Senin, 28 September 2026
11:00 WIB
TERKINI
Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto Hukum Sorotan Tajam: Hunian Mewah di Area Asimilasi Lapas Cibinong Jadi Perdebatan Kolom Mahkamah Konstitusi Kubur Ambang Batas Pilpres, Desakan Tak Menghidupkan Kembali Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Edukasi Moreno Sidharta: Otodidak Raih Medali Emas Olimpiade Matematika Internasional Bola Mantan Bintang Spanyol Dorong Haaland ke Barcelona: Cocok Gaya Main Flick Lampung Maulid Arbain Lampung Sembilan Tahun: Penguatan Akhlak dan SDM Jadi Prioritas Humaniora Ribuan Warga Hadiri Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026: Perkuat Akhlak dan Anti Narkoba Cuaca Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung: Way Kanan Paling Banyak Disorot Bandar Lampung BMKG Ungkap Penyebab Kemarau Panjang di Lampung: El Nino Kuat dan Hujan Lokal Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto Hukum Sorotan Tajam: Hunian Mewah di Area Asimilasi Lapas Cibinong Jadi Perdebatan Kolom Mahkamah Konstitusi Kubur Ambang Batas Pilpres, Desakan Tak Menghidupkan Kembali Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Edukasi Moreno Sidharta: Otodidak Raih Medali Emas Olimpiade Matematika Internasional Bola Mantan Bintang Spanyol Dorong Haaland ke Barcelona: Cocok Gaya Main Flick Lampung Maulid Arbain Lampung Sembilan Tahun: Penguatan Akhlak dan SDM Jadi Prioritas Humaniora Ribuan Warga Hadiri Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026: Perkuat Akhlak dan Anti Narkoba Cuaca Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung: Way Kanan Paling Banyak Disorot Bandar Lampung BMKG Ungkap Penyebab Kemarau Panjang di Lampung: El Nino Kuat dan Hujan Lokal

Kupala

Kupala atau Kupalo adalah sebuah dewa semu Slavia yang pertama kali disebutkan pada abad ke-17 dan dibandingkan dengan Dewi Yunani Ceres. Namun, para sarjana modern dalam bidang Mitologi Slavia menyangkal keberadaan dewa tersebut. Secara linguistik, istilah Kupala memiliki kemiripan fonetik dengan kata Kapala dalam bahasa Sanskerta, yang diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi "Kepala". Kata Kapāla (कपाल) dalam bahasa Sanskerta merujuk pada "mangkuk", "tempurung", atau "tengkorak". Dalam teks-teks kuno, ini sering digunakan untuk menyebut wadah ritual atau bagian tubuh yang paling suci. [1][2]


Sumber

Sumber pertama yang menyebutkan dewa Kupalo adalah Kronik Hustyn yang berasal dari abad ke-17:

 Kupalo kelima adalah, sebagaimana yang saya yakini, Dewa Kelimpahan, seperti Ceres bagi orang Yunani Kuno. Kepadanya, orang-orang bodoh memberikan ucapan syukur selama masa panen. Peringatan terhadap iblis Kupalo ini masih dirayakan di beberapa tanah kami oleh orang-orang bodoh, mulai dari tanggal 23 Juni, malam kelahiran Santo Yohanes Pembaptis, hingga masa panen dan lebih lama lagi dengan cara berikut: pada malam hari, orang-orang biasa dari kedua jenis kelamin berkumpul, dan mereka merangkai karangan bunga dari tanaman herbal yang dapat dimakan atau dari akar-akaran. Setelah mereka melilitkan tanaman tersebut di sekeliling diri mereka, mereka menyalakan api. Di tempat lain, mereka menegakkan dahan pohon hijau dan, sambil berpegangan tangan, mereka berputar mengelilingi api ini, menyanyikan lagu-lagu mereka yang menyebutkan Kupalo. Kemudian mereka melompati api tersebut, mendedikasikan diri mereka kepada iblis ini.[3]

Pada abad ke-17, Kupala juga diakui sebagai dewa oleh Sinopsis Kiev dan Riwayat Hidup St. Vladimir.[4]

Etimologi

Historisitas dan interpretasi

Para peneliti modern biasanya menyangkal keberadaan dewa Slavia bernama Kupala. Menurut Vladimir Toporov, tokoh-tokoh mitologis yang dikenal dari sumber-sumber belakangan, seperti Yarilo, Kupala, Pogvizd, Lada, Polel, dan lainnya, tidak dapat dianggap sebagai dewa.[5] Pakar folklor dan etnografer Andrey Toporkov menyatakan bahwa Kupalo hanyalah sebuah hari raya rakyat, dan pengakuannya sebagai dewa sangatlah dipertanyakan.[6] Menurut Stanisław Urbańczyk, Kupala adalah "fiksi sastra, yang terus-menerus dipertahankan oleh para mitolog sebagai kebenaran."[4] Tidak terdapat informasi mengenai dewa tersebut dalam sumber-sumber awal yang menyebutkan perayaan Malam Kupala.[7]

Beberapa peneliti, seperti Martin Pitro dan Petr Vokáč,[8] serta Linda Ivantis,[9] meyakini bahwa Kupalo bukanlah dewa, melainkan sosok ritual atau boneka yang digunakan selama Malam Kupala. Materi sumber mengonfirmasi keberadaan boneka dengan nama tersebut, misalnya dalam dialek Ukraina kupalo berarti "boneka ritual, yang digunakan dalam perayaan Malam Santo Yohanes," atau dalam dialek Belarusia kupala berarti "orang yang memandu dalam permainan Malam Santo Yohanes."[10]

Referensi

  1. ↑ Bloomfield, Maurice; Monier-Williams, Monier; Leumann, E.; Cappeller, C. (1900). "A Sanskrit-English Dictionary, Etymologically and Philologically Arranged with Special Reference to Cognate Indo-European Languages". The American Journal of Philology. 21 (3): 323. doi:10.2307/287725. ISSN 0002-9475.
  2. ↑ Monier-Williams, Sir Monier (1819–1899). Oxford Dictionary of National Biography. Oxford University Press. 2017-11-28.
  3. ↑ Kleinhempel & Klimov 2022, hlm. 112.
  4. 1 2 Urbańczyk 1991, hlm. 181.
  5. ↑ Toporov 1995, hlm. 211.
  6. ↑ Toporkov 2002, hlm. 212.
  7. ↑ Holobuts’ky & Karadobri 2009, hlm. 499.
  8. ↑ Pitro & Vokáč 2002, hlm. 79.
  9. ↑ Ivantis 1989, hlm. 14.
  10. ↑ Sławski 1969, hlm. 375.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan