(2023) | |
| Biografi | |
|---|---|
| Kelahiran | 9 Mei 1953 Cirebon |
| Data pribadi | |
| Agama | Islam |
| Pendidikan | Universitas Al-Azhar Pondok Pesantren Lirboyo Universitas PTIQ Jakarta SMP Negeri 1 Arjawinangun |
| Kegiatan | |
| Pekerjaan | ulama,aktivis,penulis |
Husein Muhammad atau dikenal sebagai Kiai Husein/Buya Husein[1] (lahir 9 Mei 1953)[2] adalah tokoh agama Islam yang memiliki minat dan fokus pada kesetaraan gender dalam Islam.[2] Kiai Husein merupakan pengasuh Pondok Pesantren Dar Al-Fikr Cirebon dan pendiri sejumlah organisasi pergerakan perempuan, yaitu Yayasan Fahmina, Puan Amal Hayati, dan Rahima. Ia mendirikan ketiga organisasi tersebut pada 2001.[3]
Kehidupan awal
Kiai Husein lahir di keluarga pesantren di Arjawinangun, Cirebon. Ayahnya, Kiai Muhammad bin Asyarofuddin, terlahir bukan di kalangan pesantren tetapi memiliki pendidikan pesantren. Sedangkan ibunya, Nyai Ummu Salma Syatori, merupakan putri KH Syatori. KH Syatori adalah putra dari K.H. Sanawi bin Abdullah bin Muhammad Salabi yang merupakan pendiri Pondok Pesantren Dar at-Tauhid Arjawinangun, Cirebon.[2][4]
Pendidikan
Kiai Husein menyelesaikan pendidikan dasar di Sekolah Dasar dan Pendidikan Diniyah di Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun, Cirebon pada 1966. Kemudian, ia melanjutkan ke SMP Negeri 1 Arjawinangun dan lulus pada 1969. Selanjutnya, Kiai Husein memperdalam ilmu agama di Pondok Pesantren Lirboyo di Kediri, Jawa Timur, selama 3 tahun.[2]
Ia kemudian melanjutkan pendidikan sarjana di Institut PTIQ Jakarta. Di sana, Kiai Husein menyelesaikan hafalan Al-Qur’an pada 1980.[2] Setelah menyelesaikan S1, ia lalu melanjutkan kuliah di Universitas Al-Azhar di Mesir.[2]
Kehidupan pribadi
Kiai Husein menikah dengan Lilik Nihayah Fuad Amin dan memiliki lima orang putra dan putri.[4]
Kontroversi
Sebagai tokoh pemuka agama Islam yang memiliki pemikiran yang bertentangan dengan kebanyakan tokoh lainnya di daerahnya, terutama soal memperbolehkan perempuan menjadi imam salat dan sikapnya terhadap kaum LGBT. Ia telah menerima banyak respon negatif dan ditentang oleh kalangan kiai di pesantren-pesantren.[5]
Publikasi
- Perempuan, Islam, dan negara (Depok: IRCiSoD, 2022)
- Islam agama ramah perempuan (Depok: IRCiSoD, 2021)
- Menuju fiqh baru (Depok: IRCiSoD, 2020)
- Islam yang mencerahkan dan mencerdaskan (Depok: IRCiSoD, 2020)
- Poligami: sebuah kajian kritis kontemporer seorang kiai (Depok: IRCiSoD, 2020)
- Fiqh perempuan (Depok: IRCiSoD, 2019)
- Islam tradisional yang terus bergerak (Depok: IRCiSoD, 2019)
- Gus Dur dalam obrolan Gus Mus (Jakarta: Noura Books, 2015)
- Mencintai Tuhan mencintai kesetaraan (Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2014)
Referensi
- ↑ Faiz, Muhammad Fauzinudin (2023-11-29). Buya Husein dan Pembelaan Terhadap Kreativitas Nalar: Catatan untuk Dr. (HC). KH. Husein Muhammad (dalam bahasa Inggris). Yayasan Fahmina.
- 1 2 3 4 5 6 Hamim, Muhammad Faishol. "Jejak Pemikiran Feminisme Buya Husein Muhammad". NU Online. Diakses tanggal 2025-05-27.
- ↑ Kayan, Manggala (2024-09-13). "Mengenal Lebih Dekat KH Husein Muhammad : Latar Belakang Pemikirannya". Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah. Diakses tanggal 2025-05-27.
- 1 2 Alimta, Adyajeng Anzhilal Putri (2021-12-31). "Kesetaraan gender dalam Pendidikan Islam menurut K.H. Husein Muhammad". Repositori UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-08-17.
- ↑ Febriyanto (2019-11-24). "KH. Husein Muhammad, Perjalanan dalam Catatan • BangkitMedia". BangkitMedia. Diakses tanggal 2026-05-29.
Artikel bertopik biografi tokoh Islam ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya. |