Minggu, 04 Oktober 2026
19:39 WIB
TERKINI
Lampung Musim Hujan Lampung 2026/2027: BMKG Prediksi Puncak Januari, Awalnya Mundur Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 4 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan Ringan Hukum Pakar Hukum Unila: Objektivitas Fakta Krusial dalam Kasus Diksar Mahepel Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Lampung Musim Hujan Lampung 2026/2027: BMKG Prediksi Puncak Januari, Awalnya Mundur Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 4 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan Ringan Hukum Pakar Hukum Unila: Objektivitas Fakta Krusial dalam Kasus Diksar Mahepel Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya
Inoe Perbatasari

Inoe Perbatasari

pemeran laki-laki asal Indonesia

Bagikan:

Raden Inoe Perbatasari (fl. 1899–18 Oktober 1954) adalah seorang politikus Indonesia yang beralih menjadi sutradara dan aktor.

Inoe Perbatasari
250px-Inoe_Perbatasari_Pertjatoeran_Doenia_June_1941_p24.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Inoe Perbatasari, 1941
Lahir
Raden Inoe Perbatasari

1899 (1899)
Meninggal18 Oktober 1954(1954-10-18) (umur 54–55)
PekerjaanAktor, Kru, Politikus
Masa aktif1930an-1954

Perbatasari, yang memiliki latar jurnalis dan pernah menjabat ketua surat kabar Oetoesan Indonesia dan Bintang Timoer,[1] aktif di dunia politik pada akhir 1920-an sebagai anggota Partai Nasional Indonesia, sebuah partai politik pribumi di Hindia Belanda.[2] Pada 1930-an, ia aktif di grup sandiwara Bolero yang dipimpin Andjar Asmara. Saat Andjar bergabung dengan Java Industrial Film milik The Teng Chun dan menjadi sutradara, Perbatasari menjadi salah satu anggota Bolero yang ikut merambah perfilman. Mereka tampil di film pertama buatan studio ini, Kartinah (1940). Film yang mengisahkan asmara antara seorang perawat dan atasannya ini[1] dibintangi Perbatasari yang memerankan paman tokoh Ratna Asmara.[3]

Tahun berikutnya, Perbatasari terlibat dalam tiga film. Selain peran kecil di Ratna Moetoe Manikam,[4] karya pertama yang disutradarainya adalah Elang Darat yang dirilis oleh Jacatra Pictures, anak perusahaan JIF.[1] Elang Darat adalah film detektif yang menceritakan seorang inspektur bernama Parlan yang menyelidiki bandit berjulukan "Elang Darat".[5] Film kedua Perbatasari, Poetri Rimba, mengisahkan seorang pemburu yang berusaha kabur dari kejaran penjahat.[6]

Setelah Kekaisaran Jepang menduduki Hindia Belanda tahun 1942, Perbatasari bekerja sama dengan pasukan Jepang dalam pembuatan film propaganda Hoedjan untuk studio Nippon Eigasha.[4][7] Ia juga bekerja di Pusat Budaya buatan Jepang di Jakarta.[8]

Perbatasari tercatat terlibat dalam tiga film setelah kemerdekaan Indonesia diakui tahun 1949.[4] Film pertama, Djiwa Pemuda, dirilis tahun 1951. Satu-satunya kontribusi Perbatasari bagi film ini adalah naskahnya. Film ini bercerita tentang dua mantan anggota gerilya Revolusi Nasional Indonesia yang memperebutkan hati seorang wanita.[9] Film kedua dan ketiga, Sekuntum Bunga Ditepi Danau (1952) dan Kembali ke Masjarakat (1954), bercerita tentang jalannya revolusi.[10][11]

Perbatasari meninggal di Rumah Sakit Cikini di Jakarta pada tanggal 18 Oktober 1954. Ia melakukan sebagian besar pekerjaan pasca-revolusi dengan Perusahaan Film Nasional, bekerja di bidang manajemen.[12]

Filmografi

Sepanjang kariernya, Perbatasari menyutradarai lima film (termasuk satu film pendek) dan ambil peran di dua film. Ia juga menulis skenario beberapa film.[4]

Aktor

  • Kartinah (1940)
  • Ratna Moetoe Manikam (1941)

Awak

  • Elang Darat (1941) – Sutradara dan penulis naskah
  • Poetri Rimba (1941) – Sutradara
  • Hoedjan (1944; film pendek) – Sutradara dan penulis naskah
  • Djiwa Pemuda (1951) – Penulis naskah
  • Sekuntum Bunga Ditepi Danau (1952) – Sutradara dan penulis naskah
  • Kembali ke Masjarakat (1954) – Sutradara

Referensi

Catatan kaki

  1. 1 2 3 Biran 2009, hlm. 214, 216.
  2. ↑ Bloembergen 2011, hlm. 366.
  3. ↑ Filmindonesia.or.id, Kartinah.
  4. 1 2 3 4 Filmindonesia.or.id, Filmografi.
  5. ↑ Filmindonesia.or.id, Elang Darat.
  6. ↑ Filmindonesia.or.id, Poetri Rimba.
  7. ↑ Biran 2009, hlm. 319, 332.
  8. ↑ Poesponegoro & Notosusanto 1993, hlm. 108.
  9. ↑ Filmindonesia.or.id, Djiwa Pemuda.
  10. ↑ Filmindonesia.or.id, Sekuntum Bunga.
  11. ↑ Filmindonesia.or.id, Kembali ke Masjarakat.
  12. ↑ "Historische Kranten - actualiteiten uit het verleden". archive.ph. 2013-06-24.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: layanan pengarsipan yang sudah usang (link)

Daftar pustaka

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan