Artikel ini tidak memiliki referensi atau sumber tepercaya sehingga isinya tidak bisa dipastikan. Tolong bantu perbaiki artikel ini dengan menambahkan referensi yang layak. Tulisan tanpa sumber dapat dipertanyakan dan dihapus sewaktu-waktu. Cari sumber: "Kerupuk bakar" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR |
artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia. Tidak ada alasan pembersihan diberikan. Silakan kembangkan artikel ini semampu Anda. Merapikan artikel dapat dilakukan dengan wikifikasi atau membagi artikel ke paragraf-paragraf. Jika sudah dirapikan, silakan hapus templat ini. (Januari 2026) (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini) |
Kerupuk bakar atau opak adalah makanan khas Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Makanan ini dibuat dari adonan bahan utama yang diolah menjadi kerupuk dan dipanggang hingga menghasilkan cita rasa gurih serta tekstur renyah yang khas. Opak dikenal sebagai salah satu unsur penting dalam sajian bubur opak khas Bandungan, meski tak diketahui pasti siapa penemu pertama makanan tradisional ini. Awalnya, produksi kerupuk bakar banyak dilakukan di daerah Candi, Bandungan. Namun, karena usia para pembuat kerupuk yang sudah lanjut, pusat produksi kemudian berpindah ke daerah Glodogan, Pancoran (Harjosari, Bawen), yang hingga kini menjadi satu-satunya daerah yang masih mempertahankan produksi kerupuk bakar atau opak secara tradisional.[1]
Kerupuk sendiri merupakan salah satu makanan ringan yang sangat digemari masyarakat Indonesia dan sering dijadikan pelengkap berbagai sajian makanan maupun lauk. Proses pembuatan kerupuk memerlukan tahapan pengeringan agar menghasilkan mutu yang baik dan tekstur yang renyah saat dikonsumsi. Dalam proses produksinya, pengeringan menjadi faktor penting karena sangat memengaruhi mutu, kebersihan, dan daya tahan produk. Seiring perkembangan teknologi, selain mengandalkan sinar matahari secara langsung, pengeringan kerupuk juga memanfaatkan energi panas dan teknologi pengering modern.[1] Pemanfaatan energi panas, seperti energi surya dan biomassa kayu bakar, dapat membantu mempercepat pengeringan, meningkatkan efisiensi produksi, serta menjaga mutu kerupuk agar tetap higienis. Selain itu, penggunaan energi surya dinilai lebih hemat biaya, ramah lingkungan, dan mampu mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Dalam industri kerupuk tradisional, penggunaan tungku biomassa berbahan kayu bakar masih banyak digunakan karena mudah diperoleh dan lumayan murah. Energi panas dari pembakaran kayu membantu proses lengeringan sehingga kerupuk dapat kering secara merata. Teknologi pengering berbasis energi surya dan biomassa juga memungkinkan proses produksi tetap berjalan meski pada musim hujan, sehingga produksi kerupuk menjadi lebih stabil dan efisien.[2] Kerupuk bakar atau opak merulakan makanan khas daerah yang juga menjadi bagian dari warisan kuliner masyarakat Jawa Tengah yang masih dipertahankan hingga saat ini. Keberadaannya mencerminkan nilai tradisi, kreativitas masyarakat setempat, serta perkembangan teknologi sederhana dalam industri pangan rumahan.
Referensi
- 1 2 Adiyanto, Okka; Suratmo, Bandul; Susanti, Devi (2017-10-03). "PERANCANGAN PENGERING KERUPUK RAMBAK DENGAN MENGGUNAKAN KOMBINASI ENERGI SURYA DAN ENERGI BIOMASSA KAYU BAKAR". JISI: Jurnal Integrasi Sistem Industri. 4: 1–10. doi:10.24853/jisi.4.1.1-10.
- ↑ Adriany, Levina Safa (2024). "ANALISIS RISIKO KESEHATAN LINGKUNGAN PAPARAN GAS KARBON MONOKSIDA (CO) PADA PEKERJA INDUSTRI KERUPUK RUMAHAN KOTA SEMARANG" (PDF). Eprints UNDIP.