Minggu, 18 Oktober 2026
23:49 WIB
TERKINI
Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten
Kabin bertekanan

Kabin bertekanan

Bagikan:
Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia. Silakan kembangkan artikel ini semampu Anda. Merapikan artikel dapat dilakukan dengan wikifikasi atau membagi artikel ke paragraf-paragraf. Jika sudah dirapikan, silakan hapus templat ini. (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
250px-Boeing_737_fuselage_train_hull_3473.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Badan pesawat, seperti Boeing 737 ini, membentuk bejana tekan silinder

Kabin bertekanan adalah sejenis kabin yang digunakan dalam penerbangan dengan memompa udara bertekanan ke kabin pesawat terbang. Hal tersebut bertujuan untuk menjaga kondisi lingkungan dalam kabin pesawat dan memberi kenyamanan bagi kru pesawat serta penumpang saat terbang di ketinggian.

Kebutuhan untuk kabin bertekanan

Kabin bertekanan adalah hal penting pada ketinggian di atas 10.000 kaki (3.000 m) di atas permukaan laut. Tujuannya antara lain :

  • Melindungi kru pesawat dan penumpang dari risiko beberapa masalah psikologis yang diakibatkan oleh tekanan udara rendah pada ketinggian.
  • Meningkatkan kenyamanan penumpang.

Masalah psikologis utama yang dihadapi dalam tekanan udara rendah pada ketinggian adalah sebagai berikut:

Udara bertekanan juga dibutuhkan di dalam ruang kargo untuk mencegah kerusakan pada barang yang sensitif terhadap tekanan. Perbedaan tekanan udara dapat mengakibatkan barang tersebut bocor, melar, meledak, atau hancur.

Ketinggian Kabin

Tekanan dalam kabin, secara teknis disebut sebagai setara efektif ketinggian kabin (equivalent effective cabin altitude) atau biasa disebut cabin altitude saja, adalah tekanan udara yang biasa diusahakan dalam sebuah pesawat yang terbang. Pesawat yang sedang terbang dengan ketinggian 40.000 kaki (12.000 m), tekanan di dalam kabin tidak akan disamakan dengan tekanan saat berada di darat dengan alasan untuk menjaga badan pesawat dari batas tekanan yang diizinkan. Selain itu juga untuk memudahkan penyesuaian bila pesawat akan mendarat pada ketinggian di atas permukaan laut. Biasanya, tekanan dalam kabin dijaga untuk setara dengan tekanan di ketinggian 8.000 kaki (2.400 m).

Ketinggian kabin yang umum, seperti pada Boeing 767, dijaga pada ketinggian 6.900 kaki (2.100 m) ketika terbang pada ketinggian 39.000 kaki (12.000 m).[1] Kecenderungan untuk pesawat pesawat baru adalah membuat tekanan kabin lebih rendah, Airbus A380 bertekanan setara 5.000 ft (1.500 m) ketika terbang pada ketinggian 43.000 kaki (13.000 m),[2][3] sedangkan tekanan kabin terendah saat ini adalah Bombardier Global Express yang bertekanan setara 4.500 ft (1.400 m) ketika terbang pada ketinggian 41.000 kaki (12.000 m).[4][5][6] Menjaga tekanan kabin di bawah 8.000 ft (2.400 m) secara umum akan menghindari hypoksia, mabuk udara, demam pengurangan tekanan, dan barotrauma.

Cara kerja penekanan kabin

Tekanan dicapai dengan mendesain kabin kedap udara, dan memompakan udara ke dalamnya dengan kompresor sehingga tekanan udara dalam kabin akan bertambah. Untuk mengatur tekanan di dalam kabin maka diperlukan alat sistem pengontrol lingungan atau Environmental control system (ECS) yang melibatkan keran pelepas tekanan dan berbagai sensor yang diatur secara elektronis.

250px-Outflow_Valve_and_Pressure_Relief_Valve_on_a_Boeing_737-800.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Keluaran dan keran pelepas tekanan pada Boeing 737-800

Pengurangan tekanan yang tidak terencana

250px-Passenger_oxygen_mask_dsc06035.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pengaktifan masker oksigen penumpang

Kehilangan tekanan dalam kabin secara tidak sengaja adalah hal yang jarang terjadi, tetapi bila terjadi bisa mengakibatkan kecelakaan fatal.

Setiap kegagalan pada tekanan kabin saat terbang di atas 10.000 kaki (3.000 m) diharuskan penurunan ketinggian secara darurat ke ketinggian 8.000 kaki (2.400 m) atau ketinggian terdekat yang diperbolehkan untuk tetap pada ketinggian yang aman (MSA), dan pengaktifan topeng oksigen untuk setiap kursi. Sistem oksigen mempunyai oksigen yang cukup untuk semua orang dipesawat dan memberi cukup waktu bagi pilot untuk turun ke ketinggian di bawah 8.000 ft (2.400 m). Tanpa oksigen darurat, Hypoksia akan mengakibatkan kehilangan kesadaran dan kehilangan kendali pesawat. Pada saat tekanan udara turun, suhu dalam kabin kemungkinan juga akan turun mengikuti suhu di luar pesawat dan menghadapkan orang di dalam pesawat dengan risiko bahaya hypothermia atau membeku.

Sejarah kabin bertekanan

Pesawat yang mengawali kabin bertekanan adalah:

  • USD-9A, sebuah Airco DH.9A yang dimodifikasi (1921 - pesawat pertama yang terbang dengan tambahan modul kokpit bertekanan)
  • Junkers Ju 49 (1931 - pesawat percobaan jerman utk menguji konsep dari kabin bertekanan)
  • Lockheed XC-35 (1937 - pesawat bertekanan amerika utk menguji konsep dari kabin bertekanan)
  • Boeing 307 (1938 - pesawat penumpang piston pertama bertekanan)
  • Lockheed Constellation (1943 - pesawat penumpang pertama yang operasional)
  • Avro Tudor (1946 - pesawat penumpang pertama Inggris yang bertekanan )
  • de Havilland Comet (Inggris, Comet 1 1949 - pesawat penumpang jet pertama, Comet 4 1958 - memecahkan masalah Comet 1)
  • Tupolev Tu-144 dan Concorde (Uni Soviet 1968 dan Anglo-French 1969 - pertama yang operasi di ketinggian sangat tinggi / very high altitude)

Lihat juga

Catatan

Catatan kaki

  1. ↑ "Commercial Airliner Environmental Control System: Engineering Aspects of Cabin Air Quality" (PDF). Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2001-12-06. Diakses tanggal 2012-06-29.
  2. ↑ "Inside the A380". ArabianBusiness.com. Diakses tanggal 28 Oktober 2007.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ "Global Aircraft - Airbus A380". Diakses tanggal 19 Juni 2009.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. ↑ "Bombardier's Stretching Range on Global Express Global Express XRS". Aero-News Network. October 7, 2003.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |date=; line feed karakter dalam |date= pada posisi 11
  5. ↑ "Bombardier Global Express XRS Factsheet" (PDF). Bombardier. 2011. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2010-02-16. Diakses tanggal 2012-06-29.
  6. ↑ "Aircraft Environmental Control Systems" (PDF). Carleton University. 2003.

Referensi umum

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan