Minggu, 25 Oktober 2026
13:04 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung

Kematian maternal

aspek dalam reproduksi manusia dan ilmu medis

Bagikan:
Kematian maternal
SpesialisasiObstetri Sunting ini di Wikidata

Kematian maternal atau kematian ibu hamil merupakan kematian wanita sewaktu hamil, melahirkan atau dalam 42 hari sesudah berakhirnya kehamilan sesuai dengan definisi WHO.[1][2] WHO juga mendefinisikan kematian maternal tanpa melihat usia kehamilan dan letak janin, disebabkan apapun yang terkait dan diperburuk oleh kehamilan atau penanganannya, tetapi tidak disebabkan oleh kecelakaan. Kematian ibu hamil dapat disebabkan oleh beberapa faktor, baik faktor klinis, faktor pelayanan kesehatan, maupun faktor-faktor non-kesehatan.[2]

Menurut data WHO dan UNFPA, sekitar 800 perempuan meninggal dunia setiap harinya karena sebab-sebab yang bisa dicegah yang berkaitan dengan hamil dan melahirkan. Untuk setiap perempuan yang meninggal dunia, terdapat 20-30 perempuan yang mengalami cedera, infeksi, dan disabilitas. Pada 2020 tercatat 287.000 perempuan yang meninggal karena kematian maternal, angka ini menurun dari data 2017 yang mencapai 295.000 perempuan. Secara global, rasio kematian maternal mengalami tren penurunan, dari 342 kematian per 100.000 kelahiran pada tahun 2000 menjadi 211 kematian per 100.000 kelahiran pada 2017.[3][4]

Meski demikian, terdapat disparitas atau ketimpangan kematian maternal antara negara maju dan negara berkembang. Sekitar 95% kematian ini terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, di mana angka kematian ibu (AKI) di Afrika Sub-Sahara dan Asia Selatan mencapai 87% dari total kematian (237.000).[3][4] Rasio kematian maternal di negara berpenghasilan rendah mencapai 430 per 100.000 kelahiran, sementara di negara berpenghasilan tinggi hanya 12 per 100.000 kelahiran. Meski demikian, terdapat penurunan rasio kematian maternal yang signifikan di Eropa Timur (70%) dan Asia Selatan (67%) sepanjang 2000-2020. Subkawasan Afrika Timur, Asia Tengah, Asia Timur, dan Afrika Utara berhasilkan menurunkan rasio kematian maternal hingga separuh.[3]

Isu kesehatan perempuan dan kematian ibu hamil merupakan prioritas pembangunan nasional dan global. Konferensi Internasional tentang Populasi dan Pembangunan dan Tujuan Pembangunan Milenium memiliki target penurunan rasio kematian maternal hingga 75% pada 1990-2015 yang sayangnya tidak tercapai. Pengganti MDGs, yakni SDGs atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan memiliki target penurunan angka kematian ibu hamil hingga 70 kematian per 100.000 kelahiran pada 2030.[4]

Kematian maternal dibagi menjadi 2, yakni kematian maternal secara langsung dan tidak langsung.

Faktor penyebab obstetrik langsung dan tidak langsung

Kematian maternal disebabkan oleh komplikasi selama kehamilan dan persalinan. Penyebab kematian maternal terdiri atas dua penyebab. Pertama, penyebab obstetrik langsung karena komplikasi saat kehamilan, pesalinan dan nifas, termasuk komplikasi aborsi. Kedua, penyebab obstetrik tidak langsung, yaitu kematian maternal yang diakibatkan oleh penyakit yang sudah diderita sebelum kehamilan atau penyakit yang timbul selama kehamilan yang tidak berkaitan dengan penyebab obstretri langsung, akan tetapi diperburuk oleh kehamilan.[2] Sekitar 75% kematian ibu hamil disebabkan oleh 5 penyebab langsung ini, antara lain:

  • pendarahan hebat (terutama pendarahan setelah persalinan);
  • sepsis/infeksi (biasanya setelah persalinan);
  • tekanan darah tinggi selama kehamilan (preeklampsia and eklampsia);
  • komplikasi dari persalinan; dan
  • aborsi yang tidak aman.[3]

Faktor non-kesehatan

Kematian maternal tidak hanya disebabkan oleh komplikasi medis dan pelayanan kesehatan, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor non-kesehatan. Berdasarkan studi kasus di Provinsi Banten, faktor non-kesehatan ini meliputi hambatan dari sisi pasien, keluarga, administrasi, hingga logistik. Beberapa kendala non-kesehatan yang paling sering terjadi di antaranya adalah:

  • ekonomi dan psikologis : rasa takut pada pada pasien untuk dibawa kerumah sakit atau ketakutan untuk menjalani operasi karena rasa sakit atau kurangnya biaya, sehingga pasien baru dibawa ke fasilitas kesehatan ketika kondisinya sudah sangat parah
  • sosial budaya : faktor sosial seperti pernikahan usia dini atau diluar nikah kerap membuat seorang calon ibu menyembunyikan kehamilannya sehingga menghindari pemeriksaan kesehatan secara rutin.
  • geografis dan transportasi : jarak tempuh menuju fasilitas kesehatan serta ketersediaan transportasi tercatat sebagai penyumbang keterlambatan ibu hamil dalam mencapai fasilitas kesehatan.[5]

Pencegahan

Perawatan pra-melahirkan

Perawatan pra-melahirkan adalah langkah penting untuk menjamin keselamatan ibu dan bayi. WHO merekomendasikan setidaknya 8 kali kunjungan pra-melahirkan bagi para ibu hamil agar dapat mengecek tanda-tanda kesehatan yang kurang baik atau penyakit, seperti berat badan di bawah normal, anemia, hipertensi, atau infeksi serta memonitor kondisi janin.[4]

Penolong persalinan yang terampil

Penolong persalinan yang terampil, dengan dukungan darurat, adalah intervensi paling penting untuk memastikan keselamatan ibu. Penolong yang terampil adalah tenaga kesehatan seperti dokter, perawat, dan bidan yang mempunyai keterampilan menangani persalinan normal dan mengenali komplikasi. Mereka dapat menangani komplikasi dasar dan bila perlu merujuk pasien ke perawatan darurat yang komprehensif. Penolong persalinan yang terampil juga penting untuk memastikan kesehatan bayi baru lahir.[4]

Perawatan obstetri darurat

Hal ini sangat penting untuk mengurangi angka kematian ibu. Penyebab langsung utama kematian ibu berkaitan erat dengan kondisi klinis, sehingga hal ini dapat segera ditangani apabila terdapat nakes dan fasilitas yang memadai. Jika terjadi komplikasi, semua perempuan dan bayi baru lahir harus memiliki akses cepat ke fasilitas obstetri darurat yang berfungsi baik.[4]

Perawatan pasca-melahirkan

Setelah ibu menjalani proses persalinan, ibu perlu diberikan perawatan pasca-melahirkan dalam 24 jam pertama, pada hari ketiga setelahnya, dan pada minggu kedua dan keenam. Perawatan ini sama pentingnya dengan perawatan pra-melahirkan. Pendarahan, sepsis, dan gangguan hipertensi dapat terjadi ketika ibu meninggalkan fasilitas kesehatan. Bayi baru lahir juga sangat rentan sehingga membutuhkan perhatian khusus.[4]

Referensi

  1. ↑ Pondok Ibu (2012-04-12). "Penyebab Kematian Maternal". Pondokibu. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-05-31. Diakses tanggal 2024-03-23.
  2. 1 2 3 Suriyati (2022). Kematian Maternal dan Faktor Predisposisi Penyebabnya (PDF). Purbalingga: Eureka Media Aksara.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. 1 2 3 4 WHO (2023-02-22). "Maternal mortality". WHO (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2024-03-23.
  4. 1 2 3 4 5 6 7 UNFPA (2022-05-01). "Maternal health". UNFPA (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2024-03-23.
  5. ↑ Sakinah, Innama; Jubaedi, Ahmad; Musfirowati, Fifi (2023-02-01). "Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Kematian Maternal dalam Penguatan Pengetahuan dan Pengembangan Kebijakan Kesehatan: Studi Otopsi Verbal Maternal". Oksitosin : Jurnal Ilmiah Kebidanan (dalam bahasa Inggris). 10 (1): 69–88. doi:10.35316/oksitosin.v10i1.2589. ISSN 2597-6524.

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan