Kamis, 15 Oktober 2026
05:11 WIB
TERKINI
Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: Satpol PP Cek STNK Kendaraan Besar di SPBU Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Merosot Rp20 Ribu, Cek Rincian Lengkap per Gram Hari Ini Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 14 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan di Tanggamus Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: Satpol PP Cek STNK Kendaraan Besar di SPBU Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Merosot Rp20 Ribu, Cek Rincian Lengkap per Gram Hari Ini Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 14 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan di Tanggamus
La Niña

La Niña

fenomena alam berbahaya

Bagikan:
330px-Sea_Surface_Temperature_-_November_2007.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Anomali suhu permukaan laut pada November 2007 yang menunjukkan kondisi la niña
250px-ENSO_-_La_Ni%C3%B1a.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kondisi perairan tropis Pasifik saat La Niña berlangsung

La Niña (pengucapan bahasa Spanyol: [laˈniɲa]) merupakan fase dingin dari El Niño–Osilasi Selatan dan merupakan kebalikan dari fenomena El Niño. Nama La Niña sendiri berasal dari bahasa Spanyol yang berarti anak perempuan atau putri. Selain itu, fenomena ini dulu juga disebut sebagai anti El Niño,[1] dan El Viejo yang berarti si Tua.[2] Selama fenomena La Niña berlangsung, suhu permukaan laut di sepanjang timur dan tengah Samudera Pasifik yang dekat atau berada di garis khatulistiwa mengalami penurunan sebanyak 3° hingga 5 °C dari suhu normal. Kemunculan fenomena La Niña ini biasanya berlangsung paling tidak lima bulan. Fenomena ini memiliki dampak yang sangat besar terhadap cuaca bahkan iklim di sebagian besar wilayah dunia, terutama di wilayah Amerika Utara, bahkan berdampak pada pola musim terjadinya Badai Atlantik dan Badai Pasifik.

Latar belakang

bmsb6r4e2zzeclwa14nmkxua43cjeou.png

Lini masa seluruh episode fenomena La Niña pada periode 1900 hingga 2023.[3][4]

La Niña merupakan pola cuaca yang rumit dan kompleks yang terjadi tiap beberapa tahun sekali, sebagai akibat dari variasi suhu muka laut di wilayah Samudera Pasifik yang dekat atau berada di garis khatulistiwa.[5] Fenomena ini terjadi karena hembusan angin yang kuat meniup air hangat permukaan laut dari Amerika Selatan melewati Pasifik menuju wilayah timur Indonesia.[5] Ketika air yang hangat ini bergerak ke arah barat, air dingin dari dasar laut naik ke permukaan laut di wilayah perairan Pasifik yang dekat dengan Amerika Selatan.[5] Oleh karena itu, fenomena ini dianggap sebagai fase dingin dari pola cuaca El Niño–Osilasi Selatan yang lebih besar, dan merupakan kebalikan dari pola cuaca El Niño.[5]

Fenomena La Niña sudah terjadi selama ratusan tahun dan biasanya secara teratur, selama awal abad ke-17 dan awal abad ke-19.[6] Sejak awal abad ke-20, tercatat bahwa fenomena La Niña berlangsung pada tahun

  1. 1903–04
  2. 1906–07
  3. 1909–11
  4. 1916–18
  5. 1924–25
  6. 1928–30
  7. 1938–39
  8. 1942–43
  9. 1949–51
  10. 1954–57
  11. 1964–65
  12. 1970–72
  13. 1973–76
  14. 1983–85
  15. 1988–89
  16. 1995–96
  17. 1998–2001
  18. 2005–06
  19. 2007–08
  20. 2008–09
  21. 2010–12
  22. 2016
  23. 2017–18
  24. 2020–23

Tiap-tiap badan atau organisasi prakiraan cuaca mempunyai ambang batas yang berbeda untuk menentukan kapan suatu fenomena La Niña terjadi, hal tersebut terjadi karena penyesuaian yang dilakukan oleh masing-masing badan prakiraan cuaca terhadap minat masing-masing.[7] Contohnya begini, Badan Meteorologi Australia memperhatikan pergerakan angin pasat, SOI, model cuaca, dan suhu permukaan laut di wilayah NINO 3 dan 3,4 sebelum menyatakan bahwa fenomena La Niña mulai berlangsung.[8] Akan tetapi, Badan Meteorologi Jepang menyatakan bahwa fenomena La Niña telah berlangsung ketika rata-rata penyimpangan suhu muka laut selama lima bulan untuk wilayah NINO.3 lebih dingin dari 05 °C (9,0 °F) selama enam bulan berturut-turut atau lebih.[9]

Dampak La Niña di wilayah Indonesia

Dampak utama dari fenomena La Niña terhadap wilayah Indonesia adalah peningkatan curah hujan di wilayah tengah dan timur Indonesia sebagai akibat dari menghangatnya suhu muka laut di wilayah perairan Indonesia. Selain itu, fenomena ini dapat menyebabkan musim hujan yang lebih panjang atau tidak terjadi musim kemarau di wilayah Indonesia dan peningkatan curah hujan yang signifikan pada saat musim hujan berlangsung, sehingga bencana hidrometeorologi rawan terjadi di berbagai wilayah Indonesia.[10][11]

Referensi

  1. ↑ "What are El Niño and La Niña?". oceanservice.noaa.gov (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2017-11-09.
  2. ↑ Tropical Atmosphere Ocean project (2008-03-24). "What is La Niña?". Pacific Marine Environmental Laboratory. Diakses tanggal 2009-07-17.
  3. ↑ "Cold and warm episodes by season". United States Climate Prediction Center. Diakses tanggal September 11, 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. ↑ "La Niña – Detailed Australian Analysis". Australian Bureau of Meteorology. Diakses tanggal 3 April 2016.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. 1 2 3 4 "What are El Niño and La Niña?". United States National Ocean Service. Februari 10, 2020. Diakses tanggal 11 September 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. ↑ Druffel, Ellen R M; Griffin, Sheila; Vetter, Desiree; Dunbar, Robert B; Mucciarone, David M (16 Maret 2015). "Identification of frequent La Niña events during the early 1800s in the east equatorial Pacific". Geophysical Research Letters. 42 (5): 1512–1519. doi:10.1002/2014GL062997.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. ↑ Becker, Emily (4 Desember 2014). "December's ENSO Update: Close, but no cigar". ENSO Blog. Diarsipkan dari asli tanggal 22 Maret 2016. Diakses tanggal 4 April 2016.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  8. ↑ "ENSO Tracker: About ENSO and the Tracker". Australian Bureau of Meteorology. Diakses tanggal 4 April 2016.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  9. ↑ "Historical El Niño and La Niña Events". Japan Meteorological Agency. Diakses tanggal 4 April 2016.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  10. ↑ "Dampak El Niño–La Niña di Indonesia" (PDF). BMKG. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2019-12-06. Diakses tanggal 15 Oktober 2020.
  11. ↑ "Dampak Terjadinya El Niño–La Niña di Indonesia". Sekolah Tinggi Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Diakses tanggal 15 Oktober 2020.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan