Minggu, 18 Oktober 2026
18:42 WIB
TERKINI
Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten

Kronik Gowa

Bagikan:

Kronik Gowa atau Sejarah Gowa (bahasa Makassar: Lontara’ Patturioloanga ri Tu-Gowaya) adalah salah satu naskah lontara berbahasa Makassar dari masa Kerajaan Gowa. Kronik ini diperkirakan disusun pada tahun 1538 masa pemerintahan Karaeng Tumapa'risi' Kallonna 1510-1546. Kronik ini menguraikan riwayat raja-raja Gowa sejak kemunculan dinastinya hingga masa pemerintahan Sultan Hasanuddin.

Historiografi

Kronik Gowa secara umum membahas "sejarah" dalam kaitannya dengan para penguasa, alih-alih sejarah negara secara umum. Pembagian bab-babnya didasarkan pada masa pemerintahan raja tertentu. Cummings mencatat bahwa kronik-kronik Makassar bercirikan pembahasan genealogis yang kental.[1] Bahkan, dalam bahasa Makassar sendiri, genre tulisan Kronik Gowa disebut sebagai naskah patturioloang (arti harfiah: "perihal orang-orang terdahulu").[2]

Menurut para ahli, bila dibandingkan dengan catatan-catatan "sejarah" dari Jawa atau bagian Nusantara lainnya, lontara patturioloang Gowa termasuk "faktual" dan "waras".[2] Dalam membahas hal-hal yang supernatural, penulis naskah Makassar selalu menambahkan kalimat "konon katanya" alih-alih menyebutnya sebagai fakta secara langsung. Namun ini bukan berarti bahwa keseluruhan naskah Kronik Gowa dapat dianggap faktual dan bersifat ilmiah. Kronik Gowa bukan naskah sejarah modern yang mencoba mengidentifikasi pola-pola dan merefleksikan kejadian pada masa lalu. Pada akhirnya, catatan ini lebih merupakan sebuah pelegetimasian kekuasaan raja-raja Gowa, baik secara keturunan maupun teritorial.[3]

Catatan

  1. ↑ (Cummings 2007, hlm. 10)
  2. 1 2 (Cummings 2007, hlm. 8)
  3. ↑ (Cummings 2007, hlm. 11)

Referensi

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan