Selasa, 27 Oktober 2026
00:31 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung
Kerajaan Luba

Kerajaan Luba

negara bagian lama

Bagikan:
330px-African-civilizations-map-pre-colonial.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Peta Afrika yang menunjukkan lokasi Kerajaan Luba.

Kerajaan Luba adalah sebuah negara yang didirikan oleh kelompok etnis Luba di Afrika. Wilayah kerajaan ini kini merupakan bagian dari Republik Demokratik Kongo tenggara dan Zambia timur laut. Pada masa kekuasaan Ilunga Kalala (sekitar tahun 1840-1870), kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya. Namun, pada akhir abad ke-19, pedagang dari Afrika Timur mulai mencari budak dan gading di Afrika tengah. Para pendatang Eropa (terutama orang Belgia) yang tergoda oleh uang mulai menyerang kerajaan ini untuk mencari budak. Keadaan semakin diperparah oleh perang saudara yang dipicu oleh sengketa penerus. Pada tahun 1889, kerajaan ini dibagi menjadi dua dan pada akhirnya wilayahnya diambil alih oleh Negara Bebas Kongo.

Pada abad ke-18, ketika pendatang Eropa untuk pertama kalinya berhubungan dengan orang-orang Luba, kerajaan ini sebenarnya merupakan sejumlah negara-negara kecil atau sedang yang berkembang dari kebudayaan Upemba. Pada akhir abad ke-18, kerajaan-kerajaan kecil ini disatukan oleh seorang mwata atau mulopwe.

Daftar pustaka


Ikon rintisan

Artikel bertopik sejarah ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan