Minggu, 01 November 2026
18:17 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Austria — korban pertama Nazi

Austria — korban pertama Nazi

Bagikan:
330px-Bundesarchiv_Bild_183-1987-0922-500%2C_Wien%2C_Heldenplatz%2C_Rede_Adolf_Hitler.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
15 Maret 1938: Warga Wina menyambut Hitler di Heldenplatz. Namun, gambar ini ditolak oleh para pendukung slogan politik "korban pertama nazi" karena dianggap sebagai propaganda Goebbels.[1]

"Austria – korban pertama Nazi" adalah sebuah slogan politik yang pertama kali digunakan dalam Konferensi Moskwa dan kemudian menjadi landasan ideologi Austria dan kesadaran nasional bangsa Austria pada periode pendudukan Austria oleh Sekutu dari tahun 1945 hingga 1955.[2][3][4] Menurut interpretasi para pendiri Republik Austria Kedua, peristiwa Anschluss pada tahun 1938 adalah sebuah agresi militer yang dilancarkan oleh Reich Ketiga. Kenegaraan Austria sempat terhapuskan, sehingga Austria yang telah dibebaskan pada tahun 1945 tidak dapat dan seharusnya tidak dianggap bertanggung jawab atas kejahatan-kejahatan Nazi. "Teori korban" yang digagas pada tahun 1949 (bahasa Jerman:Opferthese, Opferdoktrin) menyatakan bahwa semua orang Austria, termasuk para pendukung Hitler, adalah korban rezim Nazi dan tidak bertanggung jawab atas kejahatan-kejahatannya.

"Teori korban" menjadi mitos yang menyebar di masyarakat Austria. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, teori ini menyatukan musuh-musuh politik yang pernah terlibat dalam perang saudara (kelompok demokrat sosial dengan Katolik konservatif) dan juga mengembalikan mantan anggota Nazi Austria ke kehidupan politik dan sosial. Selama hampir setengah abad, negara Austria menolak kelanjutan status politik Austria pada periode 1938–1945 dan secara aktif mempromosikan mitos pengorbanan bangsa Austria. Proses denazifikasi pun dengan cepat terjadi, dan veteran-veteran Wehrmacht dan Waffen-SS mendapat posisi yang terhormat di masyarakat. Perjuangan korban-korban Nazi yang sebenarnya untuk memperoleh keadilan (seperti orang Yahudi) dituduh sebagai upaya untuk memperkaya diri.

Pada tahun 1986, pemilihan mantan petugas intelijen Wehrmacht Kurt Waldheim sebagai Presiden Austria hampir membuat Austria terisolasi di dunia internasional. Tekanan dari luar dan diskusi politik internal memaksa orang-orang Austria untuk mempertimbangkan kembali cara mereka memandang masa lalu. Pada tahun 1990-an dan 2000-an, bangsa Austria akhirnya mengakui tanggung jawab kolektif atas kejahatan yang dilakukan pada masa pendudukan Nazi dan tidak lagi mempromosikan "teori korban".

Catatan kaki

  1. ↑ Uhl 2006, hlm. 40–41.
  2. ↑ Uhl 1997, hlm. 66.
  3. ↑ Art 2005, hlm. 104.
  4. ↑ Embacher & Ecker 2010, hlm. 16.

Daftar pustaka


Ikon rintisan

Artikel bertopik politik ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan