Minggu, 04 Oktober 2026
01:20 WIB
TERKINI
Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan
Hipotesis Alvarez

Hipotesis Alvarez

Bagikan:
250px-LWA_with_Walt.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Luis (kiri) dan anaknya, Walter Alvarez (kanan), di Perbatasan Kapur-Paleogen di Gubbio, Italia, 1981.

Hipotesis Alvarez membayangkan bahwa peristiwa kepunahan massal dinosaurus non burung dan banyak organisme lainnya pada Peristiwa kepunahan Kapur–Paleogen terjadi karena peristiwa tumbukan sebuah asteroid besar di Bumi. Sebelum tahun 2013, umumnya peristiwa ini dikutip terjadi sekitar 65 juta tahun lalu, tetapi Renne et al. (2013) memberi estimasi waktu yang diperbarui, yaitu 66 juta tahun lalu.[1] Bukti menunjukkan bahwa asteroid ini jatuh di Semenanjung Yukatan, Chicxulub, Meksiko. Hipotesis ini dinamai setelah pasangan ayah-anak Luis dan Walter Alvarez, yang pertama menyarankan hipotesis ini pada 1980. Tak lama setelah itu, secara independen, hipotesa yang sama juga diusulkan oleh paleontolog Belanda Jan Smit.[2]

Pada Maret 2010, sekelompok ilmuwan dari seluruh dunia mendukung hipotesa ini sebagai alasan dari punahnya dinosaurus non burung dan organisme lainnya pada perbatasan K-Pg, dengan menunjuk Kawah Chicxulub sebagai lokasi mendaratnya asteroid. Sebuah tim yang terdiri dari 41 ilmuwan meninjau 20 tahun literatur ilmiah untuk membuktikan hipotesis ini, dan dalam prosesnya, mengesampingkan teori lain seperti vulkanisme. Mereka menentukan bahwa sebuah batu angkasa dengan diameter 10-15 km (sebagai perbandingan, Gunung Everest memiliki tinggi 9 km, sementara Phobos memiliki diameter 22 km) jatuh di Chicxulub, dan menghasilkan energi sebanyak 100.000.000 megaton TNT (4,2×1023 J).[3]

Proyek penggalian pada 2016 pada cincin puncak di kawah tersebut mendukung hipotesis ini lebih jauh, dan mengkonfirmasi berbagai jenis zat yang sebelumnya masih tidak jelas. Selain itu, proyek ini juga menemukan bahwa cincin puncaknya terdiri dari granit yang bukan merupakan batuan dasar laut, yang memiliki ciri terkena gaya kejut, meleleh dan terlempar ke permukaan dalam hitungan menit, beserta dengan bukti adanya pergerakan cepat dan hebat dari air laut yang diketahui dari deposit pasir. Sampel tanah dari area ini juga menunjukkan ketidakhadiran gipsum. Gipsum merupakan batuan yang mengandung sulfat, yang pasti akan menguap dan menyebar sebagai sebuah aerosol di atmosfer, memgkonfirmasi hubungan antara tumbukan ini dengan efek jangka panjangnya, yaitu pengaruhnya pada iklim dan rantai makanan global.

Referensi

  1. ↑ Renne, Paul R.; Deino, Alan L.; Hilgen, Frederik J.; Kuiper, Klaudia F.; Mark, Darren F.; Mitchell, William S.; Morgan, Leah E.; Mundil, Roland; Smit, Jan (7 Februari 2013). "Time Scales of Critical Events Around the Cretaceous-Paleogene Boundary". Science. 339 (6120): 684–687. Bibcode:2013Sci...339..684R. doi:10.1126/science.1230492. PMID 23393261. S2CID 6112274.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ Smit, J; Hertogen, J (22 Mei 1980). "An extraterrestrial event at the Cretaceous-Tertiary boundary". Nature. 285 (5762): 198–200. Bibcode:1980Natur.285..198S. doi:10.1038/285198a0. S2CID 4339429.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ Schulte, P.; et al. (2010). "The Chicxulub Asteroid Impact and Mass Extinction at the Cretaceous-Paleogene Boundary" (PDF). Science. 327 (5970): 1214–1218. Bibcode:2010Sci...327.1214S. doi:10.1126/science.1177265. PMID 20203042. S2CID 2659741.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan