Selasa, 29 September 2026
08:59 WIB
TERKINI
Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang Internasional Profesor Biao Xiang: Idola Gen Z China yang Berani Bahas Kecemasan Hidup Berita Pelaku Injak Al-Qur'an di Lebak Divonis Penjara, Wajib Minta Maaf Publik Berita Dilema Ganjil Genap Jakarta: Evaluasi Setelah 1 Dekade, Relaksasi Jadi Perdebatan Berita Evakuasi Buaya Peliharaan di Bandar Lampung Penuh Haru, Pemilik Sempat Pingsan Berita Polemik Buku 'Memburu Muhammad': Penulis dan Tokoh Islam Jelaskan Niat Baik Regional Flyover Ciroyom Bandung Rampung, Solusi Baru Atasi Kemacetan Kota Regional Informasi Persiapan Vihara Jelang Imlek Belum Tersedia Regional Wujudkan Rumah Impian: Pendaftaran KPR Kini dalam Genggaman dengan BTN Mobile Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang Internasional Profesor Biao Xiang: Idola Gen Z China yang Berani Bahas Kecemasan Hidup Berita Pelaku Injak Al-Qur'an di Lebak Divonis Penjara, Wajib Minta Maaf Publik Berita Dilema Ganjil Genap Jakarta: Evaluasi Setelah 1 Dekade, Relaksasi Jadi Perdebatan Berita Evakuasi Buaya Peliharaan di Bandar Lampung Penuh Haru, Pemilik Sempat Pingsan Berita Polemik Buku 'Memburu Muhammad': Penulis dan Tokoh Islam Jelaskan Niat Baik Regional Flyover Ciroyom Bandung Rampung, Solusi Baru Atasi Kemacetan Kota Regional Informasi Persiapan Vihara Jelang Imlek Belum Tersedia Regional Wujudkan Rumah Impian: Pendaftaran KPR Kini dalam Genggaman dengan BTN Mobile Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto

Hiperakusis

Hiperakusis
SpesialisasiPsikiatri, Neurologi, Otolaringologi

Hiperakusis adalah sebuah gangguan pendengaran yang membuat seseorang menjadi terlampau peka terhadap suara-suara tertentu. Mereka menjadi tidak tahan dengan suara yang dianggap normal dalam kehidupan sehari-hari, dan bagi mereka suara-suara itu terdengar sangat keras atau bahkan menyakitkan telinga.[1][2] Hiperakusis dapat menyerang salah satu atau kedua telinga.[3] Hiperakusis dapat terjadi secara bersamaan dengan tinitus. Selain itu, hiperakusis bisa mengakibatkan rasa cemas, stres, dan fonofobia.

Penyebab hiperakusis yang paling umum adalah terlalu sering mendengar suara dengan desibel yang terlampau tinggi.[1]

Referensi

  1. 1 2 Tyler RS, Pienkowski M, Roncancio ER, Jun HJ, Brozoski T, Dauman N, Dauman N, Andersson G, Keiner AJ, Cacace AT, Martin N, Moore BC (Desember 2014). "A review of hyperacusis and future directions: part I. Definitions and manifestations" (PDF). American Journal of Audiology. 23 (4): 402–19. doi:10.1044/2014_AJA-14-0010. PMID 25104073. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2017-06-27. Diakses tanggal 2018-09-28.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ Pienkowski M, Tyler RS, Roncancio ER, Jun HJ, Brozoski T, Dauman N, Coelho CB, Andersson G, Keiner AJ, Cacace AT, Martin N, Moore BC (Desember 2014). "A review of hyperacusis and future directions: part II. Measurement, mechanisms, and treatment" (PDF). American Journal of Audiology. 23 (4): 420–36. doi:10.1044/2014_AJA-13-0037. PMID 25478787. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2018-04-09. Diakses tanggal 2018-09-28.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ "Hyperacusis: An Increased Sensitivity to Everyday Sounds". American Academy of Otolaryngology–Head and Neck Surgery (dalam bahasa Inggris). 21 April 2014. Diarsipkan dari asli tanggal 2018-09-23. Diakses tanggal 2018-09-28.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)

Bacaan lanjut


Ikon rintisan

Artikel bertopik kedokteran atau medis ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan