ke Bahlil Lahadalia Wawancara Tragedi 1965: Oka Rusmini Soroti Perampasan Hak Hidup Perempuan Prelude Dua Mantan Menteri Keuangan: Riwayat Berbeda di Kursi Kasir Negara Politik Kepala BGN Gencar Beriklan di Medsos, Benahi Citra Program Makan Bergizi Gratis Bisnis Jerat Pungli Ancam UMKM Indonesia: Kisah Bolosego dan Solusi Mendesak Hukum & Kriminal Empat Eks Pejabat LPEI Divonis 6 Tahun Penjara dalam Skandal Korupsi Pembiayaan Ekspor Hukum & Kriminal Mantan Bupati Sidoarjo Gus Muhdlor Bebas Bersyarat Usai Dua Tahun Dipenjara Regional Solo Safari Bantah Larang Hijab, Akui Ada Kesalahan Komunikasi Berita Banjir Bandang Landa Kompleks Pemkab Solok, Peralatan Kantor Hanyut dan Warga Mengungsi Berita Mengungkap Jaringan Video Asusila "A Day in My Life": Dua Pelaku Raup Jutaan Rupiah Berita Nusron Wahid Mundur dari Golkar, Serahkan Detail ke Bahlil Lahadalia Wawancara Tragedi 1965: Oka Rusmini Soroti Perampasan Hak Hidup Perempuan Prelude Dua Mantan Menteri Keuangan: Riwayat Berbeda di Kursi Kasir Negara Politik Kepala BGN Gencar Beriklan di Medsos, Benahi Citra Program Makan Bergizi Gratis Bisnis Jerat Pungli Ancam UMKM Indonesia: Kisah Bolosego dan Solusi Mendesak Hukum & Kriminal Empat Eks Pejabat LPEI Divonis 6 Tahun Penjara dalam Skandal Korupsi Pembiayaan Ekspor Hukum & Kriminal Mantan Bupati Sidoarjo Gus Muhdlor Bebas Bersyarat Usai Dua Tahun Dipenjara
Dokumen Keesaan Gereja

Dokumen Keesaan Gereja

250px-Logo-pgi.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Logo PGI

Dokumen Keesaan Gereja adalah rumusan pengakuan bersama gereja-gereja di Indonesia yang disusun dalam wadah oikumene DGI/PGI. Adapun tujuan penyusunan dokumen ini sebagai pedoman dan alat dalam mewujudkan Gereja Kristen Yang Esa di Indonesia.[1] Dokumen Keesaan Gereja (disingkat dengan DKG) yang dikenal saat ini merupakan pembaruan dan penyempurnaan terus menerus dari naskah-naskah sebelumnya.

Latar Belakang

LDKGcoy.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail_unscaled
Sampul depan salah satu buku yang membahas Lima Dokumen Keesaan Gereja untuk masa 1989-1994

Pemahaman gereja-gereja mengenai Gereja Kristen Yang Esa di Indonesia dalam Sidang Raya DGI I mendorong DGI untuk melakukan studi dan penyelidikan bersama mengenai Pengakuan Iman, Tata Gereja, Katekisasi, dan Liturgi yang digunakan oleh gereja-gereja anggotanya. Studi dan penyelidikan ini memuncak pada Sidang Raya DGI VI pada tahun 1967 di Ujung Pandang, yang diperkenalkan dalam konsep Tata Sinode Oikumene Gereja di Indonesia (SINOGI) dan Pemahaman Iman Bersama. Pada Sidang Raya DGI VII pada tahun 1971 di Pematang Siantar, konsep SINOGI dan Pemahaman Iman Bersama diterima sebagian karena gereja-gereja di Indonesia pada saat itu dinilai belum siap. Inilah tahap awal perubahan .....nama dan pemahaman diri Oleh karena itu dibutuhkan [2] Usaha-usaha mewujudkan keesaan secara konkret pada sidang-sidang berikutnya dan Pada Sidang Raya DGI IX yang pada tahun 1980 di Tomohon, usaha-usaha konkret mewujudkan keesaan semakin berkembang. Situasi ini mendorong muncul pembicaraan mengenai "SIMBOL-SIMBOL KEESAAN" yang merupakan kristalisasi dari Lima Dokumen Keesaan Gereja. "SIMBOL-SIMBOL KEESAAN" meliputi empat dokumen, yaitu:[3]

  1. PIAGAM PRASETYA KEESAAN
  2. PEMAHAMAN IMAN BERSAMA
  3. PIAGAM SALING MENGAKUI DAN MENERIMA
  4. TATA GEREJA DASAR

Kemudian dalam Sidang Raya DGI/PGI X pada tahun 1984 di Ambon, dokumen-dokumen ini dirumuskan kembali dan disahkan dengan nama Lima Dokumen Keesaaan Gereja (LDKG).[4] Pada sidang ini juga, wadah keesaan gereja berganti nama dari DGI menjadi PGI.[2] Pergumulan teologis gereja-gereja di Indonesia Karena itu, dokumen ini juga merupakan hasil pergumulan teologis gereja-gereja di Indonesia sejak berdirinya DGI pada tahun 1950.[3]

Isi

Berikut adalah isi dari Lima Dokumen Keesaan Gereja:[4]

  1. POKOK-POKOK TUGAS PANGGILAN BERSAMA (PTPB)
  2. PEMAHAMAN BERSAMA IMAN KRISTEN (PBIK)
  3. PIAGAM SALING MENGAKUI dan SALING MENERIMA (PSMSM) di antara gereja-gereja anggota PGI
  4. MENUJU KEMANDIRIAN TEOLOGI, DAYA dan DANA (MKTDD)
  5. TATA DASAR PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA di INDONESIA (TD-PGI)

LDKG mengalami penyempurnaan pada Sinode Raya PGI XI pada tahun 1989 di Surabaya.[5] Pada LDKG, diberikan tambahan sejenis pengantar umum uuk keseluruhan LDKG secara utuh dan menempatkannya secara terpisah dari kelima dokumen.[5] Pengantar umum tersebut bernama Prasetya Keesaan.[5]

Rujukan

  1. Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia, Dokumen Keesaan Gereja Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (DKG-PGI): Keputusan Sidang Raya XIV PGI, Wisma Kinasih, 29 November - 5 Desember 2004(Jakarta: Gunung Mulia, 2006), x
  2. 1 2 Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia, Dalam Kemantapan Kebersamaan Menapaki Dekade Penuh Harapan (Jakarta: Gunung Mulia, 1990), 11
  3. 1 2 Pdt. Dr. Jan S. Aritonang dan rekan-rekan, 50 Tahun PGI: Gereja pada Abad 21, disunting oleh Pdt. Dr. Jan Aritonang (Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan PGI, 2000), 57-58, 61
  4. 1 2 (Indonesia)F.D. Wellem. 2006. Kamus Sejarah Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hlm. 264.
  5. 1 2 3 Pdt. Dr. B.A.Abednego, Mengenal Gereja-Gereja Kristen Protestan(Dioma: Malang, 1989), 11
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan