Senin, 19 Oktober 2026
03:48 WIB
TERKINI
Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten

Kejang demam

bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh di atas 38°C

Bagikan:
60px-Star_of_life_caution.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini memberikan informasi dasar tentang topik kesehatan. Informasi dalam artikel ini hanya boleh digunakan untuk penjelasan ilmiah; bukan untuk diagnosis diri dan tidak dapat menggantikan diagnosis medis. Wikipedia tidak memberikan konsultasi medis. Jika Anda perlu bantuan atau hendak berobat, berkonsultasilah dengan tenaga kesehatan profesional.
Kejang demam
SpesialisasiNeurologi, Kedokteran gawat darurat, pediatri Sunting ini di Wikidata
Frekuensi4%

Kejang demam merupakan penyakit yang lazim ditemui pada bayi dan anak usia 6 bulan sampai 5 tahun dan paling sering ditemui pada usia 9-20. Kejang yang terjadi biasanya bersifat lokal pada awalnya dan hanya akan menjadi kejang umum jika terdapat peningkatan suhu tubuh pasien yang melewati ambang batas. Kejang akibat demam jarang sekali berlangsung lebih dari beberapa menit, selain itu umumnya tidak ditemukan kelainan pada pemeriksaan elektroensefalografi (EEG) saat kejang terjadi dan pasien memiliki kemungkinan untuk sembuh sempurna.[1]

Menurut konsensus dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38 °C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium.[2]

Selain itu, infeksi virus atau bakteri dan bahkan imunisasi yang menyebabkan demam tinggi seperti virus herpes dapat menjadi faktor penyebab dari kejang demam. Hingga saat ini masih belum ditemukan obat profilaksis antiepilepsi untuk mencegah terjadinya kejang demam. [1]

Perbedaan mendasar antara kejang demam dan penyakit serupa yang lebih serius seperi demam ensephalitis akut atau ensephalopathic adalah terdapatnya kejang fokal ataupun kejang yang berkepanjangan. Selain itu, jika dilihat pemeriksaan EEG-nya akan ditemukan kelainan serta ditemukannya kondisi complicated febrile seizures atau kejang demam berulang tiap ada kenaikan suhu tubuh pasien. Pasien seperti inilah yang memiliki prosentase tinggi untuk mengalami komplikasi seperti kejang atypical, petit mal, atonic, dan astatic spells yang diikuti kejang tonic, mental retardation, dan partial complex epilepsy.[1]

Epidemiologi

Berdasarkan studi kohort yang dilakukan Annegers dan temannya pada 687 anak dengan umur rata-rata 18 tahun setelah kejang demam pertama mereka. Secara keseluruhan mereka memiliki kemungkinan 5 kali lebih besar untuk menderita unprovoked seizures selama Anak dengan kejang demam simpel memiliki risiko hanya sekitar 2,4%. Sedangkan untuk anak yang menderita kejang demam kompleks (fokal, beekepanjangan, ataupun kejang demam berulang) memiliki peningkatan risiko 8,17, atau 49 persen bergantung tingkatan komplikasinya.[1]

Faktor risiko pada anak

Beberapa faktor dapat menjadikan risiko seorang anak terkena penyakit kejang demam menjadi semakin besar.[3] Beberapa faktor risiko tersebut antara lain demam, usia, dan gen.

Demam merupakan keadaan yang menjadi faktor risiko penting munculnya serangan kejang demam. Demam dapat disebabkan oleh berbagai hal. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Infeksi pada saluran pernafasan anak.
  • Infeksi pada saluran pencernaan anak
  • Infeksi pada organ telinga, hidung, dan tenggorokan.
  • Infeki pada saluran buang air kecil anak.
  • Penyakit roseola infantum ataupun infeksi yang disebabkan virus-virus lainnya.
  • Demam yang didapatkan setelah anak menerima imunisasi.[butuh sumber yang lebih baik]

Dari segi epidemiologi kejadian kejang demam, didapatkan bahwa sebanyak 75% terjadi pada anak yang menderita demam bersuhu lebih atau sama dengan 39 derajat celsius. Sejumlah 25% lainnya dialami oleh anak yang mengalami demam bersuhu lebih dari 40 derajat celsius.[4]

Dari segia usia, penyakit kejang demam dapat dialami oleh anak yang berumur 6 sampai 5 tahun. Insidensi (angka kejadian) tertinggi adalah anak yang berusia 17 bulan sampai 23 bulan (atau 1,5 hingga 2 tahun). Kejang yang muncul pada umur di 5 bulan kemungkinan besar bukanlah kejang demam, melainkan penyakit infeksi sistem saraf pusat ataupun yang lain. Serangan kejang yang dialami oleh anak yang berumur lebih dari 6 tahun sebaiknya tidak dipertimbangkan sebagai kejang demam, melainkan febrile seizure plus (FS+).[butuh rujukan]

Gen juga memiliki pengaruh dalam risiko terjadinya serangan kejang demam. Angka risiko akan naik sekitar 2 hingga 3 kali lebih tinggi bila didapati ada saudara kandung yang juga menderita kejang demam. Risiko juga akan meningkat sebesar 5% bila didapati juga ada riwayat orang tua mengalami kejang demam.[5]

Jenis

  1. Kejang demam sedehana
    • Biasanya terjadi pada anak yang berusia 6 bulan hingga 5 tahun.
    • Kejang tunggal bersifat tunggal, generalisata, dan berlangsung dalam kurang dari 15 menit.
    • Demam dan kejang bukan karena penyakit seperti meningitis, ensefalitis, atau penyakit lain yang memberikan dampak kepada otak.
    • Anak tidak memiliki kelainan neurologis yang diperiksa melalui pemeriksaan atau dengan riwayat perkembangan.[6][butuh sumber yang lebih baik]
  2. Kejang Demam Kompleks
    • Kejang demam yang tipe kejangnya fokal, artinya kejangnya tidak seluruh tubuh misalnya kejangnya cuma tangan kiri saja atau kaki kanan saja.
    • Kejangnya berlangsung lebih dari 15 menit.
    • Kejang lebih dari satu kali dalam 24 jam.
  3. Kejang demam simtomatik
    • Kelompok umur dan karakteristik demam sama dengan kejang demam sederhana.
    • Anak diketahui telah mempunyai kelainan neurologis yang sudah ada sebelumnya atau akibat penyakit yang bersifat akut.

Referensi

  1. 1 2 3 4 (Inggris) Allan H.Ropper, M.D. and Robert H. Brown, D.Phil., M.D. (2005). Neurology 8th edition. Mc graw hill companies inc.{{cite book}}: Teks "DOI: 10.1036/0071469710" diabaikanPemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link)
  2. ↑ Pusponegoro, Hardiono D; Widodo, Dwi Putro; Ismael, Sofyan, ed. (2006). Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam (Edisi Kedua). Jakarta: Badan Penerbit IDAI. ISBN 979-8421-23-X.{{cite book}}: |access-date= memerlukan |url=; |first1= tidak memiliki |last1=Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ "Febrile Seizures | National Institute of Neurological Disorders and Stroke". www.ninds.nih.gov (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-02-03.
  4. ↑ Leung, Alexander KC; Hon, Kam Lun; Leung, Theresa NH (2018-07-16). "Febrile seizures: an overview". Drugs in Context. 7: 1–12. doi:10.7573/dic.212536.
  5. ↑ Sawires, Rana; Buttery, Jim; Fahey, Michael (2022-01-13). "A Review of Febrile Seizures: Recent Advances in Understanding of Febrile Seizure Pathophysiology and Commonly Implicated Viral Triggers". Frontiers in Pediatrics. 9. doi:10.3389/fped.2021.801321. ISSN 2296-2360.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)
  6. ↑ Kesehatan, Kedokteran (10 Januari 2015). "Kejang Demam". Kejang Demam. Diakses tanggal 09 Maret 2020.{{cite web}}: Periksa nilai |url=; Periksa nilai tanggal dalam: |access-date=
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan