Minggu, 01 November 2026
15:31 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Kemarau basah

Bagikan:

Kemarau basah adalah istilah yang digunakan untuk menyebut kondisi cuaca ketika curah hujan tetap tinggi atau di atas normal pada periode yang seharusnya merupakan musim kemarau. Fenomena ini biasanya terjadi akibat anomali iklim, misalnya pengaruh suhu muka laut yang lebih hangat dari biasanya.

Dampak

Kemarau basah dapat meningkatkan risiko gagal panen pada tamanan yang membutuhkan musim kemarau untuk masa pengeringan. Sebagai contoh, penanaman padi gunung di daerah Kalimantan biasanya membutuhkan sinar matahari terik di sepanjang bulan Agustus untuk membantu proses pembukaan lahan.[1] Dalam kondisi normal, pada bulan Juni hingga Juli, petani padi gunung biasa membuka lahan baru dengan menebang pohon kecil. Semak-semak yang tersisa dibiarkan mengering pada bulan Agustus. Namun, akibat kemarau basah, Juni hingga Agustus cenderung sering hujan. Akibatnya, proses penanaman padi gunung harus diundur sampai Desember atau Januari. Akibatnya, semak-semak yang sudah ditebas tidak kering-kering. Proses pengeringan semak tersebut merupakan tahapan penting dalam proses penanaman padi gunung. Ladang yang sudah dibersihkan akan dibakar, agar abu dan arang sisa pembakaran tersebut menjadi pupuk alami pada lahan pertanian. Secara umum, metode ini digunakan sebab Pulau Kalimantan tidak punya gunung api aktif. Tanahnya tak sesubur Pulau Jawa.

Selain itu, kemarau basah dapat mengakibatkan kondisi lahan menjadi terlalu lembap, hingga menyebabkan gagal panen pada komoditas-komoditas seperti jagung, kacang-kacangan dan kedelai. Beberapa jenis hama dan penyakit juga lebih mudah berkembang dalam kondisi lembab. Perubahan pola hujan ini juga menyebabkan para petani kesulitan untuk merencanakan siklus aktivitasnya.[2]

Contoh kasus

Menurut data BMKG, Indonesia pernah mengalami beberapa kemarau basah dalam satu dekade terakhir, yaitu pada tahun 2010, 2013, 2016, 2020, 2022, dan kini terindikasi muncul kembali pada 2025.[1] Polanya menunjukkan tren yang semakin sering dan durasi yang lebih panjang.

Jika dibandingkan dengan periode normal, periode musim kemarau pada tahun 2025 diprediksi lebih pendek daripada biasanya di 43 persen wilayah.

Lihat pula

Referensi

  1. 1 2 Sucipto (30 Juni 2025) "Keresahan Petani Padi Gunung di Kalimantan akibat Cuaca Tak Menentu" Kompas. hal 10
  2. ↑ Stasiun Pemantau Atmosfer Global Lore Lindu Bariri (28 Mei 2025) "Musim Kemarau Basah : Fenomena, Penyebab, dan Dampaknya di Indonesia" BMKG
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan