Minggu, 04 Oktober 2026
06:14 WIB
TERKINI
Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan
KALCM Cheonryong

KALCM Cheonryong

Bagikan:
Rudal jelajah yang diluncurkan dari udara buatan Korea SelatanTemplat:SHORTDESC:Rudal jelajah yang diluncurkan dari udara buatan Korea Selatan
KALCM Cheonryong
330px-KALCM_demonstrative_prototype.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Prototipe demonstratif KALCM yang dikembangkan oleh Badan Pengembangan Pertahanan (ADD)
Jenis Rudal jelajah yang diluncurkan dari udara
Negara asal Korea Selatan
Sejarah pemakaian
Masa penggunaan 2031 (rencana)
Digunakan oleh Korea Selatan
Sejarah produksi
Perancang Badan Pengembangan Pertahanan
LIG Nex1
Tahun 2018–2028 (rencana)
Produsen LIG Nex1 (perakitan akhir)
Hanwha Aerospace (perakitan mesin)
Diproduksi 2028 (rencana)
Jumlah produksi 200 (rencana)
Spesifikasi
Panjang 464 meter (1.522 ft 4 in)
Hulu ledak Penetrator tandem dua tahap (mampu menembus beton bertulang setebal 8 meter)[1][2]
Jenis Mesin Turbofan Hanwha Aerospace
Daya jelajah >500 km (310 mi) (varian KF-21)[3]
~350 km (220 mi) (varian FA-50)[4]
Kecepatan >Mach 1 (340 m/s; 1.200 km/h) (subsonik)[1]
Sistem
pemandu
DSMAC, TERCOM, GNSS, INS, IIR (IBN, ATR)[1][2]
Sistem
kendali
Empat sirip ekor
Akurasi 15 meter (49 ft 3 in) CEP[1]
Alat
peluncur
McDonnell Douglas F-4 Phantom II, KAI FA-50 Fighting Eagle, KAI KF-21 Boramae

KALCM Cheonryong (Korean Air-Launched Cruise Missile; Hangul: 한국형 장거리 공대지 유도탄;Hanja: 韓國型長距離空對地誘導彈), atau sering disebut Cheonryong (Naga Langit; Hangul: 천룡;Hanja: 天龍), adalah sebuah rudal jelajah yang diluncurkan dari udara buatan Korea Selatan, diproduksi oleh LIG Nex1 dan Hanwha Aerospace.[5] Rudal ini dirancang untuk menghancurkan target strategis bernilai tinggi, seperti bunker komando dan kendali bawah tanah, pada jarak lebih dari 500 kilometer.[3] Dengan struktur hulu ledak ganda dan desain siluman yang ditingkatkan, rudal ini secara efektif menggabungkan keunggulan dari Taurus KEPD 350 dan AGM-158 JASSM.

Sejarah

Program KALCM Cheonryong dimulai pada tahun 2018 di bawah kepemimpinan Badan Pengembangan Pertahanan (ADD) dengan partisipasi industri dari LIG Nex1 dan Hanwha Aerospace.[3][1] Program ini dimulai setelah Korea Selatan mengakuisisi 260 rudal Taurus dari Jerman, yang memberikan transfer teknologi terbatas, termasuk pemrosesan logam tahan tekanan tinggi untuk hulu ledak penetrator.[1]

Pada tanggal 19 Oktober 2021, di pameran ADEX 2021, rudal ini secara resmi diberi nama "Cheonryong", yang berarti "Naga Langit".[1] Uji coba pemisahan pertama berhasil dilakukan antara bulan Agustus dan September 2021 menggunakan pesawat tempur F-4 Phantom II.[1]

Karena pesawat KF-21 masih dalam tahap pengembangan, dan F-4 telah pensiun pada Juni 2024, program ini menggunakan FA-50 sebagai platform uji terbang sementara.[3][1] Uji terbang perdana dengan FA-50 dimulai pada Desember 2024.[3] Pada 23 Juni 2025, ADD dan DAPA mengumumkan keberhasilan uji pemisahan aman (*safe separation flight test*) di Pangkalan Udara Sacheon. Rudal berhasil memisahkan diri dari FA-50 dan terbang selama 37 detik sejauh 9 kilometer sebelum mengenai target yang ditentukan.[1][6]

Kegagalan Uji Terbang

Pada Januari dan Maret 2026, dua uji terbang teknis dilaporkan mengalami kegagalan. Dalam uji coba Maret 2026, rudal yang diluncurkan dari FA-50 gagal menyalakan mesinnya setelah terpisah dari pesawat. Akibatnya, petugas uji coba mengaktifkan penghentian darurat mesin secara jarak jauh, menyebabkan rudal jatuh ke Laut Barat (Laut Kuning). Rudal tersebut dikabarkan meluncur tanpa daya selama 91 detik sejauh 16 kilometer sebelum jatuh.[7] Investigasi ADD menemukan bahwa penyebab utama kegagalan adalah perangkat lunak kendali mesin untuk proses penyalaan di udara (*air-start sequence*).[8] ADD berencana memperbaiki perangkat lunak dan melanjutkan uji terbang pada pertengahan 2026.[9]

Desain

Cheonryong adalah rudal jelajah subsonik dengan mesin turbofan yang dikembangkan oleh Hanwha Aerospace. Rudal ini dirancang dengan bentuk tubuh yang mengurangi penampang radar (stealth) dan dilapisi bahan penyerap radar.[3][2]

Varian

Terdapat dua varian utama yang direncanakan:

  • Varian untuk KF-21 Boramae: Berat sekitar 1.360 kg dengan jangkauan lebih dari 500 km.[10][3]
  • Varian untuk FA-50: Berat sekitar 1.300 kg dengan jangkauan sekitar 350 km, lebih ringan untuk menyesuaikan dengan kapasitas muatan FA-50.[4]

Hulu Ledak dan Sistem Pemandu

Rudal ini dilengkapi dengan hulu ledak penetrator tandem dua tahap yang diklaim mampu menembus beton bertulang setebal 8 meter.[2][1] Sistem pemandunya menggabungkan TERCOM (pencocokan kontur medan), GNSS, INS, dan IIR (Pencitraan Inframerah) dengan Pengenalan Target Otomatis (ATR) untuk mencapai akurasi dengan CEP sekitar 1–2 meter.[1][2]

Platform Peluncur

Cheonryong dirancang untuk diintegrasikan ke berbagai platform, antara lain:

Masa Depan

Angkatan Udara Korea Selatan berencana untuk menyelesaikan pengembangan rudal ini pada tahun 2028, memulai produksi massal pada tahun 2029, dan menempatkannya pada pesawat KF-21 pada awal 2030-an.[7] Sebanyak 200 unit rudal direncanakan akan diproduksi.[1] Keberhasilan integrasi Cheonryong pada FA-50 juga dipandang dapat meningkatkan potensi ekspor pesawat tersebut.[3]

Lihat pula

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 "KALCM Cheonryong". Wikipedia Bahasa Inggris.
  2. 1 2 3 4 5 "KALCM Cheonryong". Grokipedia.
  3. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 "South Korea Tests Cheonryong Cruise Missile on FA-50, Marking Breakthrough in Indigenous Long-Range Strike Capability". Defence Security Asia. 25 Maret 2025.
  4. 1 2
  5. ↑ "South Korea to propose its new Cheonryong cruise missile on both KF-21 fighter and FA-50 light attack aircraft". Army Recognition. Diakses tanggal Maret 24, 2025.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. ↑ "南韓「天龍」飛彈投放測試 驗證遠距打擊力" (dalam bahasa Mandarin). 青年日報. 1 Juli 2025.
  7. 1 2 "Cheolryong Missile Engine Malfunctions During Test, Falls Into West Sea". The Chosun Daily. 15 April 2026.
  8. ↑ "국산 장거리공대지미사일 ‘천룡’ 시험비행 중단… 소프트웨어 결함 ‘엔진 점화 실패’가 원인" (dalam bahasa Korea). Munhwa Ilbo. 12 Mei 2026.
  9. ↑ "Cheonryong Test Halted Again By Engine Software Fault". K-Defense News. 11 Mei 2026.
  10. ↑

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan