


Kepulauan Biak (Inggris: Biak Islands, juga dikenal sebagai Kepulauan Schouten atau Kepulauan Geelvink) adalah gugusan pulau di Provinsi Papua, Indonesia bagian timur, yang terletak di Teluk Cenderawasih (atau Teluk Geelvink) sekitar 50 km di lepas pantai barat laut Pulau Papua. Gugusan ini terdiri atas pulau-pulau utama Biak, Supiori, dan Numfor, serta sejumlah pulau kecil lainnya yang sebagian besar tertutup hutan hujan. Populasi kepulauan ini berjumlah sekitar 130.000 jiwa.
Sejarah
Penampakan Kepulauan Schouten oleh orang Eropa yang pertama kali tercatat dilakukan oleh navigator Portugis Jorge de Menezes pada tahun 1526. Dalam pelayaran dari Melaka menuju Maluku, melalui wilayah utara Kalimantan, ia terbawa lebih jauh ke arah timur akibat badai dan angin kencang. Jorge de Menezes mendarat di Biak, dan terpaksa menghabiskan musim dingin di sana. Terinspirasi oleh nama-nama dari bahasa Melayu, Maluku, atau bahasa penduduk lokal Papua, ia menamai kepulauan tersebut, dan kemudian juga wilayah pesisir Papua bagian barat, sebagai "Kepulauan Papua". Sejak saat itu, dalam peta-peta Portugis, Biak disebut sebagai Ilha de Dom Jorge atau Ilha onde invernou Dom Jorge, dan Ilha de S. Jorge.[1][2]
Kepulauan tersebut juga terlihat oleh navigator Spanyol Álvaro de Saavedra yang mendarat di Yapen pada tanggal 24 Juni 1528, saat berusaha kembali dari Tidore ke Spanyol Baru. Kepulauan itu diberi nama Islas de Oro (Kepulauan Emas dalam bahasa Spanyol). Pada tahun 1545, kepulauan tersebut dikunjungi oleh Íñigo Ortiz de Retes yang berlayar dengan kapal galiung San Juan.[3]
Kepulauan ini pertama kali dipetakan dalam peta Portugis Gaspar Viegas (c. 1537), peta anonim tahun 1540, dan pada peta João de Lisboa dan Bartolomeu Velho (c. 1560), dan peta Portugis, Spanyol, dan Belanda lainnya.[4]
Kepulauan Schouten pada akhirnya dinamai menurut penjelajah Belanda Willem Schouten, yang menjelajahi kepulauan tersebut pada tahun 1615.
Kesultanan Tidore memiliki hubungan upeti dengan pulau-pulau tersebut. Para pelaut dari wilayah itu biasa memberikan penghormatan secara rutin kepada sultan.[5]
1°00′S 136°00′E / 1.000°S 136.000°E / -1.000; 136.000
Rujukan
- ↑ Kratoska, Paul H. (2001). South East Asia, Colonial History: Imperialism before 1800. South East Asia, Colonial History. Vol. 1. Taylor & Francis. hlm. 56.
- ↑ J. H. F. Sollewun Gelpke, On the Origin of the Name Papua
- ↑ Coello, Francisco, "Conflicto hispano-alemán", Boletín de Sociedad Geográfica de Madrid XIX. 2nd semester 1885, Madrid, pp. 234, 239, 309, 310, 315, 319.
- ↑ Luis Filipe F. R. Thomaz, The image of the Archipelago in Portuguese cartography of the 16th and early 17th centuries, Persee, 1995, Volume 49, pp. 79–124
- ↑ Slama, Martin (2015), "Papua as an Islamic Frontier: Preaching in 'the Jungle' and the Multiplicity of Spatio-Temporal Hierarchisations", From 'Stone-Age' to 'Real-Time': Exploring Papuan Temporalities, Mobilities and Religiosities, ANU Press, pp. 243–270, ISBN978-1-925022-43-8
Artikel bertopik pulau di Indonesia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya. |
| Internasional | |
|---|---|
| Lain-lain | |