Rabu, 21 Oktober 2026
00:29 WIB
TERKINI
Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari

Ketoprak Dor

seni pertunjukan rakyat di Indonesia

Bagikan:

Ketoprak Dor adalah seni pertunjukan rakyat dengan gaya opera. Ketoprak Dor merupakan warisan tradisi hiburan orang-orang Jawa Deli di Sumatra bagian Timur. Seni pertunjukan ini lahir di tengah-tengah situasi perbudakan terburuk dalam sejarah Asia Tenggara dan menjadi bagian sejarah kuli kontrak di tanah Deli[1][2]

Ciri-ciri

Ketoprak Dor merupakan produk asimilasi kesenian dengan kemasan yang tidak lagi 100 persen Jawa. Ada percampuran budaya seperti Melayu, India, Tionghoa dan Jawa dalam kesenian ini. Ciri khas pertunjukan ini yaitu bahasa, lakon dan musik.

Lakon-lakon yang dibawakan tidak selalu tentang kisah-kisah kepahlawanan, ksatria Jawa tetapi hikayat dari tanah Deli dan cerita keseharian yang disampaikan lewat bahasa Melayu (Indonesia). Ketoprak Dor banyak mengangkat persoalan para kuli kontrak di kawasan perkebunan. Pendekatan Ketoprak Dor tidak mengabarkan derita, melainkan dagelan (humor), sebagai semacam penawar kerinduan pada kampung halaman.

Perlengkapan alat musik pada pertunjukan ini menggunakan akordion atau harmonium (alat musik khas Melayu), keyboard, drum, bas elektrik, alat tiup dan perkusi dari tanjidor (sebagai pengiring), dan balok kayu yang dilubangi seperti kentongan. Balok kayu ini menghasilkan bunyi Prak dan Dor. Dari suara musik inilah, pertunjukan ini diberinama Ketorprak Dor.

pakaian yang digunakan terpengaruh budaya Melayu seperti penggunaan kain ikatan atau songket; budaya Timur Tengah dan India seperti kain sutra yang penuh pernak pernik; budaya Belanda dan Portugis seperti pakaian pembesar kerajaan.[2]

Sejarah

Ketoprak Dor lahir pada akhir abad ke-19, ketika Belanda mulai menanam tembakau. Saat itu Belanda mengusung puluhan ribu buruh perkebunan dari Jawa.[3] Hal ini karena kuli dari India dan Tingkok tidak mencukupi, meskipun para kuli rekrutan dari Tiongkok lebih ahli karena memiliki tradisi tanam tembakau. Perlakuan brutal tuan kebun Belanda membuat jengkel dan frustrasi para kuli kontrak. Situasi ini menimbulkan rasa kerinduan akan hiburan sebagai pelipur lara. Tembang dan nyanyian yang pernah didengar atau tontonan yang pernah menghibur ketika mereka masih tinggal di kampung halaman, muncul kembali dalam kenangan mereka dan berperan menjadi pereda menghilangkan rasa lara di hati.[1]

Rasa kesepian dan kerinduan terhadap kampung halaman membuat mereka ingin bergembira dan tertawa saat menonton Ketoprak Mataram.[2] Akhirnya mereka pun membuat sebuah pertunjukkan kesenian, meskipun menemui kesulitan dalam memadukan gerak tari, nyanyian, dialog, cerita, dan musik. Mereka menggunakan berbagai perlengkapan yang ada sebagai adaptasi dari ketoprak yang asli.[2]

Referensi

  1. 1 2 Rizaldi Siagian, Catatan Budaya: Di tengah perbudakan lahir Ketoprak Dor, Kompas, minggu, 13 Desember 2015. hal. 27
  2. 1 2 3 4 Mohammad Hilmi Faiq, Kesenian: Daya hidup rakyat di Ketorprak Dor. Kompas, minggu, 13 Desember 2015. hal. 1 dan 15
  3. ↑ catatan Jan Breman dalam Menjinakkan Sang Kuli: Politik Kolonial pada awal Abad ke-20 (1997) dalam Daya hidup rakyat di Ketoprak Dor

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan