Minggu, 08 November 2026
11:49 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis
Katang

Katang

Genus ular berbisa

Bagikan:
Katang
250px-Banded_Krait_%28Bangarus_fasciatus%29_by_David_V_Raju.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Bungarus fasciatus (welang), spesies krait terbesar
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Reptilia
Ordo: Squamata
Subordo: Serpentes
Famili: Elapidae
Genus: Bungarus
Daudin, 1803
Spesies tipe
Bungarus annularis
Daudin, 1803[1]
Sinonim[1]
Artikel takson sembarang

Katang, katam atau kendawung (bahasa Inggris : krait) adalah sebutan umum untuk 15 spesies ular berbisa mematikan yang semuanya diklasifikasikan sebagai genus Bungarus. Semua jenis katang endemik di Asia bagian selatan hingga tenggara.

Pengenalan

Panjang tubuh katang berkisar antara 1 sampai 1.5 meter, termasuk ekor. Pernah juga ditemukan spesimen dengan panjang mencapai 2 meter. Spesies terbesar adalah B. fasciatus (Welang) yang panjangnya dapat mencapai 2.1 meter.[2] Sebagian besar spesies katang memiliki sisik tubuh yang halus dan mengkilap dengan pewarnaan gelap, terang, atau kombinasi dari keduanya, serta penampang badan segitiga.

Semua spesies katang adalah hewan nokturnal (beraktivitas pada malam hari). Walaupun sering terlihat di siang hari, katang lebih aktif pada malam hari, tetapi tidak terlalu agresif walaupun diganggu. Jika merasa terancam atau terganggu, katang akan menyembunyikan kepalanya di bawah gulungan badannya, dan terkadang menggerak-gerakkan ekornya untuk mengalihkan perhatian.[3] Makanan utama katang adalah ular lain, bahkan jenis atau golongannya sendiri (kanibal). Selain itu, katang juga memangsa tikus dan kadal.[4]

Katang berkembangbiak dengan bertelur (ovipar). Jumlah telur yang dihasilkan sebanyak 12 hingga 14 butir dan katang betina menjaganya sampai menetas.

Racun bisa

Sebagaimana ular Elapidae, katang adalah ular berbisa yang mematikan. Beberapa spesies disebutkan dalam daftar ular yang paling mematikan di dunia berdasarkan penelitian dosis LD50.[5] Bisa katang bersifat neurotoksin, mampu menyebabkan kelumpuhan saraf atau paralisis, dan tidak jarang berujung pada kematian.

Tingkat kematian akibat gigitan katang bervariasi berdasarkan spesies. Berdasarkan penelitian Department of Toxicology di Universitas Adelaide, Australia, gigitan seekor welang menimbulkan tingkat kematian (mortallity rate) 1 sampai 10%,[6] sedangkan jenis B. caeruleus antara 70 sampai 80%.[7] Beberapa situs menyebutkan tingkat kematian akibat gigitan katang sebesar 50%, bahkan tanpa pengobatan. Akan tetapi, tidak disebutkan secara spesifik spesies yang dimaksud dan tidak ada sumber akurat dari literatur pengobatan yang mendukung anggapan tersebut. Secara umum, tingkat kematian bergantung pada kondisi kesehatan korban dan kuantitas bisa yang diterima.

Antibisa polivalen dinilai efektif untuk menetralkan racun dari jenis B. candidus, B. flaviceps, dan mungkin juga untuk B. fasciatus. Dalam kasus terakhir, antibisa monovalen untuk B. fasciatus juga cukup efektif.[8]

Spesies

Referensi

  1. 1 2 "Bungarus". RepFocus - A Survey of the Reptiles of the World. Rune Midtgaard. Diakses tanggal 21 Juli 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ Smith, Malcolm A. (1943). The Fauna of British India, Ceylon and Burma, Including the Whole of the Indo-Chinese Sub-region. Reptilia and Amphibia. Vol. III.—Serpentes. London: Secretary of State for India. (Taylor and Francis, printers). xii + 583 pp. (Bungarus, genus and species, pp. 407-418).
  3. ↑ "Living in Indonesia:Banded Krait". Diarsipkan dari asli tanggal 2006-05-08. Diakses tanggal 2006-06-01.
  4. ↑ Richard Mastenbroek's Elapid Pages: Kraits (Bungarus ssp.)
  5. ↑ Whitaker, Romulus; Captain, Ashok (2004). Snakes of India, The Field Guide. Chennai: Draco Books. 495 pp. ISBN 81-901873-0-9.
  6. ↑ "Bungarus fasciatus ". WCH Clinical Toxinology Resources.
  7. ↑ "Bungarus caeruleus ". WCH Clinical Toxinology Resources. Diarsipkan dari asli tanggal 2016-10-16. Diakses tanggal 2011-11-10.
  8. ↑ Prof Tan, Nget Hong. "Antivenoms against Malaysian poisonous snakes". University of Malaya. Diarsipkan dari asli tanggal 2009-02-28. Diakses tanggal 2009-09-23.
  • Boulenger GA (1896). Catalogue of the Snakes in the British Museum (Natural History). Volume III., Containing the Colubridæ (Opisthoglyphæ and Proteroglyphæ) ... London: Trustees of the British Museum (Natural History). (Taylor and Francis, printers). xiv + 727 pp. + Plates I-XXV. (Genus Bungarus, pp. 365-366, Figure 26, three views of skull).
  • Daudin FM (1803). Histoire Naturelle, Génerale et Particulière des Reptiles; Ouvrage faisant suite aux Œuvres de Leclerc de Buffon, et partie de Cours complete d'Histoire naturelle rédigé par C.S. Sonnini, membre de plusieurs Sociétés savantes. Tome cinquième [Volume 5]. Paris: F. Dufart. 365 pp. (Bungarus, new genus, p. 263). (in French).
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan