Minggu, 04 Oktober 2026
17:32 WIB
TERKINI
Lampung Musim Hujan Lampung 2026/2027: BMKG Prediksi Puncak Januari, Awalnya Mundur Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 4 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan Ringan Hukum Pakar Hukum Unila: Objektivitas Fakta Krusial dalam Kasus Diksar Mahepel Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Lampung Musim Hujan Lampung 2026/2027: BMKG Prediksi Puncak Januari, Awalnya Mundur Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 4 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan Ringan Hukum Pakar Hukum Unila: Objektivitas Fakta Krusial dalam Kasus Diksar Mahepel Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya

Jaranan Buto

Bagikan:

Jaranan Buto adalah kesenian Kuda Lumping yang berkembang di Banyuwangi, Jawa Timur. Jaranan Buto memiliki persamaan dengan Jaranan Turonggo Yakso dari Trenggalek

Tentang Jaranan Buto

250px-Pawang_Kuda_Lumping.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Seorang Bomoh Berpakaian adat Ponorogo melakukan ritual Jaranan Buto Sebelum pertunjukan

Jaranan Buto di Banyuwangi telah ada di Banyuwangi pada tahun 1930 yang merupakan kesenian Jaranan Turonggo Yakso dibawa oleh Orang - orang dari Trenggalek yang diangkut oleh pihak Belanda sebagai pekerja perkebunan di Banyuwangi. Jaranan Turonggo Yakso di Banyuwangi tetap dilestarikan keturunan orang-orang Trenggalek di banyuwangi hingga beberapa generasi.

250px-Kuda_lumping_jaranan_01.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kostum penari Jaranan Buto Terbaru

karena penduduk Banyuwangi sulit melafalkan Jaranan Turonggo Yakso yang dari bahasa jawa Krama Inggil, maka disebutlah dengan Jaranan Buto yang diambil dari bahasa jawa Krama Ngoko sama-sama memiliki arti yang sama, Kuda Berbentuk Buta.[1]

Jaranan Buto yang ada di banyuwangi dengan Jaranan turonggo yakso di trenggalek tidak ada perbedaan sama sekali, barulah pada tahun 2010 pada masa kepimpinan Bupati Abdullah Azwar Anas yang menggencarkan budaya dan pariwisata Banyuwangi dibuatkan kostum yang mencerminkan identitas banyuwangi, yakni penunggang kuda buto berkostum dan berias seperti buto yang menggambarkan sosok legendari Banyuwangi, Minak Jinggo.[2]

selain itu juga dimasukanlah kesenian Barongan Kemiren kedalam jaranan Buto sehingga pada pertunjukannya lebih meriah dan ramai, semakin kuat Jaranan Buto menjadi identitas baru di Banyuwangi. Meskipun Jaranan Buto sudah menggunakan kostum yang berbeda dengan Jaranan Turonggo Yakso, tetapi dari gerakan dan iringan musik masih sama hingga terjadinya kesurupan, proses penyembuhan dilakukan oleh bomoh yang berpakaian warok ponorogo.

Penyebaran

Di pulau Jawa, Jaranan Buto banyuwangi hanya bisa dapat ditemukan di Banyuwangi saja, tetapi dapat ditemukan luar jawa seperti Sumatera dan Kalimantan, juga di Malaysia. TKI Indonesia yang berasal dari Banyuwangi membuat kesenian grup Jaranan Buto dengan Nama "Sekar Wangi", sering tampil di berbagai kegiatan acara Malaysia maupun Indonesia, Yang terkesan saat menghibur pada pernikahan anak dari Kepala Polis Malaysia[3]

Referensi

  1. ↑ Tim, Peneliti (2013). Turonggo Yakso, Berjuang untuk sebuah eksistensi.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ↑ "Sejarah Dan Makna Tari Jaranan Buto". 2021.
  3. ↑ "Jaranan Buto Banyuwangi yang Semakin Mendunia". Detik .com.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan