Rabu, 04 November 2026
18:38 WIB
TERKINI
Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan
Invasi Martinique (1809)

Invasi Martinique (1809)

konflik

Bagikan:
Invasi Martinique
Bagian dari Perang Napoleon
330px-Martinique_1809.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Direbutnya Pulau Martinique Prancis di Hindia Barat Prancis pada 24 Februari 1809, George Thompson
Tanggal30 Januari – 24 Februari 1809
Lokasi
Hasil Kemenangan Inggris
Pihak yang terlibat
Inggris Prancis
Pemimpin atau tokoh terkemuka
Alexander Cochrane
George Beckwith
Villaret de Joyeuse  Menyerah
Kekuatan
10.000
6 kapal perang
8 frigat
9 brig
4.900
3 brig
Korban jiwa dan kerugian
97 tewas
365 luka-luka
18 menghilang
900 tewas, luka-luka dan menghilang

Inggris menginvasi dan merebut koloni Prancis bernama Martinique dari 30 Januari hingga 24 Februari 1809 semasa kampanye Hindia Barat 1804–1810 dalam Perang Napoleon. Martinique, seperti halnya pulau terdekat, Guadeloupe, adalah ancaman besar terhadap perdagangan Inggris di Hindia Barat, menyediakan basis perlindungan dari mana samun laut dan kapal perang Angkatan Laut Prancis dapat menyerang kapal dagang Inggris dan mengganggu rute perdagangan yang menjaga perekonomian Inggris. Dua pulau tersebut juga menyediakan fokus untuk operasi Prancis berskala lebih besar di daerah tersebut dan pada musim gugur tahun 1808, setelah aliansi Spanyol dengan Inggris, Kantor Angkatan Laut memutuskan untuk memerintahkan skuadron Inggris untuk menetralisir ancaman tersebut, dimulai dengan Martinique.

Inggris mengerahkan pasukan ekspedisi yang besar di bawah Wakil Laksamana Sir Alexander Cochrane dan Letnan Jenderal George Beckwith, memimpin 29 kapal dan 10.000 pasukan – hampir empat kali dari pasukan reguler Prancis yang ditempatkan di Martinique. Pendaratan yang kuat di pesisir selatan dan utara pulau, pasukan Inggris maju ke pedalaman, mengalahkan pasukan reguler Prancis di dataran tinggi tengah dan mengalahkan unit milisi kolonial di selatan pulau. Per 9 Februari, seluruh pulau berada di tangan Inggris kecuali Fort Desaix, perbentengan kuat yang dimaksudkan untuk melindungi ibu kota pulau, Fort-de-France, yang telah dilewati saat pemajuan Inggris. Dalam sebuah pengepungan selama 15 hari, benteng itu terus menerus dibombardir, dengan garnisun Prancis menderita 200 korban sebelum akhirnya menyerah.

Perebutan pulau itu adalah pukulan telak kepada kekuatan Prancis di daerah tersebut, melepaskan basis angkatan laut yang penting dari kendali mereka dan tidak adanya pelabuhan aman bagi pelayaran Prancis di Hindia Barat. Konsekuensi atas kehilangan Martinique sangatlah buruk sehingga Angkatan Laut Prancis mengirimkan skuadron laut untuk memperkuat garnisun semasa invasi. Datang terlambat sehingga memengaruhi hasil, bala bantuan ini dicegat di luar pulau dan terpencar semasa aksi 14–17 April 1809; separuh pasukan gagal kembali ke Prancis. Setelah menduduki Martinique, atensi Inggris beralih kepada Guadeloupe, yang direbut pada tahun berikutnya.

Referensi

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan