Selasa, 03 November 2026
20:17 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare

Kusuma Adiningrat

Bagikan:

Pangeran Kusuma Adiningrat,[1] dikenal juga sebagai Pangeran Madrais atau Kiai Madrais, adalah seorang tokoh spiritual dan pencetus agama Djawa Sunda. Ia lahir di desa Susukan yang saat itu secara administratif masuk ke dalam wilayah Ciawigebang, Keresidenan Cirebon.[2] Catatan resmi Paseban Cigugur menyatakan bahwa ia lahir pada tahun 1822, sedangkan versi pemerintah Belanda menyebut bahwa tanggal kelahirannya adalah 9 Mulud 1859.[3]

Kehidupan pribadi

Ia lahir dari keluarga bangsawan Cirebon dari Keraton Gebang. Ibunya bernama Nyi Raden Kastew dan ayahnya bernama Pangeran Sutajaya Alibassa Kusumah Wijayaningrat,[3] pangeran Keraton Gebang ke-9.[2]

Pada masa kecil, ia diasuh oleh Ki Sastrawadana, seorang kepala desa (kuwu),[3] dan biasa dipanggil Pangeran Sadewa Alibasa, Pangeran Surya Nata, dan Pangeran Kusuma Adiningrat.[2]

Pada 1869, ia terlibat dalam peristiwa pemberontakan melawan Belanda di Tambun, Bekasi.[4][1]

Ia juga diyakini menuliskan ramalan yang di dalamnya diyakini meramalkan kerusuhan Mei 1998 dan gempa bumi dan tsunami Samudra Hindia 2004.[4]

Madrais meninggal dunia pada tahun 1939 dan jabatannya sebagai pemimpin komunitas adat Sunda Wiwitan diteruskan oleh anaknya yang bernama Pangeran Tedjabuana Alibassa.[5]

Referensi

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan