Rabu, 28 Oktober 2026
22:37 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Pawai kematian

Pawai kematian

Bagikan:
500px-Kolona_Usta%C5%A1ev_in_hrva%C5%A1kih_beguncev_blizu_Pliberka.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Migran Kroasia dan ustashe dalam kirab kematian (repatriasi Bleiburg)

Pawai kematian adalah kirab paksa terhadap tahanan perang, tawanan, atau narapidana lainnya yang dibiarkan mati di sepanjang perjalanan.[1] Kondisi ini berbeda dengan transportasi tahanan sederhana dengan cara berjalan kaki. Kirab kematian biasanya disertai dengan kerja keras dan penganiayaan fisik, pengabaian terhadap cedera dan penyakit tahanan, kelaparan dan dehidrasi yang disengaja, pelecehan dan penyiksaan, dan mengeksekusi tahanan yang tidak mampu menjaga kecepatan gerak. Perjalanan akan berakhir di kamp tawanan perang atau kamp interniran, atau tetap berlanjut sampai semua tahanan tewas (suatu bentuk "eksekusi melalui kerja", misalnya dalam genosida Armenia).

Jenderal Masaharu Homma didakwa gagal mengendalikan pasukannya pada tahun 1945 sehubungan dengan Kirab Kematian Bataan.[2][3]

Contoh

Lihat juga

Referensi

  1. ↑ https://www.merriam-webster.com/dictionary/death%20march
  2. ↑ Steiner, K., Lael, R. R., & Taylor, L. (1985). War Crimes and Command Responsibility: From the Bataan Death March to the MyLai Massacre. Pacific Affairs, 58(2), 293.
  3. ↑ Maguire, Peter. Law and War: International Law and American History. Columbia University Press (2010), 108
  4. ↑ "Trail of Tears". Choctaw Nation. Diarsipkan dari asli tanggal 2016-03-12.
  5. ↑ Naimark, Norman M. Stalin's Genocides (Human Rights and Crimes against Humanity). Princeton University Press, 2010. p. 131. ISBN0-691-14784-1
  6. ↑ Rosefielde, Steven (2009). Red Holocaust. Routledge. hlm. 84. ISBN 978-0-415-77757-5.
  7. ↑ "Ukraine's Parliament Recognizes 1944 'Genocide' Of Crimean Tatars". RadioFreeEurope/RadioLiberty.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan