Situbondo | |||||
|---|---|---|---|---|---|
Masjid Agung Al-Abror | |||||
| Koordinat: 7°41′22″S 113°59′59″E / 7.6894°S 113.9997°E / -7.6894; 113.9997 | |||||
| Negara | |||||
| Provinsi | Jawa Timur | ||||
| Kabupaten | Situbondo | ||||
| Pemerintahan | |||||
| • Camat | Rosy Rosaindratna, S.Sos. | ||||
| Populasi (2025) | |||||
| • Total | 49.641 jiwa | ||||
| Kode pos | 68311 - 68316 | ||||
| Kode Kemendagri | 35.12.07 | ||||
| Kode BPS | 3512100 | ||||
| Luas | 28,84 km² | ||||
| Desa/kelurahan | 6 | ||||
| |||||
Situbondo (juga sering disebut Situbondo Kota) adalah kecamatan di Kabupaten Situbondo yang berperan sebagai ibu kota kabupaten. Situbondo Kota terletak di tengah kabupaten dan dilintasi Jalan Pantura dari arah Surabaya dan Probolinggo menuju Banyuwangi. Sedangkan ke arah selatan terdapat jalan penghubung menuju Bondowoso dan Jember. Kecamatan Situbondo terdapat alun-alun, pendopo, masjid agung, hingga berbagai kantor pemerintahan. Di alun-alun terdapat Monumen Garuda serta tulisan yang menunjukkan identitas Situbondo sebagai "Kota Santri Pancasila".[1] Selain itu, kecamatan ini juga dilengkapi fasilitas seperti rumah sakit, perguruan tinggi, hotel, fasilitas olahraga, dan lainnya. Situbondo juga memiliki peninggalan sejarah dari zaman kolonial Belanda berupa Pabrik Gula (PG) Olean serta berbagai saluran irigasi yang melintas di tengah kota dan bersumber dari Sungai Sampean.[2]
Geografi

Situbondo adalah kecamatan yang terletak di Kabupaten Situbondo bagian tengah. Kecamatan Situbondo bersama dengan Kecamatan Panji di sebelah timurnya menjadi pusat perkotaan dari Kabupaten Situbondo. Tidak semua wilayah kecamatan ini merupakan kawasan urban karena masih terdapat banyak lahan sawah. Terdapat desa unik di Situbondo yang letaknya terpisah dari wilayah lainnya (eksklave) yaitu Desa Kotakan dan Kalibagor yang wilayahnya memanjang hingga Kabupaten Bondowoso di selatan. Sungai utama yang melintas di kecamatan ini adalah Sungai Sampean yang bermuara di Panarukan. Pusat kota Situbondo juga dilintasi banyak saluran irigasi yang berasal dari berbagai dam di Sungai Sampean, seperti Dam Pintu Lima dan Dam Sluis.
Batas wilayah Kecamatan Situbondo adalah sebagai berikut:[3]
| Utara | Kecamatan Mangaran |
|---|---|
| Timur | Kecamatan Panji |
| Selatan | |
| Barat | Kecamatan Panarukan |
Sejarah

Arti nama Situbondo memiliki asal-usul yang bervariasi. Salah satu sumber referensi menyebutkan bahwa nama Situbondo berasal dari tokoh legendaris bernama Aryo Gajah Situbondo atau Pangeran Situbondo. Beliau adalah seorang ksatria dari Madura yang berniat melamar putri dari Adipati Surabaya. Sang Adipati yang menolak permintaan tersebut kemudian berusaha menyingkirkannya dengan memerintahkan Sang Pangeran untuk membabat hutan di timur Surabaya. Di waktu yang sama, datanglah keponakan Adipati yaitu Joko Taruno dari Kediri yang juga ingin meminang. Adipati memberi syarat bahwa Joko Taruno harus dapat mengalahkan Aryo Situbondo yang kemudian disetujuinya tapi berakhir dengan kekalahan. Adipati masih berusaha untuk menyingkirkan Pangeran Situbondo dengan membuat sayembara. Alhasil salah satu peserta sayembara yaitu Joko Jumput berhasil mengalahkan Pangeran Situbondo dan membuatnya terpental jauh ke wilayah Situbondo sekarang. Kisah tersebut sekarang diabadikan menjadi nama Pendopo Aryo Situbondo di pusat kota. Sedangkan dalam versi cerita lainnya, nama Situbondo berasal dari kata "Siti" yang berarti tanah, dan "Bondo" yang berarti diikat. Sehingga kedua kata tersebut bermakna bahwa Situbondo mengikat para pendatang untuk menetap di wilayah ini.[4][5]
Walaupun asal-usul Situbondo dipenuhi dengan legenda, yang pasti sejarah perkembangan Situbondo dimulai dari Kabupaten Besuki yang berpusat di Kecamatan Besuki sekarang. Perkembangan Kota Situbondo yang cukup signifikan mengalahkan ibu kota Besuki sendiri, sehingga pusat pemerintahan berpindah ke Situbondo hingga sekarang. Namun, pada awalnya kabupaten ini masih bernama Kabupaten Panarukan karena memang saat itu Panarukan merupakan kota pelabuhan yang maju. Nama Panarukan masih terus dipakai hingga tahun 1972 pada masa kepemimpinan Bupati Achmad Tahir.[6] Sejak saat itu, Kabupaten Situbondo secara resmi dijadikan nama kabupaten. Terdapat banyak peninggalan zaman kolonial yang masih ada hingga sekarang. Salah satunya adalah Pabrik Gula (PG) Olean, Stasiun Situbondo (letaknya di Desa Sumberkolak, Panarukan), menara air PDAM, serta berbagai dam. Proyek Dam Sluis di Dawuhan dan Dam Pintu Lima di Kotakan mengalirkan air dari Sungai Sampean ke berbagai desa sehingga mengubah wilayah yang awalnya kering menjadi subur, terutama untuk kebutuhan pabrik gula yang banyak dibangun di Situbondo saat itu.[7]
Galeri
- Tribun perayaan Ratu Wilhelmina di Alun-alun Situbondo
- Keramaian Alun-alun Situbondo
- Pertunjukkan Orang Tionghoa di Situbondo saat perayaan Ratu Wilhelmina
- Pertunjukkan Orang Arab di Situbondo saat perayaan Ratu Wilhelmina
- Kantor pos dan telegraf
- Kantor Bupati Situbondo
- Rombongan Bupati Aryo Poestoko Pranowo
- Rumah asisten residen
- Jalanan di pusat kota Situbondo
- Penyambutan Gubernur Jenderal De Graeff
Daftar kelurahan dan desa
Kecamatan Situbondo terdiri dari 2 kelurahan dan 4 desa yang dibagi menjadi beberapa rukun warga dan rukun tetangga, yakni sebagai berikut:
| No. | Nama Wilayah | Tipe | Jumlah RW / RT | Jumlah Penduduk (2024) | Nama Dusun |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Dawuhan | Kelurahan | 17 / 72 | 14.129 | |
| 2 | Kalibagor | Desa | 4 / 17 | 3.508 | Krajan, Bendungan, Trebung |
| 3 | Kotakan | Desa | 11 / 29 | 6.356 | Cangkring, Selatan, Tengah, Utara |
| 4 | Olean | Desa | 7 / 26 | 5.522 | Olean, Kandang |
| 5 | Patokan | Kelurahan | 20 / 65 | 12.524 | |
| 6 | Talkandang | Desa | 8 / 33 | 7.220 | Talkandang, Lugundang |
Tempat terkenal


- Alun-alun Situbondo
- Pendopo Aryo Situbondo
- Masjid Agung Al-Abror
- Dam Sluis
- Dam Pintu Lima
- Pabrik Gula (PG) Olean
- Universitas Abdurachman Saleh (UNARS)
- Rosali Hotel
Fasilitas kesehatan
- RSUD dr. Abdoer Rahem
- IHC RS Elizabeth
- RS Mata Situbondo
- Puskesmas Situbondo di Talkandang
Fasilitas olahraga
- Stadion Gelora Mohammad Saleh
- GOR Baluran
- Situbondo Sports Centre (SSC)
Kebudayaan

Ancak Agung
Salah satu tradisi yang rutin dilakukan di Kabupaten Situbondo adalah Ancak Agung. Tradisi ini dilaksanakan masyarakat Situbondo dalam merayakan Hari Lahir Nabi Muhammad SAW atau Maulid Nabi. Dinamakan Ancak Agung, karena ribuan warga membuat ancak berukuran besar yang berisi aneka macam hasil bumi. Hasil bumi tersebut berupa buah-buahan dan sayuran yang diletakkan di ancak dengan tampilan semenarik mungkin. Puluhan Ancak Agung ini kemudian diarak mulai dari depan Kantor Pemkab Situbondo di Jalan Sudirman hingga ke Masjid Al-Abror di Jalan Pahlawan Nasional KHR As'ad Syamsul Arifin, tepatnya di sisi barat Alun-Alun Kota Situbondo. Tradisi ini diikuti oleh ribuan warga beserta seluruh instansi pemerintah daerah Situbondo.[8]
Referensi
- ↑ Imam Sofyan (2019-08-15). "Harjakasi: Memaknai Situbondo dari Alun-Alun". TAKANTA.
- ↑ Faizal R Arief (2018-04-26). "Mesin Uap di PG Olean Situbondo akan Jadi Wisata Dunia". TIMES INDONESIA.
- ↑ Kabupaten Situbondo Dalam Angka 2026. BPS Kabupaten Situbondo. 2026-02-27.
- ↑ Chuk S Widarsha (2024-03-14). "Situbondo Dipercaya dari Nama Ksatria Madura yang Tertendang dari Surabaya". DETIK JATIM.
- ↑ Rachmawati, ed. (2025-08-24). "Legenda dan Sejarah Kabupaten Situbondo, dari Pangeran Aryo Gajah hingga Karesidenan Besuki". KOMPAS.
- ↑ Syamsul Muarif (2021-09-11). "Kabupaten Panarukan, Nama Besar yang Terlupakan". TITIAN.id.
- ↑ Edy Supriyono (2024-03-26). "Sejarah Ikon Kemakmuran Situbondo Masa Penjajahan Belanda, Dam Sluice dan Menara Air Kini Masih Bermanfaat Untuk Warga". RADAR SITUBONDO.
- ↑ Diana Arista (2022-10-19). "Ancak Agung Tradisi Masyarakat Situbondo Rayakan Maulid Nabi". RRI.
| Kecamatan | ||
|---|---|---|
| Kelurahan | |
|---|---|
| Desa | |
