Selasa, 03 November 2026
16:32 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare
Jihad-jihad Fula

Jihad-jihad Fula

Bagikan:
500px-Fula_jihad_states_map_general_c1830.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Negara-negara yang mengobarkan jihad Fula di Afrika sekitar tahun 1830

Jihad-jihad Fula atau Fulani adalah serangkaian jihad yang dikobarkan di Afrika Barat pada abad ke-18 dan ke-19 oleh negara-negara suku bangsa Fula yang beragama Islam. Jihad mereka berakhir akibat penjajahan bangsa Eropa.

Perang pertama yang terilhami oleh agama Islam di Afrika Barat berlangsung di Futa Jalon pada 1725 ketika para penggembala Fula (yang dibantu oleh pedagang Muslim) memberontak melawan negara-negara yang masih didominasi agama tradisional. Pada tahun 1750, suku Fula telah mendirikan Keimaman Futa dan menerapkan hukum syariah. Keberhasilan mereka mengilhami suku Toucouleur di tepi Sungai Senegal yang kemudian mendirikan keimaman mereka sendiri, yaitu Keimaman Futa Toro.[1]

Pada awal abad ke-19, pergerakan jihad menyebar ke negara-negara suku Hausa di timur. Pada tahun 1804, Usman dan Fodio memimpin jihad yang berujung pada pendirian Kekhalifahan Sokoto, negara terbesar di Afrika Barat pada masa itu.[1]

Walaupun agama menjadi landasan jihad, mungkin ada pula faktor ekonomi yang menjadi pendorong: suku Fula ingin memperoleh tawanan yang dapat dijual sebagai budak.[2]

Lihat pula

Referensi

  1. 1 2 Shillington (2012), hlm. 230ff. sfnp error: tanpa target: CITEREFShillington2012 (bantuan)
  2. ↑ Hawthorne, Walter (2010-09-13). From Africa to Brazil: Culture, Identity, and an Atlantic Slave Trade, 1600–1830 (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. hlm. 70. ISBN 9780521764094.
Ikon rintisan

Artikel bertopik sejarah ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan