Kamis, 29 Oktober 2026
17:24 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Kota Gelanggi

Bagikan:
Kota Gelanggi
LokasiPahang, Malaysia
WilayahAsia Tenggara
JenisPemukiman gua

Kota Gelanggi adalah sebuah situs arkeologi yang dilaporkan pada tahun 2005 yang sangat mungkin merupakan ibu kota pertama Kerajaan Sriwijaya kuno sekitar 650–900 dan salah satu Kerajaan melayu tertua di Melanesia bersama dengan Gangganegara dan Koli. Keberadaan situs tersebut diumumkan sebagai suatu "penemuan" oleh media Malaysia pada 3 Februari 2005.[1]

Geografi

250px-Linggui.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Bendungan Linggui Kota Gelanggi seperti terlihat pada foto satelit.

Situs kota kuno yang dilaporkan ini berada di hutan lebat di negara bagian Malaysia selatan Johor Darul Takzim, dekat sebuat hutan lindung yang saat ini dikelola sebagai Waduk Linggiu oleh Dewan Utilitas Publik (PUB) Singapura.[2] Kondisi ini menempatkan situs tersebut di suatu tempat seluas 140-kilometer-persegi (54 sq mi) dari hutan lindung di sekitar Sungai Madek dan Sungai Lenggiu.

Sejarah

Karya sastra Melayu awal abad ke-17, Sejarah Melayu mencatat bahwa Kota Gelanggi terletak di hulu Sungai Johor dengan benteng utama terbuat dari batu hitam (atau "Kota Batu Hitam" dalam bahasa Melayu). "Kota Gelanggi" mungkin berasal dari salah pengucapan bahasa Melayu dari kata Thai dan bahasa Sino-Tibet Ghlong-Keow atau "Kotak Zamrud" dan "Batu Giok". Beberapa ilmuwan masih banyak yang kurang teliti sehingga menganggap bahwa kerajaan ini merupakan bagian dari Kerajaan Ayutthaya. Prasasti Tamil kuno menunjukkan bahwa kota tersebut diserang pada 1025 oleh penakluk Dinasti Chola India Selatan, Rajendra Chola I, setelah dia menghancurkan Kerajaan Melayu Gangga Negara. Yang terakhir ini umumnya disamakan dengan reruntuhan dan makam kuno yang masih bisa dilihat di distrik Beruas di negara bagian Perak. Peta Semenanjung Malaya dari Eropa kuno menunjukkan lokasi sebuah kota yang dikenal sebagai Polepi (yakni Gelanggi) di ujung selatan Semenanjung Malaya.[3]

Referensi untuk Kota Gelanggi dilaporkan pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 oleh ilmuwan-administrator kolonial termasuk Dudley Francis Amelius Hervey (1849–1911), yang menerbitkan laporan saksi mata kota tersebut pada 1881 dan Sir Richard Olof Winstedt (1878–1966), yang menyatakan bahwa Orang Asli (kelompok pribumi) siap untuk membawa orang menuju situs tersebut pada akhir 1920-an. Kota kuno ini juga dikenal petualang penjelajah Gerald Gardner (1884–1964), yang menemukan reruntuhan Johore Lama sewaktu melakukan pencarian Kota Gelanggi.

Referensi

  1. ↑ "Tracking down Kota Gelanggi" (PDF). The Star. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2010-12-26. Diakses tanggal Mei 26, 2011.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ "The Straits Times - JB downpour fails to raise reservoir level". Government of Singapore. Diarsipkan dari asli tanggal 2015-11-26. Diakses tanggal 25 November 2015.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ Sebastian Munster (1614) Map of Taprobana.

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan