Jumat, 09 Oktober 2026
15:44 WIB
TERKINI
Regional LPS Periksa Aset Debitur BPR Tripanca Setiadana di Lampung untuk Pemulihan Regional Bandar Lampung Meriahkan Acara Bersholawat, Eratkan Persaudaraan Umat Lampung Pesisir Lampung Waspada Banjir Rob, BMKG Ingatkan Pasang Maksimum 12-15 Oktober Hukum Pujianto Divonis 8 Bulan Penjara: Perdagangan Ajinomoto Palsu Merugikan Konsumen Lampung Lampung Diprediksi Cerah Berawan, Hujan Lokal Sambangi Beberapa Wilayah Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Regional LPS Periksa Aset Debitur BPR Tripanca Setiadana di Lampung untuk Pemulihan Regional Bandar Lampung Meriahkan Acara Bersholawat, Eratkan Persaudaraan Umat Lampung Pesisir Lampung Waspada Banjir Rob, BMKG Ingatkan Pasang Maksimum 12-15 Oktober Hukum Pujianto Divonis 8 Bulan Penjara: Perdagangan Ajinomoto Palsu Merugikan Konsumen Lampung Lampung Diprediksi Cerah Berawan, Hujan Lokal Sambangi Beberapa Wilayah Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP
Hutan kerdil

Hutan kerdil

Bagikan:
250px-Hamiguitan_bonsai_tree.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pohon "bonsai alami" di Taman Nasional Gunung Hamiguitan, Filipina yang merupakan salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO
250px-Mount_Kemiri_%288187817161%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Hutan kerdil di Taman Nasional Gunung Leuser

Hutan kerdil, hutan peri, atau hutan pigmi adalah ekosistem unik dengan pohon-pohon yang tumbuh kerdil, dan dihuni oleh spesies fauna kecil seperti hewan pengerat dan kadal. Hutan ini biasanya berada di dataran tinggi, yang memiliki kelembaban udara cukup tetapi kondisi tanahnya buruk. Terdapat dua jenis ekosistem hutan kerdil utama yang memiliki karakterisrik lingkungan dan spesies berbeda: hutan kerdil daerah tropis beriklim pantai, dan hutan kerdil pegunungan. Hutan kerdil pantai beriklim sedang banyak ditemukan di beberapa bagian California Selatan. Hutan tropis pegunungan ditemukan di dataran tinggi tropis Amerika Tengah, Amerika Selatan bagian utara dan Asia Tenggara. Terdapat hutan kerdil terisolasi lainnya yang bisa ditemui di seluruh belahan dunia. Sementara hutan kerdil terbesar ditemukan di Filipina.

Hutan kerdil tropis dataran tinggi

250px-IMG_5086_elfin_forest_%288247527043%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Hutan kerdil di Gunung Kemiri, Sumatra, pada ketinggian sekitar 3000 m

Dataran tinggi tropis di hutan awan berisi hutan kerdil basah yang berlumut akibat pengaruh curah hujan di dataran tinggi. Wilayah ini mempunyai curah hujan yang rendah, sebagian besar air berwujud embun dan kabut. Kadar Air bisanya akan meningkat pada malam hari, ketika awan bergerak dari laut melewati pegunungan, dan terhalang oleh vegetasi. Pada siang hari, tumbuhan cenderung kekurangan pasokan air, karena awan naik ke atas puncak gunung tanpa menjadi hujan.[1][2]

Hutan ini banyak ditumbuhi pohon-pohon kecil (5-8–m), dengan sistem perakaran yang dangkal, dan epifit yang melimpah.[2] Epifit membentuk sebagian besar kanopi, dan lebih melimpah daripada epifit yang ditemukan di hutan tropis lainnya.[3]

Hutan kerdil biasanya lebih banyak ditemukan di pegunungan yang terisolasi karena efek massenerhebung. Efek massenerhebung adalah fenomena di mana garis pepohonan biasanya lebih tinggi pada pegunungan yang dekat dengan pegunungan lain. Pegunungan di dekatnya memengaruhi kecepatan angin dan retensi panas, mengurangi efek negatif iklim. Ketika garis pepohonan lebih rendah di pegunungan yang terisolasi, efek iklimnya akan meningkat.[4]

Flora

Di dalam hutan kerdil pegunungan, hanya terdapat sedikit spesies, spesies tersebut menjadi spesies dominan dari keseluruhan populasi tumbuhan. Di hutan kerdil banyak ditemui tumbuhan rendah bercabang horizontal seperti semak, dan populasi padat lumut, lumut, lumut kerak dan lumut hati. Hal ini diakibatkan kecepatan angin yang tinggi, suhu rendah, dan cahaya matahari yang terhalang awan dan kabut membatasi pertumbuhan tanaman tinggi.[5] Kecepatan angin yang tinggi menjadi faktor penentu tinggi tumbuhan yang tumbuh di hutan kerdil, terutama di pegunungan dan lereng. Perawakan tumbuhan yang rendah akan meningkatkan stabilitas struktural tanaman.[3] Pohon yang terpapar angin menggunakan lebih banyak sumber dayanya untuk meningkatkan kekuatan daripada untuk pertumbuhan, dibandingkan dengan pohon yang tidak terpapar angin. Peningkatan fokus pada penguatan menyebabkan pertumbuhan batang dan ranting yang lebih tebal, yang meningkatkan kemampuan pohon untuk menahan tekanan angin yang lebih besar di dekat puncak punggung bukit, di mana sebagian besar pohon yang terpapar angin ditemukan.[6] Sebagian besar energi juga dialokasikan untuk menumbuhkan dan memelihara struktur akar yang berat dan ekstensif, yang selanjutnya memperkuat pohon dan meningkatkan ketahanannya terhadap angin kencang.[1]

Referensi

  1. 1 2 Cavelier, Jaime; Mejia, Carlos A. (November 1990). "Climatic factors and tree stature in the elfin cloud forest of Serrania de Macuira, Colombia". Agricultural and Forest Meteorology. 53 (1–2): 105–123. Bibcode:1990AgFM...53..105C. doi:10.1016/0168-1923(90)90127-R.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. 1 2 Cavelier, Jaime; Tanner, Edmund; Santamaría, Johanna (Januari 2000). "Effect of water, temperature and fertilizers on soil nitrogen net transformations and tree growth in an elfin cloud forest of Colombia". Journal of Tropical Ecology. 16 (1): 83–99. doi:10.1017/s0266467400001280. ISSN 0266-4674.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. 1 2 Nadkarni, Nalini M. (Desember 1984). "Epiphyte Biomass and Nutrient Capital of a Neotropical Elfin Forest". Biotropica. 16 (4): 249–256. doi:10.2307/2387932. JSTOR 2387932.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. ↑ Grubb, P.J. (1 Januari 1971). "Interpretation of the 'Massenerhebung' Effect on Tropical Mountains". Nature. 229 (5279): 44–45. Bibcode:1971Natur.229...44G. doi:10.1038/229044a0. PMID 16059069.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. ↑ Howard, Richard A. (1970). "The 'alpine' plants of the Antilles". Biotropica. 2 (1): 24–28. doi:10.2307/2989784. JSTOR 2989784.
  6. ↑ Lawton, Robert O. (September 1982). "Wind Stress and Elfin Stature in a Montane Rain Forest Tree: An Adaptive Explanation". American Journal of Botany. 69 (8): 1224–1230. doi:10.2307/2442746. JSTOR 2442746.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)

Pranala luar

Media terkait Elfin forests di Wikimedia Commons

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan