Jumat, 23 Oktober 2026
14:49 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada
Juniperus recurva

Juniperus recurva

Bagikan:
Juniperus recurva
250px-Juniperus_recurva.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Dedaunan pada spesimen yang dikultivasi di Britania Raya
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Plantae
Klad: Tracheophyta
Klad: Gymnospermae
Divisi: Pinophyta
Kelas: Pinopsida
Ordo: Cupressales
Famili: Cupressaceae
Genus: Juniperus
Spesies:
J. recurva
Nama binomial
Juniperus recurva

Juniperus recurva yang dikenal sebagai arar himalaya atau drooping juniper dalam bahasa Inggris, merupakan spesies arar asli wilayah Himalaya. Cakupan dari tanaman ini antara lain ada di Pakistan utara, India, Nepal, Bhutan, hingga Yunnan barat di Tiongkok barat daya. Spesies ini tumbuh pada ketinggian 3.000–4.000 meter. Di Eropa Barat, J. recurva juga dibudidayakan sebagai pohon hias, terutama dihargai karena cabang-cabangnya yang terkulai, dengan kultivar "Castlewellan" menjadi contoh yang paling populer.[2]

Taksonomi

Nama ilmiah Juniperus recurva pertama kali diterbitkan secara resmi pada tahun 1825, dengan publikasi pertamanya muncul di Prodromus Florae Nepalensis pada halaman 55. Sepanjang sejarah taksonominya, spesies ini telah diberi berbagai sinonim dan nama alternatif, termasuk Sabina recurva (Antoine, 1857), Sabinella recurva (Nakai, 1938), serta varietas seperti Juniperus recurva var. typica (Patschke, 1913), meskipun publikasi varietas ini dianggap tidak sah. Beberapa taksa yang sebelumnya dianggap berbeda, seperti Juniperus butanensis Wender. 1851, kini dikonsolidasikan sebagai bagian dari J. recurva atau dianggap sebagai sinonim yang tidak valid. Saat ini, Juniperus recurva diterima secara luas sebagai spesies yang sah dan valid.[3][4]

Deskripsi

Juniperus recurva adalah semak atau pohon besar yang dapat tumbuh hingga 6–20 meter, dan dalam kondisi langka mencapai 25 meter, dengan batang berdiameter hingga 2 meter dan mahkota yang bisa berbentuk kerucut lebar, bulat, atau tidak beraturan. Dedaunannya seperti jarum, panjang 5–10 milimeter, tersusun rapi dalam enam baris membentuk tiga lingkaran bergantian, memberikan tampilan yang rapat dan elegan, yang menjadi salah satu daya tarik utama bagi pecinta hortikultura. Kerucut betina berbentuk bulat hingga bulat telur, berukuran 5–10 mm panjang dan 4–7 mm diameter, berwarna biru-hitam mengkilap dengan lapisan lilin halus, dan mengandung satu biji yang matang sekitar 18 bulan setelah penyerbukan. Kerucut jantan berukuran 3–4 mm, melepaskan serbuk sarinya di awal musim semi, yang kemudian disebarkan oleh angin. Sebagai tumbuhan berumah satu, J. recurva mampu menghasilkan serbuk sari dan kerucut biji pada tanaman yang sama.[5]

Referensi

  1. ↑ Li, N.; Farjon, A.; Christian, T.; Rushforth, K. (2013). "Juniperus recurva". IUCN Red List of Threatened Species (dalam bahasa Inggris). 2013 e.T42247A2966352. doi:10.2305/IUCN.UK.2013-1.RLTS.T42247A2966352.en. Diakses tanggal 12 November 2021.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ BSBI List 2007 (xls). Botanical Society of Britain and Ireland. Diarsipkan dari asli (xls) tanggal 2015-06-26. Diakses tanggal 2025-11-29.
  3. ↑ "Juniperus recurva Buch.-Ham. ex D.Don | Plants of the World Online | Kew Science". Plants of the World Online (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-29.
  4. ↑ "Juniperus recurva | International Plant Names Index". www.ipni.org. Diakses tanggal 2025-11-29.
  5. ↑ "Juniperus recurva var. coxii - Plant Finder". www.missouribotanicalgarden.org. Diakses tanggal 2025-11-29.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan