Sabtu, 26 September 2026
23:05 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG
Korioamnionitis

Korioamnionitis

infeksi pada cairan ketuban

250px-Chorioamnionitis_-_high_mag.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Mikrograf pembesaran tinggi korioamnionitis

Korioamnionitis berasal dari kata chorion (selaput luar) dan amnion (kantung yang terisi cairan). Korioamnionitis atau infeksi intraamniotic adalah peradangan akut pada membran dan chorion plasenta karena infeksi bakteri polimikroba yang naik dalam membran.[1]

Penyebab korioamnionitis

Korioamnionitis kondisi infeksi saluran kemih dan prolonged pupture of membrane yang berakibat ketuban pecah masa kelahiran. Penyebab terjadinya korioamnionitis yaitu dikarenakan mikroba (polimikrobial), bakteri mycoplasma hominis, E. coli, group B streptococci, dan bakteri anaerob, dan virus seperti cytomegalovirus, adenovirus, enterovirus, respiratory syncytial virus, dan Epstein-Barr. Infeksi menular seksual, klamidia dan gonore menjadi pemicu dalam perkembangan koriamnionitis. [2]

Beberapa penelitian, menjelaskan bahwa faktor risiko untuk korioamnionitis yaitu ketuban pecah dini, persalinan lama, nulipara, pemantauan internal persalinan, beberapa pemeriksaan vagina, adanya percampuran mekonium dengan cairan ketuban, merokok, penyalahgunaan alkohol atau obat-obatan, keadaan imun okompresi, anestesi epidural, kolonisasi streptokokus grup B, vaginosis bakterial, infeksi genital yang dapat ditularkan secara seksual dan kolonisasi vagina oleh urea plasma.[2]

Risiko korioamnionitis

Korioamnionitis dapat berakibat buruk terhadap ibu dan bayi dengan kondisi lahir mati, prematur, penyakit paru-paru kronis dan cedera pada otak dan perkembangan saraf yang cacat. Berdasarkan diagnosis secara klinis terdapat tanda-tanda seperti demam ibu, secara mikrobiologis berdasarkan kultur cairan ketuban yang diperoleh dengan amniosentesis, atau dengan pemeriksaan histopatologi plasenta dan tali pusat.

Strategi pencegahan utama adalah pemberian antibiotik kepada wanita dengan pecahnya membran prematur yang mengurangi kejadian korioamnionitis klinis, memperpanjang waktu persalinan dan meningkatkan hasil neonatal. Manajemen optimal korioamnionitis klinis termasuk terapi antibiotik dan persalinan. Namun, mempersingkat waktu antara diagnosis dan persalinan dengan kinerja operasi sesar dalam pengaturan pemberian antibiotik spektrum luas telah terbukti tidak meningkatkan hasil.[1]

Referensi

  1. 1 2 Tita, Alan T. N.; Andrews, William W. (2010-6). "Diagnosis and Management of Clinical Chorioamnionitis". Clinics in perinatology. 37 (2): 339–354. doi:10.1016/j.clp.2010.02.003. ISSN 0095-5108. PMC 3008318. PMID 20569811.{{cite journal}}: Periksa nilai tanggal dalam: |date=
  2. 1 2 Triananda, Muhammad Hanif. "Korioamnionitis jurnal".{{cite journal}}: Kutipan journal memerlukan |journal=
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan