Senin, 28 September 2026
16:49 WIB
TERKINI
Berita Dilema Ganjil Genap Jakarta: Evaluasi Setelah 1 Dekade, Relaksasi Jadi Perdebatan Berita Evakuasi Buaya Peliharaan di Bandar Lampung Penuh Haru, Pemilik Sempat Pingsan Berita Polemik Buku 'Memburu Muhammad': Penulis dan Tokoh Islam Jelaskan Niat Baik Regional Flyover Ciroyom Bandung Rampung, Solusi Baru Atasi Kemacetan Kota Regional Informasi Persiapan Vihara Jelang Imlek Belum Tersedia Regional Wujudkan Rumah Impian: Pendaftaran KPR Kini dalam Genggaman dengan BTN Mobile Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto Hukum Sorotan Tajam: Hunian Mewah di Area Asimilasi Lapas Cibinong Jadi Perdebatan Kolom Mahkamah Konstitusi Kubur Ambang Batas Pilpres, Desakan Tak Menghidupkan Kembali Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Berita Dilema Ganjil Genap Jakarta: Evaluasi Setelah 1 Dekade, Relaksasi Jadi Perdebatan Berita Evakuasi Buaya Peliharaan di Bandar Lampung Penuh Haru, Pemilik Sempat Pingsan Berita Polemik Buku 'Memburu Muhammad': Penulis dan Tokoh Islam Jelaskan Niat Baik Regional Flyover Ciroyom Bandung Rampung, Solusi Baru Atasi Kemacetan Kota Regional Informasi Persiapan Vihara Jelang Imlek Belum Tersedia Regional Wujudkan Rumah Impian: Pendaftaran KPR Kini dalam Genggaman dengan BTN Mobile Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto Hukum Sorotan Tajam: Hunian Mewah di Area Asimilasi Lapas Cibinong Jadi Perdebatan Kolom Mahkamah Konstitusi Kubur Ambang Batas Pilpres, Desakan Tak Menghidupkan Kembali Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan

Kerapan Sapi Brujul

Kerapan Sapi Brujul adalah tradisi budaya khas masyarakat agraris di Kota Probolinggo, Jawa Timur, yang menyerupai kerapan sapi dari Madura, berbeda dengan kerapan sapi dari Madura yang dilangsungkan di lahan kering atau lahan berumput. Kerapan Sapi Brujul memiliki karakteristik berbeda karena dilangsungkan di lahan persawahan yang berlumpur dan tergenang air.

Asal-usul

Tradisi ini berakar dari kebiasaan para petani yang membajak sawah menggunakan sepasang sapi sebelum masa tanam padi. Sawah terlebih dahulu digenangi air, kemudian dibajak secara tradisional.[1]

Untuk menghilangkan kejenuhan dan mempererat kebersamaan, para petani mulai mengadakan lomba balapan sapi di lahan sawah berlumpur tersebut. Aktivitas ini lambat laun berkembang menjadi sebuah perlombaan yang dikenal sebagai Kerapan Sapi Brujul, dan rutin diselenggarakan menjelang musim tanam padi sebagai bentuk hiburan sekaligus ungkapan rasa syukur kepada Tuhan.

Pada awalnya, tradisi ini bersifat non-kompetitif dan tidak melibatkan hadiah, karena esensinya adalah kesenangan kolektif dan semangat gotong royong. Namun, seiring waktu, penyelenggaraan lomba menjadi lebih terorganisasi.[1] Salah satu ketentuan yang tetap dijaga dalam perlombaan ini adalah kewajiban bagi joki untuk mengenakan udheng, yaitu ikat kepala khas Probolinggo, sebagai bagian dari pelestarian identitas budaya lokal.

Seiring waktu, minat masyarakat terhadap Kerapan Sapi Brujul mengalami peningkatan yang signifikan. Antusiasme ini mendorong terbentuknya kelompok-kelompok masyarakat yang secara aktif menyelenggarakan perlombaan secara rutin. Tradisi ini mengalami perkembangan, terutama dalam aspek estetika dan teknis, seperti penggunaan busana megah bagi joki dan sapi, serta pelatihan intensif untuk menciptakan keselarasan antara sapi dan joki dalam perlombaan. Dengan demikian, Kerapan Sapi Brujul tidak sekadar menjadi ajang kompetisi, melainkan juga sarana pembinaan budaya dan keterlibatan sosial dalam pelestarian tradisi lokal.[2]

Perluasan tradisi ini mencakup berbagai wilayah di Kota Probolinggo, antara lain di Kelurahan Triwung Kidul, Sumberwetan, Kedopok, Wonoasih, Jrebeng Kidul, Pilang, dan ketapang. Fenomena ini menunjukkan bahwa tradisi Kerapan Sapi Brujul tidak hanya terpusat di wilayah perkotaan, tetapi juga mendapat sambutan luas hingga pelosok pinggiran kota. Puncak acara ditandai dengan pemberian penghargaan kepada pemenang, yang diiringi prosesi arak-arakan menggunakan alat musik tradisional Pandalungan, khususnya kenong telok. Unsur musikal ini menambah nilai artistik dan simbolik dalam pelestarian budaya lokal.

Pada 18 Oktober 2019, Kerapan Sapi Brujul resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Penetapan ini memperkuat posisi Kerapan Sapi Brujul sebagai kekayaan budaya lokal yang sah milik masyarakat Probolinggo, sekaligus mencegah klaim budaya oleh daerah lain. Tradisi ini kini diakui sebagai bagian dari identitas kultural dan wujud keberagaman budaya di wilayah Probolinggo.[3]

Referensi

  1. 1 2 "Kerapan Sapi Brujul, Sebuah tradisi semacam kerapan sapi di Madura". Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya. 30 Oktober 2019. Diakses tanggal 2025-06-17..{{cite web}}: |first= tidak memiliki |last=; Periksa nilai tanggal dalam: |access-date=
  2. ↑ "Kerapan Sapi Brujul: Warisan Budaya Lokal dari Probolinggo". Bolinggo.co. 09 Maret 2024. Diakses tanggal 2025-06-17.{{cite web}}: |first= tidak memiliki |last=; Periksa nilai tanggal dalam: |date=
  3. ↑ Happy Lailatuansyah (4 Juni 2024). "Sejarah Kerapan Sapi Brujul Probolinggo, Bermula dari Petani yang Bosan". Suara.hits. Diakses tanggal 2025-06-17..{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date=
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan