Kamis, 15 Oktober 2026
03:31 WIB
TERKINI
Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: Satpol PP Cek STNK Kendaraan Besar di SPBU Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Merosot Rp20 Ribu, Cek Rincian Lengkap per Gram Hari Ini Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 14 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan di Tanggamus Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: Satpol PP Cek STNK Kendaraan Besar di SPBU Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Merosot Rp20 Ribu, Cek Rincian Lengkap per Gram Hari Ini Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 14 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan di Tanggamus

Orang Depok

suku bangsa di Indonesia

Bagikan:
Artikel ini bukan mengenai Suku Betawi atau Suku Sunda.
Belanda Depok
Depoksche Nederlanders
Jumlah populasi
±3.000
Daerah dengan populasi signifikan
Depok, Indonesia
Bahasa
Agama
Protestanisme (mayoritas)
Kelompok etnik terkait
Orang Indo

Orang Depok, atau Kaum Depok, lebih dikenal dengan sebutan Orang Belanda Depok, adalah istilah yang merujuk kepada keturunan para pekerja Cornelis Chastelein, seorang pensiunan Perusahaan Hindia Timur Belanda dan pemilik tanah pribadi di Gemeente Depok. Kaum Depok merupakan pribumi Indonesia yang memiliki gaya hidup seperti orang Eropa, khususnya Belanda.

Sejarah

lossy-page1-250px-Monument_voor_Cornelis_Chastelein_te_Depok%2C_KITLV_7578.tiff.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Monumen Cornelis Chastelein di Pitara, ca 1930.

Awalnya, Cornelis Chastelein bekerja sebagai juru tulis di gudang logistik milik Perusahaan Hindia Timur Belanda — diakronimkan VOC — yang akhirnya memutuskan untuk pensiun dini pada tahun 1691 karena alasan kesehatan.[1] Namun, pengunduran dirinya dari VOC disebabkan oleh perbedaan pendapat dengan Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu, Willem van Outhoorn. Empat tahun kemudian, Chastelein membeli tanah pribadi di beberapa daerah di Batavia, termasuk Seringsing dan Depok.[2] Ia membangun rumah di kawasan Seringsing sebagai tempat peristirahatan saat pensiun, sementara kawasan Depok menjadi lahan pertanian.

Depok yang merupakan kawasan pertanian dan perkebunan tentu membutuhkan tenaga kerja untuk mengelola hasil pertanian. Oleh karena itu, Chastelein membawa budak dari Nusa Tenggara, Makassar, Maluku, ke Melaka, Filipina, India, Bangladesh, dan Sri Lanka.[2] Saat itu, Depok merupakan penghasil nila, biji kakao, sirsak, nangka, dan belimbing.

Pada 28 Juni 1714, Chastelein meninggal dan meninggalkan harta pribadinya kepada 150 pekerjanya.[2] Ia memerintahkan untuk membebaskan budak-budaknya dan memberi mereka nama keluarga (marga) khusus. Semua marganya diberikan oleh seorang pemimpin agama bernama Baprima Lucas, kecuali marga Soedira yang diberikan langsung oleh Chastelein. Marga-marga tersebut antara lain Bacas, Isakh, Jacob, Jonathans, Josef, Laurens, Leander, Loen, Samuel, Soedira, Tholense, dan Zadokh. Dari kedua belas marga tersebut, hanya Zadokh yang menghilang karena tidak adanya keturunan laki-laki dari marga Zadokh. Sebelum dimasukkan ke suatu marga, para budak yang dibebaskan memeluk agama Protestan dan memilih salah satu dari dua belas marga yang ada. Kedua belas nama keluarga ini merujuk pada kedua belas murid Yesus.

Mereka yang diberi marga umumnya menggunakan bahasa Belanda (dialek Indonesia) sebagai bahasa sehari-hari mereka.[3] Saat ini, hanya sebagian kecil Kaum Depok yang berbicara bahasa Belanda, sementara keturunan mereka lebih fasih dalam bahasa Indonesia.

Referensi

  1. ↑ Lestari, Sri (23 Juli 2017). "Cornelis Chastelein, 'Belanda Depok' dan daerah otonom zaman kolonial". BBC Indonesia.com. Diakses tanggal 12 Maret 2023.
  2. 1 2 3 Sitompul, Martin (6 Desember 2018). "Depok, Tanah Warisan Saudagar VOC". Historia.id. Diakses tanggal 12 Maret 2023.
  3. ↑ Priyambodo, Utomo (22 Oktober 2022). "Begini Asal-usul Julukan Orang Belanda Depok, Jangan Salah Kaprah!". National Geographic. Diakses tanggal 12 Maret 2023.


Ikon rintisan

Artikel bertopik kelompok etnik ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan